
Seketika Amran terlihat begitu panik untuk waktu yang cukup lama ketika mendengar Ghanem Begitu santai bicara soal kepergian nya ke Prancis malam itu.
Saat Ghanem berlalu pergi meninggalkan dirinya dan melesat dengan mobil laki-laki itu sendiri, secepat kilat Amran langsung masuk kedalam milik nya.
Dia meraih handphone miliknya dan dengan jutaan kekhawatiran mencoba menghubungi seseorang.
Cukup lama belum juga tersambung, hingga akhirnya dia bisa mendengar sahutan dari arah seberang sana.
"Ini aku"
Ucap Amran cepat.
Dia diam sejenak.
"Aku fikir Ghanem menemukan satu kejanggalan malam itu"
Ucap laki-laki itu cepat.
"Apa mungkin Rasty sudah mulai ingat dengan banyak hal? atau jangan-jangan Violet mulai ingat soal kejadian malam itu?"
Lanjut laki-laki itu lagi.
Seketika dia memukul stir mobil nya.
"Ini membuat ku khawatir, jika dia tahu maka aku bisa ikut terseret kedalam nya, aku tidak tahu apa-apa, aku di setir begitu saja, menuruti perintah dengan bodoh nya malam itu"
Ucap Amran lagi.
"Mari bertemu malam ini di tempat itu"
Ucap nya cepat lantas Langsung mematikan panggilan nya.
__ADS_1
********
Bekas Gedung Hurairah company
22.55 PM
Seorang laki-laki tampak mengendap-endap masuk ke bangunan gedung yang usang dan hampir roboh tersebut.
Dengan gerakan panik mengandalkan senter dari handphone nya laki-laki itu mencoba mencari sesuatu di sana, sesuatu yang pernah di tanam oleh dirinya hampir 5 tahun yang lalu di malam tragedi na'as gedung tersebut.
Perasaan cemas jelas melanda dirinya, dengan gerakan cepat laki-laki itu mencoba untuk meraba-raba lantai Sejenak, memastikan posisi yang tepat seolah-olah menghitung jarak, ketakutan jelas mendominasi di balik wajah nya saat ini.
Pada akhirnya laki-laki itu menghentikan gerakan tangannya, dia diam sejenak lantas mengembangkan senyuman di balik gelapnya keadaan.
Bisa dilihat laki-laki itu mencoba mengangkat keramik dari hadapan nya itu, dia meraba-raba bawah lantai tersebut untuk beberapa waktu, mencoba mendapatkan sesuatu dari bawah sana.
Anehnya yang dia cari seperti nya tidak ada, bisa dia lihat dari kerutan di kening nya.
"Shi..t dimana dia?"
"Mencari sesuatu, paman?"
Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya.
Laki-laki itu melonjak kaget, dengan refleks mundur begitu saja, pegangan nya pada keramik terlepas dan Seketika dia terbelalak.
"Aku sudah mengambil nya sejak semalam"
Ucap Suara itu lagi
Taaakkk
__ADS_1
Terdengar suara lampu dinyalakan,Tiba-tiba Ghanem muncul di antara kegelapan.
"Ghanem?"
Laki-laki itu tercekat, bola matanya membulat dengan sempurna.
Ghanem tampak melangkah dengan begitu santai menuju ke arah laman Amran nya, dengan kedua tangan berada di kantong celana nya, dia menatap bola mata laki-laki itu dengan tatapan yang begitu mengerikan.
"Aku sudah memasukkan buktinya ke pengadilan"
Ucap Ghanem lagi.
Mendengar kata kata bukti ke pengadilan, laki-laki itu Seketika mencoba bicara pada Ghanem.
"Ini kesalahpahaman, paman benar-benar tidak terlibat didalam nya, malam itu paman tidak sengaja kembali atas perintah..."
Amran menggantung kalimatnya, dia fikir tidak mungkin dia menyebutkan nama itu di hadapan keponakan sang istri.
Seketika laki-laki itu memejamkan bola matanya, dia mencoba menetralisir perasaan nya.
"Yah kau bisa melakukan nya, kau bisa...."
Saat Amran akan melanjutkan kata-katanya tiba-tiba Ghanem menyela.
"Kau tidak ingin keluar dari tempat mu, kakek?"
Tanya laki-laki itu tiba-tiba sambil melirik ke arah sisi kanan nya.
Begitu laki-laki itu bicara seperti itu, Amran jelas menganga.
"Ghanem?"
__ADS_1
"Keluar lah dari tempat persembunyian kakek"
Ucap Ghanem lagi sambil menatap bayangan dibalik dinding di sisi kanan nya itu, laki-laki itu menggenggam erat telapak tangan nya, dia mencoba mengepal telapak tangan nya sambil mengeratkan rahangnya sejenak.