
“Bro, nanti selesai kuliah gue tunggu di kafe ya, ada yang mau gue omongin sama lo.” Kata Rendra pada Bara saat mereka sedang di ruang kuliah menunggu Pak Putra yang akan mengajar mata kuliah Struktur Beton Bertulang I.
“Soal apa Bro?” Tanya Bara penasaran.
“Ada lah sesuatu, gue enggak bisa ngomong sekarang, apalagi di sini.” Jawab Rendra misterius.
“Kayanya serius banget ya?” Bara menautkan alisnya.
“Hhmm ...,” gumam Rendra.
“Bikin penasaran aja lo,” gerutu Bara, tapi Rendra bergeming tetap pada pendiriannya.
“Lo kenapa sih, jadi aneh gini?” Protes Bara.
“Gue enggak apa-apa,” sahut Rendra datar.
“Gue enggak percaya, lo pasti ada apa-apa deh.” Bara menatap Rendra curiga.
“Lo lagi ada masalah?” Tebak Bara.
“Iya, masalah gue hari ini lo cerewet banget.”
Bara mencebik, “sialan lo.”
Rendra tertawa melihat Bara yang sewot.
Hari ini mereka hanya mengikuti dua mata kuliah tanpa praktek studio atau pun praktikum. Begitu kuliah selesai Rendra langsung menuju ke kafenya, sementara Bara akan menyusulnya nanti setelah bertemu dengan teman band-nya karena akhir pekan ini mereka ada undangan untuk menyanyi di sebuah acara.
Sesampainya di kafe, dia menyapa Candra yang sedang masuk shift pertama. “Piye kabare, Mas (Gimana kabarnya, Mas)?”
“Apik, Mas. Wes suwe ora mrene lagi sibuk ya, Mas (Baik, Mas. Sudah lama enggak ke sini lagi sibuk ya, Mas)?”
“Iyo iki (Iya nih).”
“Sibuk ro yange ya, Mas (Sibuk sama pacarnya ya, Mas).” Tebak Candra asal.
“Aku ki ora duwe yang (Aku itu enggak punya pacar).”
“Mosok to, Mas, tapi aurane Mas Rendra ki saiki bedo, ketok luweh piye ngono (Masa sih Mas, tapi auranya Mas Rendra sekarang beda, kelihatan lebih gimana gitu).” Ungkap Candra.
“Hahaha ... iso wae loh Mas Candra kie (Bisa aja Mas Candra ini).” Rendra tertawa kecil.
“Mbok yange dijak mrene, Mas, dikenalke (Pacarnya diajak ke sini, Mas, dikenalkan).”
“Sing nduwe yang ki yo sopo? Sesuk wae sekalian tak kenalke calon bojoku (Yang punya pacar itu siapa? Besok saja sekalian aku kenalkan calon istriku).”
“Woh malah wes duwe calon bojo to Mas ora ming pacar, Mas Rendra ki pancen josss (Wah malah sudah calon istri ya Mas tidak hanya pacar, Mas Rendra memang hebat).”
Rendra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena Candra sudah salah paham dengan kata-katanya.
“Wes ... wes ... malah ngelantur iki. Piye, rame to, Mas (Sudah ... sudah ... kok malah melantur. Gimana rame kan Mas, kafenya)?”
“Alhamdulillah rame terus Mas, opo meneh nek sore bar do balek kerjo kae (ramai terus Mas, apalagi kalau setelah jam pulang kerja).”
“Alhamdulillah. Yo wes aku tak munggah disik, mengko nek ono kancaku sek jenenge Bara dikon langsung munggah ya (Ya sudah aku naik dulu, nanti kalau ada temanku yang namanya Bara langsung disuruh naik ya).”
“Mas Bara sek ngganteng, putih, kuru, duwur kae, Mas (Mas Bara yang ganteng, putih, kurus, tinggi itu, Mas)?”
“Iyo, wes reti to (Iya, sudah tahu kan)?”
“Yo wes lah yo kerep dolan rene (Ya tahu, kan sering main ke sini).”
“Sip.” Rendra mengacungkan jempolnya.
“Oya Mas, nek mejone Mas Rendra ono proposal ro katalog, kapan kae ono sek arep nyetori roti-roti ngono terus tak kon gawa proposal ro katalog produk e (Di meja Mas Rendra ada proposal dan katalog, kapan itu ada yang mau memasukkan rotinya ke sini lalu aku suruh bawa proposal dan katalog produknya).”
__ADS_1
“Oke, mengko tak deloke. Aku tak munggah sek (Oke, nanti aku lihat. Aku naik dulu).”
“Siap, Mas.”
Rendra lalu naik ke lantai 2. Osu kafe memang terdiri dari 2 lantai, tetapi yang dipakai untuk kafe masih lantai 1. Lantai 2 digunakan untuk kantor, ruang istirahat karyawan dan juga gudang persediaan. Dia memang juga berencana memakai lantai 2 saat nanti mengekspansi kafenya menjadi kafe, resto dan bakery, tetapi dia baru mematangkan konsepnya dan juga berkonsultasi pada yang lebih berpengalaman.
Rendra masuk ke ruangan yang bertuliskan Office di pintu. Di sana ada satu sofa panjang dan satu sofa single untuk menerima tamu, juga ada rak yang berisi buku-buku dan majalah tentang kopi. Tentu juga ada meja kerja dengan laptop di atasnya dan kursi kerja di dalam ruangan itu. Di dinding tertempel beberapa sertifikat pelatihan kopi yang pernah Rendra ikuti dan beberapa piagam penghargaan.
Dia meletakkan ransel dan jaket kulitnya di gantungan baju yang ada di belakang meja kerja, lalu duduk di kursi. Pertama-tama dia menyalakan laptop, kemudian memeriksa dan membaca berkas-berkas yang ada di atas meja termasuk proposal yang tadi dikatakan Candra.
Di kafenya ini memang belum banyak punya makanan pendamping kopi, baru kacang mete, roti tawar yang dipanggang dengan aneka toping dan selai, wafer stick serta garlic bread. Mungkin penawaran ini akan dia pertimbangkan, nanti proposal dan katalognya akan dia bawa pulang dan tunjukkan pada Mamanya agar bisa memberi masukan.
Setelah itu dia mengecek laporan penjualan, persediaan bahan, biaya dan lain-lain di laptopnya. Semua laporan memang sudah bisa dicek secara online karena dia menggunakan aplikasi berbayar untuk mengelola kafenya, termasuk juga laporan keuangannya. Saat dia sedang serius memperhatikan layar laptop terdengar suara ketukan di pintu.
“Ya, masuk.” Sahutnya.
Tak lama pintu terbuka, lalu tampak kepala Bara menyembul dari balik pintu. “Lagi sibuk, Bro?” Tanyanya.
“Enggak, ini cuma ngecek laporan aja. Masuk, duduk dulu, Bro.” Rendra berdiri dari kursinya lalu berjalan menghampiri Bara.
“Udah pesan minum belum tadi?” Tanyanya.
“Belum,” jawab Bara.
“Mau minum apa? Karena tamu spesial gue akan buatkan sendiri.” Tawar Rendra.
“Wah kehormatan ini dibuatkan sama owner kafe. Ice americano aja, Bro.”
“Siap, sama apa camilannya?”
“Enggak usah, gue barusan makan tadi sama anak-anak.”
“Oke, lo duduk dulu, gue ke bawah bentar.” Rendra lalu keluar dari ruangannya dan turun ke lantai 1 untuk membuatkan Bara kopi.
Rendra menuju mesin espresso, dia mengekstrak biji kopi murni dengan mesin espresso. Setelah itu dia menuang air dingin ke dalam gelas yang berisi es batu, lalu menambahkan 2 shot (cangkir kecil) espresso ke dalam gelas. Dia membuat dua gelas ice americano, satu untuk Bara dan satu untuknya sendiri.
“Siap, Mas.” Sahut Candra.
Rendra meletakkan 2 gelas ice americano di atas meja tamu di ruangannya, satu di depan Bara dan satu di depannya.
“Diminum dulu Bro biar adem, tadi panas kan di luar.”
Bara mengangguk lalu mulai menyesap kopinya. “Wah buatan owner emang beda, josss tenan (nikmat banget).” Seloroh Bara sambil mengacungkan jempolnya yang diikuti tawa Rendra.
“Bro, gue mau buat pengakuan sama lo.” Ucap Rendra yang tiba-tiba membuat suasana menjadi serius.
Bara menoleh pada Rendra, keningnya mengerut. “Pengakuan apa, Bro?”
“Gue selama ini beberapa kali ketemu sama Dita tanpa lo.”
Ekspresi wajah Bara yang semula ceria langsung merubah menjadi kaku, rahangnya mengeras dan wajahnya memerah. Dia menatap tajam Rendra yang membuat mereka saling bertatapan.
“Gue minta maaf karena baru cerita sekarang. Gue enggak mau ada salah paham kalau suatu saat lo dengar dari orang lain soal ini.”
“Gue sebenarnya bertetangga sama Dita. Rumahnya di sebelah rumah gue, dan gue baru tahu setelah dia sama kakaknya datang ke rumah, memperkenalkan diri ke tetangga karena mereka baru pindah. Saat itu ya lo tahu sendiri kami selalu bertengkar tiap ketemu.”
“Gue juga dua kali pulang bareng sama Dita. Yang pertama karena hp-nya mati kehabisan baterai jadi dia tidak bisa pesan ojol. Kakaknya telepon minta gue pulang bareng Dita. Yang kedua kemarin, kalau ini gue yang inisiatif ngajak dia pulang bareng karena sudah seminggu gue enggak lihat dia."
Bara semakin mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosinya.
"Gue mungkin termakan omongan gue sendiri, gue pernah bilang enggak tertarik sama dia. Tapi, akhir-akhir ini, entah sejak kapan, Dita selalu saja ada di pikiran gue. Dan gue yakin lo pasti penasaran sama kejadian di kantin tempo hari. Entah kenapa gue selalu pengen menjaga dia, diam-diam memperhatikannya dan gue merasa nyaman dan bahagia saat dia ada di dekat gue."
Bukkkkkk!
"Berengsek, lo." Bara memukul keras sofa yang didudukinya.
__ADS_1
Rendra terkejut dengan tindakan Bara, dia tahu dari tadi sahabatnya itu sudah menahan emosi. Akhirnya Bara lepas kendali meski hanya memukul sofa, bukan dirinya. Dia dari awal sudah pasrah bila Bara sampai memukulnya atau menghajarnya, dia tidak akan melawan.
"Lo boleh pukul atau hajar gue karena gue udah jadi pengecut dan enggak konsisten sama omongan gue."
"Shit! Berengsek! Kenapa harus lo?" Bara menarik kerah kemeja Rendra dengan dua tangannya tetapi Rendra tetap diam tak bereaksi, dia menatap Bara dengan rasa bersalah.
Bara mengacak kasar rambutnya setelah melepas cengkramannya pada kerah kemeja Rendra. Dia mengumpat berulang kali, sementara Rendra hanya diam memandangnya.
"Kenapa lo harus suka sama Dita sekarang saat gue udah benar-benar cinta sama Dita. Shit!!!!"
"Maaf, gue enggak bisa mengendalikan hati dan perasaan gue." Ucap Rendra.
"Gue bisa saja menutupi perasaan gue dan enggak jujur sama lo. Tapi gue yakin suatu saat lo akan sadar, dan lo pasti akan lebih marah lagi sama gue. Gue enggak mau persahabatan kita hancur karena cewek."
"Karena itu hari ini gue jujur sama lo, semakin cepat lo tahu semakin baik. Meski lo pasti marah sama gue, hajar gue, semuanya gue terima."
Bara memejamkan mata, dia menyandarkan badannya di punggung sofa sambil mengatur napasnya agar lebih tenang. Cukup lama dia menenangkan diri dan mencoba berpikir jernih. Semuanya terasa mendadak untuknya. Sahabatnya sendiri juga mencintai Dita. "Berengsek!!!"
Setelah Bara cukup tenang dan bisa berpikir jernih, dia membuka mata lalu meminum ice americano-nya untuk membasahi tenggorokannya dan berharap bisa mendinginkan hati dan pikirannya.
"Gue sebenarnya memang menunggu lo jujur sama gue." Ucap Bara sambil menatap mata Rendra.
"Beberapa kali gue lihat lo sama Dita tapi gue diam saja dan tidak mau berprasangka buruk ... ehmmm no, mungkin lebih tepatnya takut memikirkan hal yang bisa bikin gue kecewa dan sakit hati."
Rendra terkejut mendengar penuturan Bara.
"Lo pasti enggak nyangka kan gue tahu. Gue juga dengar selentingan saat lo pulang berboncengan sama cewek. Gue pikir itu Adelia, setelah gue tanya dia ternyata bukan. Dan kemarin gue lihat sendiri lo sama Dita berboncengan, jadi gue bisa ambil kesimpulan kemungkinan Dita juga yang dulu sama lo."
"Gue pernah lihat lo habis ketemu sama Dita di koridor kampus yang sepi, dan semua perhatian lo sama dia di kantin itu cukup untuk membuat kesimpulan kalau ada sesuatu di antara lo berdua. Tapi gue enggak berani tanya langsung karena gue takut jawabannya enggak bikin gue happy."
"Jujur, gue salut lo mau jujur sama gue tanpa gue harus minta penjelasan dulu. Gue maafin lo, tapi kita ini tetap rival buat dapetin hati Dita." Bara tersenyum pada Rendra.
"Gue sebenarnya bisa egois. Gua bisa minta syarat untuk maafin lo kalau lo mundur dari Dita, tapi gue enggak mau. Gue menghargai persahabatan kita dan perasaan lo. Karena gue tahu kita tidak bisa mengatur hati kita untuk jatuh cinta sama siapa."
"Gue juga mau buat pengakuan, Bro." Ucap Bara yang membuat Rendra terhenyak dan melebarkan matanya.
"Awalnya niat gue mendekati Dita buat manasin lo biar lo sadar sama perasaan lo. Tetapi ternyata semakin ke sini, semakin kenal Dita membuat perasaan gue yang semula sekedar suka dan penasaran saja jadi benar-benar cinta. Dan gue sadar, Dita memasang tembok pertahanan yang kuat banget dan susah buat gue tembus." Bara tersenyum kecut.
"Kayanya mulai malam ini gue harus bangun di sepertiga malam." Gumam Bara.
"Untuk apa?" Tanya Rendra penasaran.
"Ya salat Tahajud lah, gua mau berdoa biar Dita bisa membuka hatinya buat gue." Jawab Bara sambil tersenyum lebar.
"Oh ... gue kira mau apaan."
"Lo enggak tahu ya, sekarang kan sedang tren menikung di sepertiga malam." Seloroh Bara.
"Jadi kita udah clear ya, dan kita tetap sahabat?" Tanya Rendra memastikan.
"Best friend forever (Sahabat baik selamanya)." Jawab Bara sambil melakukan jabat tangan ala mereka.
"Dan rival untuk mendapatkan cinta Dita." Lanjut Bara yang membuat mereka berdua tertawa bersama.
...※※※※※...
Catatan:
Garlic bread adalah roti bawang putih yang terdiri dari roti yang atasnya diberi bawang putih dan minyak zaitun atau mentega, dan ada tambahan dedaunan, seperti chives, rosemary, basil, thyme. Makanan tersebut dimasak dengan cara dipanggang atau digoreng, atau dikukus dengan cara konvensional atau pemanggang roti.
...💕💕💕💕💕...
Maaf ya tidak up selama 2 hari karena kesibukan di real life. Semoga up yang agak panjang ini bisa sedikit mengobati kerinduan pada kisah Rendra - Dita - Bara. Eh ada yang rindu enggak sih? Jangan-jangan saya aja yang ge er 😅😅😅
Terima kasih yang sudah memfavorit, menyukai, memberi komentar dan memberi vote, laaffff you pullll 🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa tetap jaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan ya 😊😊😊