Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Ingatan yang datang tiba-tiba


__ADS_3

Ghanem cukup terkejut saat tahu-tahu Britania sudah berdiri di depan pintu Mansion mereka.


"sudah siap?"


Tanya perempuan itu sambil mengembangkan senyumannya.


Alih-alih menjawab Ghanem membuang pandangannya, laki-laki itu mencoba untuk kembali masuk ke dalam Mansion nya untuk beberapa waktu.


"Ada apa?"


Britania bertanya sambil menaikkan alisnya.


"Bukankah sejak awal aku bilang jangan terlalu ikut campur dengan urusan ku, aku membutuhkanmu karena kamu satu-satunya yang menyelamatkanku tapi bukan berarti setiap gerak-gerik ku harus kamu yang mengendalikan nya"


Ucap Ghanem tiba-tiba sambil menatap tajam bola mata Britania.


"Tindakanmu beberapa hari ini mulai membuatku tidak nyaman, seolah aku adalah milikmu yang tidak bisa kau lepaskan"


setelah berkata begitu Ghanem langsung melengo meninggalkan Britania menuju ke arah mobilnya.


seketika Britania menggeram, dia menggenggam erat telapak tangannya.


Perempuan itu langsung melangkah menyusul ke arah Ghanem.


"Kau selalu seperti ini sejak dulu"


Britania tampak merenggut, perempuan itu menatap bola mata Ghanem dengan berkaca-kaca.


Ghanem menghela kasar nafasnya.


Tidak tahu kenapa dia paling sulit melihat perempuan menangis.


Bukan karena iba, tapi dia fikir melihat mereka menangis membuat dia ingat pada seseorang.


Seketika telinga Ghanem berdenging, rasa sakit dikepala nya Menghantam tiba-tiba.


Laki-laki itu menundukkan kepalanya sejenak, memegang kepalanya untuk beberapa waktu, suara-suara saling bersahutan dikepalanya.

__ADS_1


"Jangan menangis, itu membuat ku terluka."


"Kau tahu aku tidak bisa melihat air mata ini mengalir begitu saja."


"Semua pasti baik-baik saja."


"Violet, kamu mendengarkanku?''


"Aku mencintai kamu"


"Jangan jatuh cinta pada Karan sebelum dia jatuh cinta padamu, sebab ketika kamu jatuh lebih dulu dan terluka akan terasa sakit sekali disini"


"Kak?"


"Kak?"


"Kak...apa kamu disana?"


"Kak?"


Britania terlihat panik melihat ekspresi Ghanem, perempuan itu bertanya sambil memegangi wajah ghanem untuk beberapa waktu.


"Don't touch my face"


Seketika bola mata Ghanem memerah.


Britania langsung terkejut dan melepaskan sentuhan nya.


Satu ketakutan nya terjadi saat ini.


"Apa kamu tiba-tiba mengingat sesuatu?"


Tanya perempuan itu sedikit panik.


"Aku bilang menyingkir dari Ku"


Ghanem Tampak terus memegangi kepalanya, keringat dingin membasahi kening nya.

__ADS_1


Britania secepat kilat mencoba meraih botol obat di dalam tas nya, dia mencoba memberikan nya pada Ghanem.


"Sayang?"


Ghanem sama sekali tidak peduli pada apa yang diberikan Britania, dia mencoba menggeleng-gelengkan kepalanya untuk beberapa waktu.


Dia fikir apa yang barusan dia ingat?.


itu suara Violet.


Suara itu menggema di balik ingatan nya, memenuhi seluruh urat syarafnya Secara tiba-tiba, rasa sakit mendominasi, tatapan bola mata itu tampak berubah-ubah, ceria, bersedih bahkan seperti orang bingung menatap dirinya.


Tidak asing, seolah-olah terjadi baru kemarin.


"Kamu tidak apa-apa?"


Britania terus bertanya, mencoba menyadarkan dirinya dari ingatan acak yang datang secara tiba-tiba.


Sejenak Ghanem meletakkan kepalanya di stir mobil nya, laki-laki itu mencoba menetralisir perasaan nya.


Dia diam sejenak untuk beberapa waktu, tidak mengeluarkan suara apapun sejak tadi.


"Sayang?"


Britania kembali mengeluarkan suara nya.


Ghanem langsung menyadarkan diri nya, mencoba membenahi posisi nya untuk beberapa waktu.


"Kamu tidak apa-apa?"


Britania terus bertanya.


Sejenak Ghanem menoleh ke arah Britania.


"Lupakan saja"


Ucap Ghanem lantas membuang pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2