Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
17


__ADS_3

“Maaf Kak, kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi saya pulang dulu,” pamit Dita.


“Aku antar ya,” tawar Bara.


“Terima kasih Kak, saya nanti dijemput kok,” tolak Dita halus meski dia harus berbohong, iya benar dijemput sih tapi sama ojol bukan Adi.


“Kalau begitu aku antar ke depan.” Bara bersiap berdiri untuk mengantar Dita.


“Tidak usah, Kak. Saya tidak mau ada rumor kalau kita terlihat bersama.”


“Oh … baiklah. Maaf ya sudah membuatmu tidak nyaman.”


“It’s okay, Kak.” Sahut Dita sambil tersenyum.


“Kita tetap berteman kan?” Tanya Bara memastikan.


“Iya Kak, jangan khawatir kita masih bisa berteman. Saya pulang dulu Kak, assalamu’alaikum.” Dita berdiri dari duduknya, mengambil ransel dan memakainya, lalu beranjak meninggalkan kantin dengan perasaan yang campur aduk.


Bara ikut berdiri saat Dita berdiri sebagai tanda sopan santun, tetapi tidak beranjak dari sana. Dia menatap kepergian Dita sampai tidak terlihat dari pandangannya.


“Gue enggak akan menyerah, lo pantas buat diperjuangkan.” Gumam Bara sambil menyunggingkan senyum tipis, berusaha mengobati luka hatinya.


Saat Dita berjalan ke gedung depan fakultas teknik, tiba-tiba ada seseorang yang menyejajarkan langkah dengannya.


“Hei … hei ….” Teriak orang itu.


Dita menghentikan langkahnya dan menatap tajam pria yang berdiri di sampingnya, “siapa yang kamu panggil?" ketusnya.


“Ya kamulah, memangnya ada orang lain di sini.”


“Aku punya nama,” balasnya sengit. Dita melangkahkan lagi kakinya meninggalkan cowok berengsek yang selalu membuatnya naik darah itu.


“Oke, fine. Aku akan panggil namamu.” Rendra akhirnya mengalah meski harus menahan diri.


Dita terus saja berjalan tanpa menghiraukan kata-kata Rendra.


“Hei, Dita. Tunggu!” Rendra kembali mengikuti langkah Dita.


Dita menghentikan langkahnya, “ada perlu apa?” tanyanya dengan ketus.


“Kamu ngapain tadi ketemu Bara?” Rendra malah balik bertanya.


“Bukan urusanmu.” Jawab Dita masih dengan nada ketus.


“Oke, aku enggak akan ikut campur urusanmu.” Rendra mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


“Kamu ngapain? Mau ngajak ribut?” Tantang Dita.


“Tadi Mas Adi telepon aku, katanya hp-mu tidak bisa dihubungi.” Ujar Rendra datar.


Dita mengecek gawainya yang dia simpan di saku tas. Pantas saja tidak bisa dihubungi karena ternyata baterainya habis. Dia lupa membawa kabel charger dan juga powerbank.


“Hp-ku mati, lowbat.” Dita menunjukkan gawainya pada Rendra.


“Nih pake hp-ku hubungi Mas Adi, tadi khawatir banget sama kamu.” Rendra menyerahkan gawainya pada Dita.


Dita mencari kontak Mas Adi lalu memencet tombol panggil. Pada deringan pertama langsung mendapat jawaban, hhhmm bukti kalau Mas Adi benar-benar khawatir padanya.


“Assalamu’alaikum, gimana Rend, ketemu sama Dita?” Tanya Adi dengan nada panik di seberang telepon


“Wa’alaikumsalam, ini aku, Mas.”

__ADS_1


“Alhamdulillah, kamu ke mana Dek? Mas hubungi berulang kali tidak bisa, kirim pesan juga tidak masuk.”


“Hp-ku kehabisan baterai Mas,” jelas Dita dengan rasa bersalah.


“Woalah, kamu ini Dek bikin mas khawatir. Terus nanti pulangnya gimana bisa order ojol?”


“Gampang Mas, nanti order manual saja tanpa aplikasi atau pakai opang. Nanti aku jalan sampai Sardjito atau Pogung pasti banyak ojek yang mangkal.” Jawab Dita santai.


“Kenapa enggak bareng Rendra aja?”


“Males ah, ya kalau dia langsung pulang. Lagian enggak bawa helm juga Mas.” Dita beralasan.


“Kasih hp-nya ke Rendra, mas mau bicara sama dia.” Perintah Adi.


Dita lalu menyerahkan kembali gawai pada Rendra.


“Iya, Mas.”


“Kamu mau langsung pulang atau masih ada acara lagi?”


“Langsung pulang, Mas.”


“Bisa nitip Dita?”


Rendra menatap Dita yang memberi kode padanya untuk menolak permintaan Adi.


“Bisa, Mas,” Rendra tersenyum licik pada Dita.


“Tolong di-load speaker hp-nya.”


Rendra lalu menyentuh tanda loud speaker. “Sudah, Mas.”


“Dek, nanti pulang bareng Rendra ya. Ingat apa yang mas bilang tempo hari.”


“Ya sudah, hati-hati di jalan. Titip Dita ya, Rend. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Dita dan Rendra bersamaan.


Rendra menyimpan lagi gawainya ke dalam saku celana.


“Kenapa kamu enggak bilang saja sih sama Mas Adi kalau kamu enggak langsung pulang?” Protes Dita.


“Ya aku memang mau langsung pulang kok. Ngapain bohong, dosa tahu.” Jawab Rendra santai.


“Nyebelin banget sih jadi orang.” Gerutu Dita.


“Cih, kaya kamu enggak nyebelin aja.” Balas Rendra.


Dita menatap tajam Rendra, tangannya mengepal menahan amarah. Kalau tidak ingat sedang di kampus, dia pasti sudah mengajak Rendra berkelahi. Memang yang selalu berkaitan dengan pria ini pasti membuatnya emosi tingkat tinggi.


“Ayo pulang.” Rendra mulai berjalan di depannya.


“Aku pulang sendiri.” Sahutnya tanpa mengikuti Rendra.


“Enggak usah sok jual mahal.” Cibir Rendra.


“Apa kamu bilang?” Dita kembali tersulut emosinya.


“Buruan pulang, bentar lagi Magrib,” ujar Rendra tak mau menanggapi Dita.


Dita mengembuskan napas kasar, lalu berjalan meninggalkan Rendra. Tetapi langkahnya tidak menuju ke tempat parkir kendaraan tapi ke luar fakultas.

__ADS_1


Rendra mengejar Dita lalu menarik lengannya.


“Lepas!!!” Teriak Dita.


“Mau ke mana kamu?” Rendra tak melepaskan lengan Dita.


“Pulang.”


“Ikut aku!” Rendra menarik paksa Dita ke tempat parkir motornya.


Dita tak terima diperlakukan seperti itu, dia berusaha melepaskan diri tetapi tenaga Rendra lebih besar apalagi sambil mengikuti langkah Rendra yang panjang dan cepat.


“Aku bisa jalan sendiri, enggak perlu ditarik kaya gini.”


“Nanti kamu kabur lagi. Apa yang harus aku bilang ke Mas Adi kalau kamu pulang sendiri?”


“Mas Adi enggak akan tahu kalau kamu enggak cerita.”


“Mas Adi memang enggak tahu, tapi Allah tahu.”


Dita memutar bola matanya jengah.


“Aku pinjam helm dulu. Kamu bisa tunggu di sini sebentar atau aku harus menyeretmu lagi?” Tanya Rendra saat mereka akhirnya sampai di tempat parkir.


“Aku tunggu di sini saja.” Jawabnya ketus.


“Awas kalau kamu kabur lagi!” Ancam Rendra sambil menatapnya tajam.


Dita mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, setelah mendapat penyataan cinta yang tak terduga, sekarang harus pulang bersama cowok berengsek itu.


“Pakai ini.” Rendra menyerahkan helm padanya.


“Helm siapa ini?” Tanya Dita ingin tahu.


“Pakai sendiri apa mau aku pakein?”


Dita menerima helm dari Rendra dan langsung memakainya tanpa bicara lagi. Energinya terlalu banyak terbuang menanggapi sikap Rendra yang mengesalkan.


Rendra menghampiri motornya, memakai helm lalu naik ke atas motor.


“Naik.” Perintah Rendra pada Dita.


Tanpa suara Dita segera naik ke belakang Rendra, tetapi dia agak kesulitan karena jok boncengan yang tinggi.


“Pegangan punggungku kalau susah naiknya.”


Terpaksa Dita memegang punggung Rendra agar bisa naik ke atas motor. Setelah Dita duduk di atas jok, Rendra segera menstarter motor lalu melajukannya ke luar kampus.


"Bisa cepat sedikit enggak?" Teriak Dita saat Rendra melaju dengan kecepatan sedang.


Rendra membuka kaca helmnya, "apa? Aku enggak dengar?"


Dita lebih mendekat ke Rendra, "Bisa lebih cepat bawa motornya?" teriaknya di samping telinga Rendra yang tertutup helm.


"Mau kecepatan berapa? 100?" Tantang Rendra.


"Terserah, yang penting cepat sampai rumah." Teriak Dita lagi.


Rendra menganggukkan kepala, dia menutup kembali kaca helmnya sambil bibirnya tersenyum tipis. Dia mulai menambah kecepatan motornya sembari beraksi seperti Valentino Rossi di arena MotoGP melewati jalanan yang masih padat kendaraan.


Dita tersentak saat Rendra mulai beraksi di jalanan, "gila ini orang naik motornya."

__ADS_1


Dita mulai ketakutan karena motor melaju sangat cepat di saat kendaraan padat, dan menyalip sana sini. Dia berpegangan erat pada tas ransel Rendra yang ada di depannya. Salahnya juga sih tadi dia minta lebih cepat, tapi juga tidak secepat ini juga 😖.


"Sok nantangin minta lebih cepat, nyatanya takut juga." Dari balik kaca helm Rendra menyunggingkan senyum puas saat melihat ekspresi wajah Dita yang panik dan takut.


__ADS_2