Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
23


__ADS_3

“Bahagia banget lo pagi ini,” sapa Rendra yang melihat Bara masuk ke ruang kuliah sambil bersiul riang.


“Gue lagi hepi, Bro.” Bara masih senyum-senyum tak jelas.


“Ada apa nih? Lo baru menang lotre?” Tebak Rendra asal.


“Ini lebih dari membahagiakan daripada menang lotre, Bro.” Kata Bara sambil menerawang dan terus tersenyum.


Rendra mengerutkan keningnya, “sumpah Bro, lo nyeremin kalau senyum-senyum kaya gini.”


Bara tiba-tiba merangkul Rendra kencang yang membuat Rendra bergidik.


“Lepas, Bro! Wah enggak bener ini.” Rendra berusaha melepaskan diri dari Bara.


“Lo enggak lagi kesambet kan?” Tanya Rendra begitu dia bisa lepas dari Bara.


“Gue kesambet cinta Dita, Bro.” Jawab Bara sambil mengerling padanya.


Rendra terkejut mendengarnya. “Lo ... lo jadian sama dia?”


“Belum, tapi gue on the way ke sana.”


“Lo bilang kemarin udah ditolak, gimana ceritanya sekarang on the way ke sana?” Selidik Rendra.


“Pakai strategi dong.”


“Strategi?”Rendra mengernyit.


Bara mengangguk. “Jadi gue berusaha mendekati dia sebagai teman. Dia enggak bisa nolak saat gue bilang apa yang gue lakukan itu hal yang wajar dilakukan sesama teman.” Jelas Bara.


“Mmmhhhh ... oke juga strategi lo.”


“Bara Pradipta Aryaguna.” Ucap Bara menyombongkan diri sambil menepuk dada sebelah kirinya.


Rendra mencibir melihat kelakuan Bara.


“Lo tahu apa yang paling bikin gue bahagia?” Bara menoleh pada Rendra.


“Mana gue tahu.”


“Gue punya line id Dita. Jadi gue bisa setiap saat berhubungan sama dia meski enggak bisa ketemu. Gue bilang ke dia, teman bisa saling kirim pesan kan. Dia enggak jawab apa-apa cuma menganggukkan kepala.”


“Lo secara enggak langsung memaksa dia secara halus.” Rendra tersenyum mengejek.


“Enggak salah dong gue, kan dia bilang bisa berteman. Ya gue manfaatin lah celah itu. Banyak kan akhirnya yang dari teman jadi demen.”


“Sakbahagiamu wes, Bro (yang penting kamu bahagia), berharap saja dia enggak jengah sama sikapmu yang agresif.” Ujar Rendra sambil menepuk bahu Bara yang membuat Bara terdiam.


"Biasanya cewek suka kan kalau ada cowok yang agresif?" Sangkal Bara.


"Belum tentu, bisa jadi malah takut dan menjauh." Sahut Rendra santai.

__ADS_1


"Lo jangan menakut-nakuti gue, Bro." Protes Bara sambil melirik kesal pada Rendra.


"Gue enggak menakuti lo, gue cuma bicara fakta. Enggak semua cewek suka cowok agresif. Dan sepertinya Dita termasuk salah satunya."


"Kok lo tahu Dita kaya gitu?" Bara mengerutkan keningnya.


Rendra tersenyum miring, "kan dia langsung nolak lo kapan itu."


"Tapi enggak langsung membuktikan juga kalau dia begitu," ujar Bara tidak terima.


"Terserah lo mau percaya apa enggak, yang penting gue udah ngasih tahu lo." Rendra menepuk bahu Bara lagi.


“Eh ... lo masih sibuk jadi panitia?” Tanya Bara berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Iya, gue yang bertanggung jawab penuh karena ini program kerja gue yang bikin. Dan mungkin ini program gue yang paling gede sebelum pergantian pengurus karena yang lainnya cuma skala kecil.”


“Semangat Bro, jangan lupa tetap jaga kesehatan. Insya Allah gue ikut seminarnya, sekalian gue ajak Dita, siapa tahu dia mau.”


“Thanks, Bro. Gue tunggu kedatangan lo.”


...---oOo---...


Begitu jam kuliah kedua selesai, Rendra dan Bara pergi ke musala teknik bersama. Setelah mengambil wudu mereka lalu naik ke lantai 2 untuk salat. Tetapi Bara tidak langsung salat justru sibuk melihat ke belakang, ke bagian jemaah wanita.


“Lo nyari apa sih? Gih buruan salat.” Tegur Rendra.


“Gue nyari Dita, gue udah janjian sama dia mau salat bareng.” Sahut Bara yang masih mencari sosok Dita.


Rendra mulai memposisikan dirinya untuk salat, Bara lalu mengikuti di samping kanannya.


“Allâhu Akbar.” Rendra melafalkan takbiratul ihram.


Tak lama Dita dan Bella keluar dari tempat wudu wanita, lalu mereka segera memakai mukena dan ikut menjadi makmum Rendra.


Selesai salat dan berdoa, Bara berdiri. Saat melihat ke arah belakang dia mendapati Dita dan Bella di sana. Dia tersenyum lebar lalu mendekati mereka.


“Aku tunggu di bawah ya.” Kata Bara tanpa bersuara sambil tangannya memberi kode menunjuk ke bawah.


Dita yang melihatnya hanya menganggukkan kepala tanpa membalas. Dia masih melipat mukenanya, sementara Bella sedang merapikan penampilannya. Setelah melipat mukena dan memasukkan kembali ke ranselnya, dia dan Bella segera turun ke lantai bawah.


Dita terkesiap melihat Rendra yang sedang berbicara di telepon dan berdiri di samping Bara. Dia tidak menduga pria itu bersama Bara. “Semoga dia enggak buat masalah lagi hari ini.”


“Ayo ke kantin.” Ajak Bara pada Dita yang sedikit membuatnya terkejut karena diam-diam dia sedang memperhatikan Rendra.


“Ayo, Bel.” Dita menggandeng tangan Bella lalu berjalan ke kantin yang diikuti oleh Bara dan Rendra.


“Ta, itu Kak Rendra mau makan bareng kita ya?” Bisik Bella pada Dita.


“Taukkkk.” Dita mengedikkan bahunya.


“Ishhhh, kamu nyebelin banget sih kalau ditanya soal Kak Rendra.” Protes Bella dengan berbisik.

__ADS_1


Sesampainya di kantin mereka langsung mencari meja yang masih kosong. Di jam makan siang seperti ini kantin pasti jadi ramai, jadi sebaiknya mencari meja dulu baru memesan makanan. Setelah mendapatkan meja, mereka memesan makanan masing-masing.


Bara duduk sejajar dengan Rendra, sementara Dita duduk berhadapan dengan Rendra dan Bella dengan Bara.


"Eh ... enggak kebalik ini duduknya?" Seloroh Bara.


"Iya, ini harusnya kamu duduk di sini, Ta," sahut Bella sambil menyenggol Dita. Tetapi Dita bergeming tak menanggapi Bella dan Bara.


Bagaimana pun dia merasa lebih nyaman berhadapan dengan Rendra daripada Bara meskipun mereka sering tidak akur. Setidaknya ini ketiga kalinya mereka makan bersama.


"Sudah begini saja." Ujar Rendra datar melihat Dita yang tak bereaksi.


Bella langsung terdiam begitu mendengar Rendra berbicara. Dia takut membuat Rendra marah lagi. Bisa berabe urusannya nanti.


"Kalian ikut ya seminar tanggal 28 besok." Ajak Bara pada Dita dan Bella.


"Seminar apa, Kak?" Tanya Dita.


"Lo jelasin Bro, kan lo panitianya." Desak Bara pada Rendra.


"Seminar Nasional Peran dan Inovasi Pemuda Dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif."


"Wah, keren Kak Rendra. Pembicaranya siapa Kak?" Bella menatap kagum pada Rendra.


"Pak Rendra Kaprodi TI, founder PT ManjoMaju dan Rumah Bambu Gemilang Indonesia, sama Mas Yudi, founder Kopi Kreatif." Jelas Rendra.


"Ikutan yuk, Ta," ajak Bella pada Dita.


"Hemm .... oke," sahut Dita.


"Yeay." Teriak Bella girang.


"Plis deh Bel, enggak usah lebay." Dita menyikut Bella pelan.


"Piss." Bella mengangkat tangannya dengan jari membentuk huruf V.


Tak lama makanan mereka pun datang.


Siang itu Dita memesan soto, dia menambahkan kecap, perasan jeruk dan sambal ke dalam sotonya. Saat akan menyendok sambal untuk yang kedua kali, Rendra menarik tempat sambalnya.


"Sudah cukup, jangan terlalu banyak nanti sakit perut." Ucap Rendra yang membuat Dita mengerucutkan bibir dan menatapnya kesal.


Sontak tindakan Rendra itu menarik perhatian Bara dan Bella. Seorang Rendra yang biasanya terlihat cuek dan dingin pada wanita itu tiba-tiba memedulikan Dita. Yeah ... meskipun dia bicara dengan wajah dan suara yang datar tetapi nampak ada kekhawatiran di matanya.


......※※※※※......


Hai hai hai ... akhirnya bisa up juga, agak ribet dengan real life beberapa hari ini. Mohon izin dan maaf juga mungkin tidak bisa up selama beberapa hari ke depan, ada pekerjaan di real life yang harus diprioritaskan 🙏🙏🙏. Mudah-mudahan secepatnya bisa selesai agar bisa up lagi.


Jawa - Bali PSBB ya dari tanggal 11 sampai 25 Januari, tetap jaga kesehatan ya teman-teman. Jangan lupa terapkan 4M, Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan dan Minum vitamin.


Terima kasih atas dukungannya baik lewat komentar atau pun PM, lafffff yu all 😍😘🤗

__ADS_1


__ADS_2