
Jumat ini, Dita dan Rendra izin tidak masuk kuliah karena akan mendaftarkan pernikahan di KUA kecamatan tempat Pak Wijaya tinggal karena mereka akan melangsungkan akad nikah di rumah Pak Wijaya. Beberapa hari sebelumnya, mereka membuat pasfoto untuk syarat menikah, baik foto sendiri maupun berdampingan dengan latar belakang biru. Mereka mencetak pasfoto yang sendiri dengan ukuran 2x3, dan yang berdampingan dengan ukuran 4x6.
Malam harinya Rendra meminta surat pengantar dari RT dan RW untuk dibawa ke kelurahan. Esok harinya di kelurahan, dia mendapat blangko N1 (Surat keterangan untuk nikah), N2 (Surat keterangan asal usul), N3 (Surat persetujuan mempelai), N4 (Surat keterangan tentang orang tua) dan N5 (Surat izin orang tua) karena umur Rendra masih di bawah 21 tahun. Semua blangko itu dibawa pulang untuk diisi, kemudian besok dibawa lagi ke kelurahan.
Setelah semua blangko diisi dan dibawa ke kelurahan dengan membawa lampiran yang diperlukan, kemudian petugas kelurahan meminta Rendra memfotokopi seluruh blangko sebanyak masing-masing 2 lembar sebagai dokumentasi untuk kelurahan. Seluruh blangko asli dibawa Rendra kembali untuk mendaftar di KUA tempat mereka akan mendaftarkan pernikahan. Sesudah itu Rendra datang ke KUA kecamatan sesuai KTP-nya untuk mendapat Surat Pengantar/Rekomendasi Nikah karena dia dan Dita KTP-nya berbeda kecamatan dan kabupaten.
Dokumen-dokumen yang diperlukan Dita untuk syarat menikah kebetulan sudah diurus oleh Pak Wijaya dan Adi. Dita tidak mungkin bolak-balik sendiri mengurus semua di sela kuliahnya karena jarak rumah Adi dan Pak Wijaya yang bisa dibilang tidak dekat. Jadi, dia hanya akan datang ke KUA bersama Rendra dengan membawa persyaratan untuk mendaftarkan pernikahan.
Dan, di sinilah mereka sekarang di kantor KUA untuk mendaftarkan pernikahan. Petugas KUA melihat syarat-syarat dokumen yang dibawa mereka.
“Kalian berdua masih di bawah 21 tahun?” Tanya petugas KUA saat melihat ada blangko N5 di antara dokumen yang mereka bawa.
“Iya, Pak.” Jawab Rendra.
“Kenapa menikah muda?”
“Karena kami saling mencintai dan kami ingin menghindari zina, Pak.” Ucap Rendra sambil menggenggam tangan Dita.
"Lha itu kok malah bersentuhan, kan belum muhrim." Tegur petugas KUA dengan nada bercanda.
"Kami sebenarnya sudah menikah secara Islam, Pak." Jelas Rendra.
Petugas itu lalu menganggukkan kepala berkali-kali.
“Ini saya terima, kalian sekarang ke puskemas dulu untuk mendapatkan surat keterangan sehat dan mbaknya nanti akan mendapat suntik anti tetanus 1 (1), sebagai salah satu syarat untuk menikah.”
“Baik, Pak. Berarti nanti kami ke sini lagi setelah dari puskesmas ya, Pak?” tanya Rendra memastikan.
“Iya, Mas. Oh ya, ini besok nikahnya di sini atau di rumah?"
"Di rumah, Pak."
"Biaya pernikahan untuk di luar KUA sebesar Rp. 600.000,- nanti pembayarannya lewat transfer bank.” Petugas itu memberikan nomor rekening bank.
"Harus memakai bukti transfer? Atau bisa pakai mobile banking Pak?"
"Sebaiknya ada bukti transfer secara fisik, bisa lewat ATM."
“Baik, Pak. Kalau begitu kami permisi ke puskesmas dan ke ATM dulu, Pak. Assalamu’alaikum,” pamit Rendra.
“Wa’alaikumsalam.”
Rendra dan Dita kemudian datang ke puskesmas terdekat. Setelah mendaftar ke petugas untuk pemeriksaan canten (calon penganten), mereka duduk di ruang tunggu sambil menunggu panggilan. Tak lama nama mereka dipanggil petugas.
Mereka berdua masuk ke ruangan pemeriksaan. Mereka dicek tensi, tinggi badan, berat badan, riwayat kesehatan dan lainnya. Kemudian Dita disuntik anti tetanus 1 di lengan kirinya. Setelah itu mereka menerima surat sehat dan surat keterangan bahwa Dita sudah menerima suntik anti tetanus 1, serta kartu jadwal suntik anti tetanus selanjutnya.
Sesudah membayar biaya pemeriksaan dan suntik anti tetanus 1, mereka meninggalkan puskesmas. Dita terus memegang lengan kirinya yang tadi disuntik.
"Kenapa Sayang, kok dipegang terus?" tanya Rendra penasaran.
"Sakit, Mas," jawab Dita sambil meringis.
"Sabar ya Sayang, kalau aku bisa gantiin, aku pasti gantiin kamu disuntik." Rendra mengusap-usap lengan kiri Dita.
"Udah Mas, jangan dipegang." Dita melepas tangan Rendra dari lengan kirinya.
__ADS_1
"Kita ke KUA lagi ya, kamu bisa tahan kan sakitnya?" Rendra menatap Dita khawatir.
"Aku enggak apa-apa, Mas. Cuma rasanya pegal aja kok, bukan sakit yang serius." Dita meyakinkan Rendra kalau dia baik-baik saja.
"Oke, tapi kalau sakit banget bilang ya, jangan ditahan." Rendra masih saja khawatir dengan Dita.
"Iya, Mas. Sudah yuk ke KUA lagi terus nanti pulang."
Mereka kembali ke KUA setelah dari puskesmas dan ATM terdekat. Mereka menyerahkan surat keterangan sehat dan surat keterangan bahwa Dita telah divaksin anti tetanus 1 serta bukti transfer pembayaran biaya pernikahan.
"Syarat-syarat sudah saya terima semua dan sudah lengkap. Setelah ini kalian berdua harus mengikuti Bimbingan Pra Nikah."
"Selama berapa lama Pak?" tanya Rendra.
"Sebenarnya jadwalnya seminggu, tapi kami padatkan selama 2 hari saja." Jawab petugas itu.
"Apa tidak bisa dipadatkan jadi satu hari, Pak? Hari ini saja atau besok pagi? Karena kami sama-sama masih kuliah di UGM dari Senin sampai Jumat. Hari ini kami sengaja izin untuk mengurus pendaftaran pernikahan." Rendra mencoba bernegosiasi.
"Saya tanyakan dulu ya sama pimpinan." Petugas itu lalu pergi meninggalkan mereka. Tak lama dia kembali menemui Dita dan Rendra.
"Bisa kalau mau dipadatkan satu hari, tetapi nanti ada tambahan biaya."
"Tidak masalah Pak soal itu, yang penting kami bisa mengikuti dalam satu hari."
"Karena bimbingan juga melibatkan orang tua, jadi apa bisa meminta mereka ke sini?"
"Kalau di rumah istri saya besok pagi bagaimana Pak? Atau Sabtu depan?"
"Besok pagi bisa, nanti petugas kami akan datang ke rumah Mbak ... Anindita. Apa Mbak Anindita putrinya Pak Wijaya, Kasi Pendidikan Agama Islam Kemenag?"
"Ya ... ya ... kami sudah tahu rumahnya. Ternyata Mbak Anindita yang akan menikah, saya kira kakaknya."
"Iya Pak, kebetulan saya yang bertemu jodoh terlebih dulu."
"Iya enggak apa-apa Mbak. Jadi kapan rencana pernikahannya?"
Mereka lalu membicarakan tanggal dan jam pelaksanaan akad nikah.
Begitu selesai urusan di KUA, mereka langsung pulang ke rumah Pak Wijaya. Mereka akan menginap selama dua hari sambil menyiapkan resepsi pernikahan yang di sana.
Sabtu pagi ini, Dita ikut salat Subuh berjemaah di masjid. Dia merasa rindu dengan suasana puasa di kampung halamannya. Dulu, setiap menjelang buka puasa dia selalu ikut mengajar anak-anak kecil membaca iqro atau Al-Qur'an. Setelah Tarawih di masjid, dia akan tadarus bersama para pemuda masjid. Dan, setelah salat Subuh, dia akan berjalan-jalan bersama teman-temannya, meski dia harus sering menutup telinga karena suara mercon yang dinyalakan oleh teman-temannya yang laki-laki.
Dan, pagi ini Dita berjalan-jalan berdampingan dengan Rendra seusai salat Subuh. Dia tadi menyempatkan diri menyapa dan bertemu teman-temannya, tetapi dia tidak bergabung berjalan-jalan bersama mereka karena ada Rendra yang menunggunya. Tidak mungkin kan dia meninggalkan Rendra dan asyik sendiri dengan teman-temannya kan.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan sembari bercerita dan bercanda. Rendra juga terlihat menikmati kebersamaan mereka kali ini. Ternyata menyenangkan berjalan-jalan seusai Subuh di pedesaan karena udaranya masih bersih dan minim polusi kendaraan, tidak seperti di kota yang hampir 24 jam selalu ada kendaraan yang lewat.
"Dita, ya?" Sapa seorang pemuda yang sedang berdiri di pinggir jalan.
"Iya, Mas Reza?" sahut Dita sambil menghentikan jalannya.
"Ya Allah, Dita, apa kabar? Kamu sudah berubah sekarang, lebih cantik dan feminin."
"Mas Reza bisa saja, alhamdulillah kabarku baik. Mas Reza gimana kabarnya?"
"Aku juga baik, apalagi setelah ketemu kamu lebih merasa baik. Kamu sombong ya sekarang enggak pernah pulang dan kumpul-kumpul lagi."
__ADS_1
"Bukan begitu Mas, masih mahasiswa baru, masih penyesuaian dengan ritme kuliah."
"Ehemmm ...." Rendra berdeham.
"Oh ya Mas Reza, kenalkan ini Mas Rendra, suamiku."
Reza tiba-tiba menatap tidak suka ke arah Rendra, mereka saling menatap dengan tajam.
"Kamu sudah nikah? Kok aku tidak dengar beritanya?" Tanya Reza tak percaya setelah menatap Dita kembali.
"Sudah Mas, 3 bulan yang lalu. Resepsinya baru besok setelah lebaran." Jawab Dita.
"Padahal aku rencananya mau melamarmu setelah aku lulus kuliah tahun depan." Ungkap Reza tanpa menghiraukan Rendra.
Rendra mengeratkan genggamannya, wajahnya mulai memerah menahan marah. Kalau dia tidak ingat ini bulan puasa akan langsung dipukulnya wajah Reza sampai babak belur.
Dita segera menyadari situasi yang terjadi.
"Mas Reza, aku pulang dulu takut bunda nyari. Assalamu'alaikum." Dita segera menggandeng lengan Rendra dengan erat lalu buru-buru mengajaknya pergi tanpa menunggu balasan salam dari Reza.
"Siapa dia?" tanya Rendra setelah mereka agak menjauh.
"Kakak kelas SD dan juga tetangga," jawab Dita.
"Aku enggak suka sama dia, jangan pernah ketemu atau ngobrol lagi sama dia." Ucap Rendra dengan nada tegas.
"Iya, Mas. Lagian aku kan ke mana-mana juga sama Mas."
"Kurang ajar, mau main-main sama aku dia."
"Istigfar, Mas. Sabar. Ini lagi puasa. Dia bercanda tadi."
"Kamu jangan membela dia, Sayang. Aku enggak suka. Dia jelas-jelas suka sama kamu dan sama sekali enggak menganggap aku sebagai suamimu. Aku tahu dia enggak bercanda."
"Iya ... iya, Mas. Istigfar. Nanti enggak dapat pahala puasa loh cuma dapat lapar saja kalau marah-marah. Aku minta maaf kalau malah membuat Mas jadi marah." Dita mengelus dada Rendra sambil berjalan pulang.
"Astaghfirullahalazim ... astaghfirullahalazim ... astaghfirullahalazim .... Makasih Sayang, kamu sudah mengingatkan aku."
"Kita kan harus saling mengingatkan dalam kebaikan, Mas. Aku enggak mau pahala puasa Mas hilang hanya gara-gara emosi. Aku paham, aku tahu apa yang Mas rasakan. Tapi Mas harus percaya sama aku kalau aku enggak ada hubungan apa-apa sama Mas Reza ...."
"Sayang, tolong jangan sebut nama itu lagi ya." Rendra menyela perkataan Dita.
"Iya, Mas. Maaf ya. Aku terusin yang tadi. Aku ini sudah jadi istri Mas, aku sudah milik Mas. Mana mungkin aku berpaling dari Mas yang selalu sabar, ngertiin aku dan cinta banget sama aku. I love you, Mas Rendra." Dita langsung berlari ke halaman rumah karena dia merasa malu sudah menyatakan cinta pada suaminya.
Rendra sempat terpaku mendengar Dita menyatakan cintanya. Selama ini kata-kata itu tidak pernah keluar dari bibir istrinya. Rendra terus tersenyum sambil melangkahkan kaki masuk ke halaman rumah mertuanya. Kalau tidak sedang puasa dia tidak akan melepaskan Dita begitu saja, kali ini dia harus sabar menunggu sampai saatnya buka puasa nanti.
...※※※※※...
Catatan:
(1) Suntik anti tetanus T T (Tetanus Toksoid) adalah tindakan memasukkan bakteri tetanus toksoid yang telah dinonaktifkan. Cara ini akan membuat tubuh lebih kebal terhadap infeksi tetanus karena sudah ‘belajar’ membuat antibodi terhadapnya.
Jogja, 060321 00.15
Bab ini sudah saya setor dari tanggal 6 dini hari, tetapi tidak lolos review sampai lebih dari 36 jam, saya tidak tahu kapan akan diloloskan dan bisa terbit, jadi bukan karena saya tidak up cerita tetapi karena proses review yang lama.
__ADS_1