
Bara melangkahkan kaki menghampiri Rendra yang sedang duduk di sudut kantin menikmati makan siangnya. Seperti biasa Rendra tak pernah memedulikan keadaan sekitarnya bila sedang asyik makan.
“Gue duduk sini ya, Bro.” Sapa Bara sambil mendudukkan dirinya di depan Rendra.
Rendra hanya melirik Bara sekilas tanpa mengatakan apa pun dan tetap melanjutkan makannya.
“Lo marah sama gue, Bro?” Tanya Bara sambil menatap Rendra tanpa merasa salah.
Rendra hanya mengangkat bahunya, masih tetap tak bersuara.
“Lo kok jadi kaya cewek sekarang, ambekan.” Bara tersenyum mengejek.
Rendra masih diam, tak terpancing dengan ucapan Bara.
“Gue minta maaf kalau menurut lo, gue ikut campur urusan lo. Gue enggak suka kalau lihat ada cewek dikasarin. Apalagi dia udah minta maaf ke lo, dan sepertinya lo yang ingin memperpanjang masalah.”
Bara mulai mendapatkan perhatian Rendra sekarang. Rendra memandangnya dan mengembuskan napasnya kasar.
“Lo suka sama dia?” Tanya Rendra dengan nada sinis.
“Dia gadis yang menarik,” ucap Bara sambil menyunggingkan senyum lebar, mencoba memancing reaksi Rendra.
“Cih, menarik dari mananya.” Cibir Rendra tak terima.
“Lo aja yang enggak sadar Bro, kalau dia sudah menarik perhatian lo.” Sahut Bara santai.
“Sejak kapan lo jadi cenayang Bar, sok tahu apa yang ada di pikiran gue.” Rendra tersenyum mengejek.
“Gue enggak perlu jadi cenayang, kelihatan jelas kok dari tingkah laku lo.” Jelas Bara masih dengan senyum lebarnya.
Rendra menggelengkan kepalanya, merasa geli dengan ucapan Bara yang menurutnya tidak masuk akal.
“Bro, baru kali ini gue lihat lo uring-uringan sama cewek. Dari gue awal kenal lo sampai detik ini cuma dia yang bisa bikin lo uring-uringan enggak jelas. Padahal sebelumnya sudah banyak cewek lain yang ngedeketin lo, berusaha akrab sama lo tapi lo sama sekali enggak pernah peduli sama mereka.”
Rendra diam mendengarkan Bara, dan secara tidak langsung otaknya membenarkan apa yang Bara katakan. Memang selama ini dia selalu tidak pernah peduli dengan gadis-gadis yang mendekatinya, dan Dita jelas tidak termasuk salah satu dari mereka. Selama ini hanya satu gadis yang dekat sama dia yaitu Adelia, teman seangkatannya yang juga teman Bara, yang sudah dia anggap sebagai sahabat karena menurutnya Adelia tulus berteman dengan dia.
“Bener kan Ren apa yang gue bilang tadi?” Bara masih menunggu reaksi Rendra, tapi Rendra masih tetap diam, sibuk dengan pemikirannya.
“Dita berhasil masuk dalam pikiran lo dengan cara yang unik. Ego lo merasa tersentil karena sikap tidak ramahnya sama lo. Selama ini semua cewek selalu bersikap manis dan cenderung menggoda lo, tapi Dita beda. Dia cewek yang antimainstream, tipe cewek mandiri, tangguh dan tidak manja. Dan, dia berhasil menarik perhatian lo dengan sikapnya itu. Bantah gue kalau apa yang gue omongin ini enggak bener.” Tantang Bara sambil menatap mata Rendra.
“Sok tau lo.” Ketus Rendra mencoba menyembunyikan kebenaran yang otaknya pikirkan.
Bara tertawa pelan melihat reaksi Rendra yang tak berani menatap matanya, “dasar pembohong!”
__ADS_1
“Dita sebenarnya cewek yang baik, Bro. Gue dukung kalau lo mau deketin dia.” Ucap Bara kemudian sambil menepuk pelan bahu Rendra.
“Uhukk ....” Rendra terbatuk mendengar ucapan Bara, dia langsung mengambil minumannya dan meneguk air di gelas sampai tandas.
“Omongan lo makin ngaco, Bar.” Rendra menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya itu. “Lo kali yang pengen deketin dia, lo kan bilang tadi kalau dia menarik,” lanjutnya.
“Iya gue memang bilang dia menarik, tapi gue bakal mundur kalau lo serius sama dia.” Pancing Bara, karena menurutnya Rendra tertarik dengan Dita hanya saja Rendra belum menyadari apalagi mengakui perasaannya.
“Ya udah lo deketin aja cewek gila itu. Aku enggak tertarik sama sekali.” Sahut Rendra dibuat sesantai mungkin.
“Bener neh lo enggak mau deketin dia?” Bara menaik turunkan alisnya, menggoda Rendra yang masih kekeh dengan sikapnya.
“Enggak ... pernah ... ada ... di pikiran gue ... buat deketin dia, puasssss lo sama jawaban gue!” Jawab Rendra dengan menekankan suara di setiap kata yang diucapkannya.
“Oke!!! Jangan nyesel ya kalau gue deketin dia.” Tegas Bara.
“Enggak bakal.” Sahut Rendra cepat.
“Oke, gue pegang kata-kata lo!” Bara mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rendra.
“Maksudnya apa nih?” Tanya Rendra mengernyit tanpa menyambut tangan Bara.
“Ya sebagai komitmen dari omongan lo tadi.” Jawab Bara yang masih menunggu Rendra menyambut tangannya.
“Enggak usah lebai deh lo pakai acara jabat tangan segala. Kaya orang mau akad nikah aja.” Rendra tergelak sembari menepis pelan tangan Bara.
“Oya Bro, gue baru ingat. Dari tadi gue ngomong soal Dita dan lo langsung nyambung tanpa nanya siapa Dita. Kayanya gue enggak pernah denger lo nyebut namanya. Lo tahu nama cewek itu Dita?” Tanya Bara penasaran.
Rendra terkesiap, tapi dia segera bersikap normal agar Bara tidak curiga.
“Ah ... itu ... gue pernah dengar temannya manggil Dita gitu.” Jawab Rendra sedikit gugup sambil menyentuh tengkuknya. Tidak mungkin kan dia bilang kalau hari Minggu kemarin Dita datang ke rumahnya dan berkenalan dengannya dan keluarganya. Apalagi sampai bilang kalau Dita tetangga sebelah rumahnya bisa-bisa Bara mengejeknya habis-habisan. Berbohong menjadi pilihan terbaiknya saat ini, pikirnya.
“Oh begitu, gue kira lo diam-diam udah kenalan sama dia.” Bara menggoda Rendra yang terlihat gugup.
“Enggak lah ... lo kali yang udah kenalan sama dia.” Sahut Rendra menutupi kegugupannya.
“Ya, memang tadi gue ngajak dia kenalan. Sayanglah ada cewek cantik gitu dianggurin.” Jujur Bara sambil tergelak.
“Good luck, Bro.” Rendra menepuk bahu Bara memberi semangat, tapi entah kenapa di sudut hati kecilnya ada sedikit gelenyar rasa aneh. Dia coba menepisnya, tak mau ambil pusing dengan hal itu.
“Thanks, Bro.” Bara balas menepuk bahu Rendra sambil tertawa.
Rendra melihat jam di pergelangan tangannya, sudah waktunya masuk jam kuliah berikutnya.
__ADS_1
“Ayo ke kelas, sebentar lagi masuk.” Ajak Rendra pada Bara yang sedang asyik mengamati keadaan kantin yang sedang ramai pengunjung karena memang saat itu memang masih jam makan siang.
“Oke.” Bara segera bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan dengan Rendra. Sepanjang jalan menuju ruang kuliah mereka saling berbicara dan bercanda seperti biasanya.
“Hei, kalian berdua ke mana saja? Aku cari dari tadi.” Sapa Adelia yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka, merangsek masuk di antara mereka berdua dan langsung merangkul lengan Rendra dan Bara. Ya, mereka bertiga memang bersahabat dan semua orang sudah biasa melihat keakraban mereka.
“Ke kantin tadi,” balas Bara santai.
“Kenapa enggak ngajak aku?” Tanya Adelia cemberut.
“Sorry, tadi ada urusan sebentar jadi lupa enggak ngajak lo.” Jawab Bara lagi.
“Urusan apa sampai aku enggak diajak, huh.” Sahut Adelia masih cemberut.
“Urusan laki-laki.” Jawab Bara sambil tergelak, sementara Rendra hanya tertawa kecil.
“Kalian enggak berkelahi sama orang kan?” Tanya Adelia khawatir.
“Lo lihat deh muka kami apa ada bekas kaya habis berkelahi, emangnya urusan laki-laki cuma soal itu saja.” Jawab Bara sedikit kesal.
“Iya ... iya maaf,” sesal Adelia.
“Udah jangan ribut, cepat masuk gih.” Perintah Rendra begitu mereka sampai di depan ruang kuliah, dia melepaskan lengannya dari Adelia lalu masuk dan mencari tempat duduk yang masih kosong.
...※※※※※※※...
Assalamu'alaikum ...
Annyeonghaseyo yeorobun 😊
Salam kenal dari saya yang sedang belajar menulis 🙏
Adakah yang menanti cerita ini update?
Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih pada teman-teman yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca, memberi komentar, menyukai dan memfavorit cerita ini. 🤝 *salim satu-satu*
Ide dan draft cerita ini sudah saya buat dari tahun 2017, tetapi hanya tersimpan rapi di harddisk. Baru di bulan November kemarin saya memberanikan diri untuk memuat cerita ini di sini. Jadi saya mohon dukungannya, baik berupa kritik, saran atau pun masukan pada cerita ini atau pada saya baik melalui komentar atau PM 🙏
Boleh ya curhat, ada sedikit cerita sedih minggu ini karena harddisk komputer saya bermasalah jadi mengharuskan untuk instal ulang yang berakibat hilangnya draft cerita ini. Rasanya kesal, marah, sedih tapi memang itu salah saya yang tidak mem-back up data di media lain. Akhirnya susah payah saya kumpulkan mood yang berceceran, mencoba meneruskan cerita ini dengan beberapa poin yang saya ingat, semoga bisa diterima dengan baik. 😊
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk semua yang selalu mendukung cerita gaje ini 🤗
Wassalamu'alaikum
__ADS_1
with love 💕
Kokoro No Tomo (Ayaka Kirei)