Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
25


__ADS_3

Sebagai penanggung jawab acara seminar nasional yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu, Rendra merasakan lega dan bahagia yang luar biasa karena acaranya berjalan dengan sukses. Banyak mahasiswa dan masyarakat umum yang hadir dan antusias mengikuti jalannya seminar, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang ditujukan pada para narasumber sampai acara yang harusnya selesai pukul 12.30 mundur menjadi pukul 13.30. Untung saja para narasumber berbaik hati memberikan perpanjangan waktu untuk sesi tanya jawab. Dia sampai tidak enak hati dan memohon maaf setelah selesai acara pada para narasumber karena hal tersebut.


Rendra baru saja selesai mengikuti rapat penyampaian LPJ sekaligus pembubaran panitia seminar nasional. Setelah beberapa minggu terakhir dia berkutat dengan berbagai rapat dan kegiatan persiapan seminar di sela kuliah, mengerjakan tugas dan praktikum, saat ini dia bisa bernapas lega. Dia bisa mulai fokus kuliah dan mengurus kafenya yang lama tidak dia datangi karena selama ini dia hanya menerima laporan dan memantaunya secara online. Dan mungkin juga ini saatnya dia mencari tahu perasaannya pada Dita.


Ah ... ya Dita, bagaimana kabarnya gadis itu sekarang? Sudah sekitar satu minggu dia tidak melihatnya. Meski mereka bertetangga dan kuliah di fakultas yang sama, tidak membuatnya bisa setiap saat bertemu. Dia hanya bisa mendengar kabar soal gadis itu dari Bara saat mereka bertemu di kelas mengikuti kuliah. Sahabatnya itu memang masih terus berusaha mendekati Dita dengan dalih pertemanan.


Apa dia harus bersikap agresif juga seperti Bara? Dia menggelengkan kepala berulang kali, jelas itu bukan gayanya. Untuk saat ini dia hanya berharap semoga semesta mendukungnya, bisa mempertemukannya dengan Dita. Dia sangat tidak punya alasan untuk bertemu dengan gadis itu. Apalagi dia sama sekali tidak punya kontak Dita, meskipun sebenarnya dia bisa memintanya dari Mas Adi, tetapi Rendra tidak mau karena dia juga masih ragu dengan perasaannya.


Rendra melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dia melangkah keluar dari Sekretariat BEM KM setelah berpamitan dengan teman-temannya yang masih ada di sana. Usai mengambil motor yang terparkir di depan sekretariat, dia lalu melajukannya menuju ke fakultas teknik.


Rendra mungkin sedang mencoba peruntungannya kali ini, karena sebenarnya dia sudah tidak ada jam kuliah atau praktikum lagi nanti. Ya, tujuannya kembali ke sana untuk bertemu dengan seseorang yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya.


Begitu sampai di FT, Rendra memarkirkan motor kesayangannya di area parkir yang masih kosong. Setelah melepaskan helm, dia turun dari motor lalu beranjak ke kantin. Selain tadi belum makan siang, kantin adalah tempat terbaik untuk menunggu, karena itu dia pergi ke sana.


Usai memesan makanan, Rendra mencari tempat yang strategis, yang bisa melihat dengan leluasa siapa saja yang berjalan di dekat kantin. Untungnya jam makan siang telah lewat jadi sudah tidak banyak orang yang di sana, dan dia bisa langsung menemukan tempat yang dia cari.


Biasanya saat makan dia tidak akan memedulikan keadaan di sekitarnya dan hanya fokus pada makanannya, tetapi kali ini matanya nyalang memerhatikan keadaan di luar kantin.


"Hai Ren, sendirian aja lo?" Sapa seorang temannya yang baru datang ke kantin.


"Eh ... lo Yud. Iya nih sendirian aja." Balas Rendra yang sempat terkejut karena sapaan temannya itu.


"Bara ke mana?" Tanya Yudha heran karena biasanya Rendra dan Bara selalu bersama ke mana-mana.


"Enggak tahu, gue baru datang ini. Langsung ke sini karena kelaparan." Seloroh Rendra.


"Oh ... gue kira kalian baru berantem." Canda Yudha.


"Kaya anak kecil aja berantem." Sahut Rendra sambil tertawa kecil.


"Gue boleh duduk sini? Biar lo ada temannya enggak kelihatan kaya jones gitu."


"Sialan lo, bilang aja lo nyari teman makan. Lagian gue juga bukan jones."


Yudha lalu duduk di depan Rendra. Mereka berbicara tentang kuliah dan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan sambil makan.


Sampai pukul 15.30 WIB Rendra tidak menemukan sosok yang dia tunggu. Akhirnya dia berpamitan pada Yudha ke musala untuk salat Asar. Karena tidak menemukan Dita, dia memutuskan untuk ke kafe saja setelah Asar nanti.


Tanpa diduga, saat menuju musala dia melihat Dita sedang berjalan dan bercanda dengan seorang pria. "Dengan siapa dia? Kenapa mereka terlihat akrab? Dan aku tidak suka melihatnya bersama pria itu."

__ADS_1


Rendra memandang Dita dari tempatnya berdiri, dia terpaku, tak bergerak. Beginikah rasanya bisa melihat seseorang yang selalu mengganggu pikirannya setelah lama tidak bertemu. Ada rasa bahagia bisa memandangnya dari jauh, tapi terasa sedikit nyeri melihatnya bersama pria lain. "Perasaan apa ini?" Rendra memegang dada sebelah kirinya, merasakan jantungnya yang berdetak kencang.


Di depan musala, Dita berpisah dengan pria itu. Dita masuk ke musala sementara pria itu terus berjalan ke arah luar. Rendra langsung tersenyum lebar sepertinya semesta mendukungnya, dia bergegas ke musala. Setelah melepas sepatu, dia mengambil wudu lalu naik ke lantai 2.


Begitu sampai di lantai 2, dia melihat Dita sedang memakai mukena. Mereka sempat bertatapan sekilas saat Rendra datang.


"Mau berjemaah?" Tanyanya pada Dita, yang dibalas dengan anggukan kepala. Setelah memastikan Dita sudah siap, Rendra baru melafalkan takbiratul ihram.


Usai salat dan berdoa, Rendra turun lebih dahulu, sementara Dita masih melipat mukenanya. Rendra menunggu Dita di depan musala meski dia tadi tidak mengatakan akan menunggunya.


Saat Dita turun, dia terkesiap karena melihat Rendra masih di sana. "Kenapa dia belum pergi? Apa menunggu seseorang?"


Setelah memakai sepatunya, Dita melangkahkan kaki untuk pulang.


"Mau bareng?" Tawar Rendra yang tiba-tiba sudah berjalan di sampingnya.


"Loh ... kamu nungguin aku tadi?" Tanya Dita tanpa menjawab Rendra.


"Hhhmmm ... memangnya ada orang lain yang aku tunggu selain kamu?" balas Rendra.


"Gimana, mau bareng pulangnya?" Tawar Rendra lagi.


"Enggak sih ... ya aku nawarin aja sekalian kan pulangnya searah, kamu juga bisa irit ongkos untuk membayar ojol." Jawab Rendra sembari mengusap tengkuknya.


"Memang kamu bawa helm dua?" Tanya Dita lagi.


"Kalau aku ada helm dua, kamu mau bareng?" Tanya Rendra antusias sambil memandang Dita.


"Tapi aku enggak mau ada gosip lagi. Besok pagi pasti penggemarmu heboh kalau tahu kamu berboncengan sama cewek." Tolak Dita beralasan.


"Enggak usah pedulikan mereka. Ayo ikut aku ke tempat parkir." Rendra meraih pergelangan tangan Dita, mengarahkan agar mengikutinya.


"Iya ... iya aku ikut, tapi lepaskan tanganmu." Berontak Dita kesal lalu Rendra melepaskan tangannya.


"Cowok tadi siapa?" Tanya Rendra kemudian.


"Cowok? Yang mana?" Dita mengerutkan keningnya.


"Yang tadi jalan sama kamu sebelum kamu ke musala." Terang Rendra.

__ADS_1


"Oh ... Baim, teman sekelas dan kebetulan satu kerja kelompok. Kenapa?"


"Eng ... enggak apa-apa. Biasanya kan kamu sama temanmu yang ganjen itu."


Dita menghentikan langkahnya, dia menatap kesal Rendra karena sudah mengatai Bella ganjen. Rendra pun ikut menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?" Tanya Rendra penasaran.


"Dengar ya, nama temanku itu Bella. Dan dia tidak ganjen seperti para penggemarmu yang lain. Toh, dia sekarang juga tidak pernah lagi mendekati kamu. Jadi, jangan pernah mengatai dia ganjen di depanku." Dita mendengus kesal.


Rendra mengangkat kedua tangannya, "oke, aku minta maaf soal temanmu. Aku ... tidak tahu namanya, jadi asal panggil saja."


Dita tak menjawab, dia masih kesal pada Rendra. Dia melanjutkan langkahnya ke arah luar fakultas tidak ke tempat parkir.


Rendra mengejar Dita, "Dita ... mau ke mana?"


"Pulang." Jawab Dita pendek.


Rendra menghela napasnya, berusaha menahan emosi agar tidak bersikap kasar pada Dita.


"Kamu kan sudah janji pulang bareng aku." Ucapnya lembut sambil berjalan sejajar dengan Dita.


"Males, lagian kamu juga maksa aku tadi."


"Dita ... please jangan kaya gini. Katanya kamu enggak mau ada gosip, kalau kita ribut bukannya malah akan jadi perhatian orang." Rendra berusaha memberikan alasan meski agak absurd.


Dita berhenti melangkah, memejamkan mata, menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan. Perlahan dia membuka mata dan menata emosinya.


"Oke, kita ke tempat parkir." Ucap Dita meski datar tapi berhasil membuat Rendra tersenyum lebar.


Tanpa mereka tahu ada 2 pasang mata yang melihat mereka dari dua tempat yang berbeda.


...※※※※※...


Catatan:


LPJ: Laporan Pertanggungjawaban


FT: Fakultas Teknik

__ADS_1


Jones: Jomblo ngenes


__ADS_2