
Saat Ghanem menggenggam erat telapak tangan violet dan membawa nya menuju ke arah depan barisan Kursi orang-orang penting, Seketika tiba-tiba bola mata violet bertemu dengan bola mata Karan.
Laki-laki itu berjalan seorang diri dari arah pintu depan menuju ke kursi barisan depan, dengan tatapan begitu dingin dan datar dia menatap ke arah violet, lalu menatap ke arah Ghanem.
Sang kakak ipar jelas menyadari kehadiran Karan, dia masih menggenggam tangan violet dan membiarkan gadis itu duduk salah satu kursi yang ada di sana.
"Kamu bisa mendapatkan posisi paling nyaman ketika duduk disini"
Ucap Ghanem cepat, kemudian laki-laki itu duduk disisi kanan nya.
"Kau paling tahu dengan bibi Melly"
Ucap Ghanem tiba-tiba.
"Ya?"
Violet menoleh ke arah Ghanem.
"Ketika kamu merasa tidak nyaman dengan seseorang atau sesuatu, bicarakan lah, kamu bahkan bisa membantah nya jika kamu mau"
Ucap Ghanem lagi.
Violet tahu, dia tidak suka menjadi type gadis Lemah dihadapan semua orang, hanya saja kadang di harus menekan diri nya demi sebuah kata ETIKA terhadap yang lebih tua.
"Aku akan terlihat buruk di mata mereka"
__ADS_1
Ghanem menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Justru jika kamu terlihat buruk, mereka akan takut menginjak mu dan akan mulai enggan berdebat dengan mu, mereka malah bakal lebih menghargai mu"
Jawab Ghanem sambil menggenggam erat tangan Violet.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba Karan telah duduk disamping kirinya, secara perlahan Ghanem melepas kan genggaman tangan nya.
Violet dan Karan sejenak saling bertemu bola mata, kemudian dalam hitungan detik Karan membuang pandangannya diikuti oleh violet.
Yang benar saja, hubungan macam apa ini sebenarnya?!.
Ucap violet dalam hati, rasanya dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak saat ini jika ingat mereka sudah menikah, tidak dirumah, tidak diluar tetap sama saja.
********
Violet menarik pelan nafasnya untuk beberapa waktu, dia benar-benar berusaha melarikan diri dari semua orang saat ini, berusaha lari dari sekumpulan orang-orang kaya yang sangat mengganggu perasaan nya,bahkan melarikan diri dari hadapan Karan yang benar-benar terasa seperti orang asing baginya.
Dan Tujuan Paling tepat yang violet fikirkan sejak tadi adalah menuju ke arah balkon.
Gadis itu tampak diam, berdiri di pinggiran balkon yang di Pagari oleh besi-besi pagar berwarna silver.
Sejenak violet menghela nafasnya, dia memejamkan pelan bola matanya untuk beberapa waktu.
Namun tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah sisi kanan nya, sejenak violet mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Apakah sakit?"
"Kenapa pergi tanpa bicara pada ku?"
"Apa bibi muda menemui mu?"
"Paman Saber menemui mu dan kembali bicara yang tidak-tidak?"
"Dia menyakiti mu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar jelas dari violet, tapi aneh nya tidak ada jawaban sama sekali atas pertanyaan-pertanyaan itu,dan violet tahu siapa pemilik suara dari balik bibir itu.
Secara perlahan kaki nya berjalan mendekati ke arah asal suara, seketika bola mata violet membulat sempurna saat tahu siapa yang ada di balik dinding tersebut.
Karan tengah duduk dengan bertumpu pada kedua kakinya, sedangkan seorang perempuan yang dia lihat di dalam elevator bersama karan tadi tampak duduk di atas kursi, dia hanya diam sambil menampilkan bola mata nya yang berkaca-kaca, perempuan cantik itu hanya menggeleng atau mengangguk kan kepalanya saat Karan kembali melontarkan pertanyaan.
Kedua tangan perempuan itu mengelus lembut wajah Karan, seolah-olah menampilkan ekspresi wajah penuh penyesalan disana.
Sepersekian detik kemudian Karan langsung memeluk tubuh perempuan itu, dan ini kali pertama Violet mendengar seorang Karan bin Narayan menangis sambil berkata.
"Maafkan aku karena selalu lamban melindungi mu"
Sosok angkuh dan sombong itu terlihat begitu rapuh dihadapan perempuan yang Violet yakini adalah Rasty.
Seketika Violet menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangan nya, gadis itu mundur dengan cepat, tidak tahu kenapa tapi rasanya pemandangan itu cukup membuat nya Merasa begitu terluka.
__ADS_1