
Sejenak Ghanem menatap suami bibi tua Hurairah, laki-laki paruh baya itu terlihat begitu sibuk belakangan ini, sangat sulit sekali untuk bisa bicara dengan laki-laki itu Jika tidak dalam keadaan terdesak.
Dia membuat janji temu pagi ini secara mendadak di kafe xxxxxx, dia tahu laki-laki itu tidak akan bisa menolak panggilan nya.
Ghanem terus memperhatikan gerak-gerik laki-laki itu untuk beberapa waktu, membiarkan laki-laki itu terlalu sibuk dengan urusan nya dan handphone nya.
Dia Fikir malam itu suami bibi nya ini harusnya berada di Prancis, melewati penerbangan malam seperti yang telah di jadwalkan oleh sang Daddy, tapi kenapa laki-laki itu bisa berada di gedung peresmian Hurairah yang baru?.
Lalu kenapa laki-laki itu tidak bicara sama sekali jika malam itu dia ada didalam gedung, menunda keberangkatan dan membuat alibi sempurna jika dia pergi dengan penerbangan ke Prancis?.
Ghanem ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi dia jelas tidak bisa sembarangan menuduh tanpa mengumpul kan banyak bukti.
Dia Fikir dia butuh menggiring laki-laki itu saat ini, bisa jadi ada orang lain lagi yang terlibat di sana malam itu, Ghanem harus mencari tahu soal kenyataan tentang Daddy nya satu persatu.
Dia buruh menarik ulur benang penghubung di antara semua orang untuk mendapatkan sang pelaku dan apa keuntungan yang di dapat dari kematian Daddy mereka malam itu.
"Maafkan paman karena begitu sibuk"
Tiba-tiba laki-laki itu bicara sambil meletakkan handphone nya ke atas meja.
"Bukan masalah"
Ucap laki-laki itu sambil menatap lurus ke arah suami bibi nya itu.
__ADS_1
Ghanem tetap seperti biasa, menatap siapapun dengan pandangan dingin dan menelisik nya.
"Apa ada hal yang begitu penting yang ingin kamu bicarakan? maksud paman Agak sedikit aneh saat kamu bilang ingin bertemu dan bicara 4 mata pagi ini"
Tanya laki-laki itu sambil mengembangkan senyuman nya.
Ghanem tampak meraih cangkir teh nya, dia menyesap Secara perlahan minuman nya untuk beberapa waktu.
"Sebab paman cukup sulit bisa bertemu dengan kamu selama ini, jelas menjadi sebuah pertanyaan besar karena tiba-tiba laki-laki penting seperti kamu tahu-tahu ingin bertemu dan bicara dengan menantu kecil keluarga Hurairah"
Laki-laki itu bicara sambil ikut meraih cangkir kopi nya
Ganem fikir sejak dulu Laki-laki itu selalu begitu pandai bicara, menarik simpatik bahkan bermulut manis dengan siapa saja.
Jika bukan karena bibi nya yang begitu tergila-gila pada laki-laki itu, bisa Ghanem jamin tidak ada satupun keluarga kelas atas yang mau menjadikan laki-laki ini menantu mereka.
"Aku mendengar ada yang membuka kembali kasus kematian Daddy"
Ghanem bicara sambil menatap tajam wajah laki-laki dihadapan nya itu.
Laki-laki dihadapan nya itu baru saja menyeruput kopi nya, begitu mendengar ucapan Ghanem seketika dia terbatuk-batuk tanpa bisa berhenti.
Beberapa kali laki-laki itu memukul dada nya karena batuk nya tidak ingin berhenti.
__ADS_1
Uhukkk
Uhukkk
Ghanem langsung menggeser sebotol minuman mineral yang ada dihadapan nya dengan santai ke arah laki-laki itu.
"Kenapa sebegitu terkejut nya saat mendengar perkataan ku, paman Amran?"
Tanya Ghanem sambil melipat kedua belah tangannya, dia bersandar di kursi dimana dia duduk, terus memperhatikan gerak-gerik dari laki-laki dihadapan nya itu.
Yang di panggil Amran seketika mencoba meminum air mineral dihadapan nya itu sejenak.
Kemudian Dia tertawa pelan sambil berkata.
"Hanya sedikit terkejut kamu membuka kembali kasus nya"
Ucap nya cepat, menampilkan ekspresi yang begitu tidak mengenakkan.
"Aku tidak bilang aku yang membuka kasus nya, tapi aku fikir paman pertama yang membuka kembali kasus nya bersama seseorang yang belum aku ketahui siapa"
Saat mendengar ucapan Ghanem seketika laki-laki itu membulatkan bola matanya.
"Apa..?"
__ADS_1
Tanya Amran sambil menatap Ghanem dengan pandangan tidak percaya.