Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
121


__ADS_3

"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Dita saat mobil mereka sudah melaju membelah jalanan.


"Kejutan dong, Sayang," jawab Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.


"Mas, sudah reservasi tempat ya?" Dita menoleh pada suaminya yang sedang menyetir.


Rendra tersenyum tanpa menjawab istrinya.


"Kok diam, Mas. Pasti udah ya," tebak Dita.


"Iya, sudah, Sayang." Rendra meraih tangan kanan Dita lalu menciumnya.


"Mas ih, fokus nyetir aja. Jangan gini." Dita mencoba menarik tangannya yang dipegang Rendra.


"Enggak apa-apa, Sayang. Aku kan santai nyetirnya."


"Kenapa kita enggak pakai motor aja sih, Mas?"


"Lagi pengen aja bawa mobil. Kalau bawa motor enggak bisa sambil dengar musik gini, Sayang. Kenapa? Sayang, enggak suka ya pakai mobil? Enggak bisa peluk aku dari belakang?"


Dita berdecak, selalu saja Rendra menggodanya. Dia akhirnya diam tanpa menanggapi, melihat suasana jalanan di depannya dan mendengarkan musik yang mengalun dari radio.


Setelah 20 menit berlalu, mereka tiba di tempat yang dituju. Usai Rendra memarkirkan mobil, dia melepas seatbelt-nya. Kemudian melepas seatbelt istrinya.


"Makasih, Mas. Tapi aku bisa loh lepas sendiri."


"Enggak apa-apa. Biar, Sayang, tinggal turun aja dari mobil. Tapi jangan turun dulu, tunggu aku bukain pintunya."


"Aku bisa buka sendiri, Mas."


"No. Let me do that, My Love." Rendra bergegas keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Dita.


"Thank you, Mas," kata Dita saat Rendra membukakan pintu untuknya.


"My pleasure, My Love."


Setelah menutup pintu dan mengunci mobil, Rendra menggandeng Dita masuk ke dalam restoran.


"Selamat malam, Pak, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang staf restoran dengan ramah.


"Saya sudah reservasi atas nama Narendra."


"Baik, saya cek dulu, Pak." Staf restoran itu melihat daftar nama tamu yang sudah melakukan reservasi.


"Maaf, boleh tahu nama lengkap, Bapak?" tanyanya dengan sopan.


"Narendra Daneswara."


"Saya akan mengantar ke ruangan Bapak. Mari ikuti saya, Pak, Bu." Staf itu berjalan memimpin di depan mereka menuju tempat yang dipesan Rendra.


"Ini ruangannya, Pak, Bu. Silakan masuk."


Rendra dan Dita kemudian masuk ke ruangan itu dan duduk di sofa.


"Maaf, Pak, Bu, mau langsung pesan sekarang atau nanti?"


"Gimana, Sayang?" Rendra minta pendapat Dita.


"Langsung pesan saja, Mas. Kasihan Mbaknya kalau nanti bolak balik."


"Kami langsung pesan saja, Mbak. Menu yang spesial di sini apa ya?" tanya Rendra sambil membuka-buka buku menu.

__ADS_1


Staf tadi lalu menjelaskan menu spesial dan andalan restoran mereka. Dia kemudian mencatat semua menu yang dipesan Rendra dan Dita.


"Apa ada lagi, Pak, Bu?"


Rendra menoleh pada Dita.


"Sementara sudah cukup, Mbak," jawab Dita.


"Baik. Saya ulangi lagi pesanannya." Staf itu menyebutkan satu per satu menu yang dipesan.


"Iya, sudah benar, Mbak," sahut Dita.


"Mohon ditunggu, Pak, Bu. Saya permisi dulu," pamit staf itu dengan sopan.


"Terima kasih, Mbak."


Mereka ada di satu ruangan tertutup yang menghadap ke arah luar dengan pemandangan taman. Meski mereka bisa melihat ke luar, tetapi yang dari luar tidak bisa melihat ke dalam. Mereka duduk bersebelahan di sofa. Rendra merangkul bahu istrinya.


"Mas, kenapa pesan private room?"


"Aku kan sudah bilang ingin berduaan sama kamu, Sayang."


"Ya kan enggak gini juga, Mas. Toh kita enggak kenal juga sama pengunjung lainnya."


"Siapa tahu ada satu atau dua orang pengunjung yang kenal, Sayang. Mengantisipasi saja karena aku benar-benar ingin menikmati waktu berdua tanpa ada yang mengganggu." Rendra mengecup kening Dita.


"Mas, sebenarnya kenapa sih? Aku tahu Mas pasti ingin ngomong sesuatu yang serius sampai ngajak keluar gini. Mana pesan private room lagi." Dita duduk menghadap Rendra, dia mengelus rahang kokoh suaminya.


Rendra tersenyum. "Curiga terus sih, Sayang." Dia mencubit gemas pucuk hidung istrinya.


"Sayang, ini memang paling mengerti aku. Sebenarnya memang ada yang mau aku omongin," jujur Rendra.


"Tadi aku ditawari beasiswa S2 di Jepang, Sayang," jawab Rendra sambil menatap Dita, menunggu reaksinya.


"Wah, alhamdulillah. Terus Mas sudah terima?"


Rendra menggeleng. "Aku belum memberi keputusan, Sayang. Aku bilang mau diskusi dulu dengan keluarga."


"Aku setuju kalau Mas ambil. Tidak semua orang bisa dapat kesempatan, Mas. Dan ini kesempatan emas, sayang kalau dilewatkan."


Rendra mendesah. "Tapi aku enggak bisa ninggalin mama, Sayang."


"Kok mama? Berarti Mas bisa ninggalin aku?" Dita mulai cemberut.


"Jangan cemberut gitu, nanti aku cium loh. Mau?"


"Mas ih, malah bercanda." Dita semakin mengerucutkan bibirnya.


Rendra tersenyum lalu mengelus kepala istrinya penuh rasa sayang. "Jangan salah paham, Sayang. Mana mungkin aku bisa ninggalin kamu. Sehari enggak di dekatmu saja aku enggak bisa, apalagi dua tahun."


"Tadi Mas bilang enggak bisa ninggalin mama."


"Dengarkan dulu jangan dipotong ya, Sayang." Rendra kembali mengelus kepala istrinya.


"Ke mana pun aku pergi pasti akan mengajak, Sayang. Aku enggak akan meninggalkanmu sendiri di sini. Seandainya aku ke Jepang kan tidak mungkin juga mengajak mama tinggal di sana. Maksudku begitu tadi. Sudah enggak ngambek kan."


Dita mengangguk, dia tersenyum malu karena sudah salah paham.


"Aku tuh cinta dan sayang banget sama kamu, Sayang. Aku enggak akan sanggup jauh dari kamu." Rendra memegang dahu Dita, mengarahkan istrinya agar menatapnya.


"Mana mungkin istri cantik dan salihah ini aku tinggalkan. Dapatinnya aja susah dan enggak ada duanya di dunia," ujarnya seraya menangkup wajah istrinya.

__ADS_1


"Insya Allah, aku enggak akan meninggalkan kamu, kecuali maut yang memisahkan kita. I love you. Really, really love you." Rendra mengecup kening Dita lalu memeluknya erat.


Tok ... tok ....


Pintu ruangan terbuka, dua orang pramusaji membawa masuk pesanan mereka. Satu per satu disajikan di atas meja. Setelah semua tersaji, salah seorang pramusaji menyebutkan semua pesanannya. Setelah dikonfirmasi sesuai, mereka ke luar dari ruangan itu.


"Ayo, kita makan sambil ngobrol, Sayang. Jangan lupa berdoa dulu." Rendra sudah mengurai pelukannya saat pintu ruangan mereka tadi diketuk.


Setelah berdoa, mereka mulai menikmati hidangan yang tersaji di meja.


"Mas, kenapa enggak bisa ninggalin mama? Tadi Mas belum menjelaskan."


"Aku kan sudah berjanji pada diriku sendiri kalau akan menjaga mama sampai nanti. Sayang, kan sudah tahu soal ini juga."


Dita mengangguk sambil terus menikmati makanannya.


"PKL dan KKN saja, aku sudah pilih yang dekat biar enggak jauh dari mama. Aku juga enggak bisa jauh dari mama, apalagi meninggalkannya selama dua tahun. Enggak ada pria di rumah yang akan jaga mama, Kak Shasha dan Nisa. Enggak, aku enggak bisa." Berulang kali Rendra menggelengkan kepalanya.


"Kalau mama tahu soal ini pasti mama enggak akan setuju, Mas. Mama pasti akan menyuruh Mas menerima beasiswa ini. Hmmm, aku tahu Mas ajak aku keluar biar mama enggak mendengarnya kan?"


Rendra mengangguk.


"Kalau seumpama, Mas, jadi terima beasiswa ini, kira-kira berangkatnya kapan?"


"Tahun depan mungkin. Aku kan wisuda paling cepat Agustus kalau enggak November, Sayang."


"Terus nanti kuliahku bagaimana?"


"Cuti lah. Atau mau kuliah lagi di sana?"


"Mahal loh, Mas, kalau biaya sendiri."


"Insya Allah uang bisa kita cari, Sayang."


"Aku enggak mau."


"Sayang, enggak mau ke Jepang?"


"Bukan. Aku enggak mau kalau kuliah di sana dengan biaya sendiri."


"Oh, aku pikir enggak mau ke Jepang. Aku akan langsung tolak beasiswanya kalau begitu. Aku ambil beasiswa S2 di sini aja biar tetap bisa jaga mama dan Sayang juga enggak perlu cuti kuliah."


"Eh, enggak boleh begitu, Mas. Ini kesempatan bagus. Sebaiknya Mas bilang sama mama. Mas juga istikharah dulu."


"Nanti aku pikirkan lagi, Sayang."


"Apa yang akan dipikirkan lagi, Mas? Kalau soal kuliahku, aku enggak masalah kalau harus cuti. Sampai kapan Mas harus memberi jawaban?"


"Sampai akhir bulan ini," Rendra mendesah.


"Masih ada waktu untuk Istikharah, Mas. Aku akan selalu mendukung apa pun yang Mas putuskan. Kalau pun nanti kita harus ke Jepang, insya Allah aku siap mendampingi, Mas."


"Terima kasih, Sayang."


...---oOo---...


Jogja, 200521 06.00


Insya Allah, satu bab lagi selesai.


Jangan lupa jempol atau like-nya setelah membaca. Terima kasih šŸ™šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2