Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Pertemuan tidak terduga


__ADS_3

Bibi kedua Ghanem jelas tercekat saat tiba-tiba sang Daddy nya tuan Narayan menjemput Violet untuk mendatangi apartemen Karan siang ini.


Alea jelas gemetaran, dia fikir bagaimana jika karan tidak ada disana dan meninggalkan Rasty seorang diri?. dia ingin menghubungi suami nya Hill tapi dia takut Daddy nya mencurigai gerak-gerik nya.


"Dad aku fikir apa tidak sebaiknya kita pergi besok atau malam nanti? aku dan Hill harus pergi sejenak"


Ucap Alea cepat pada sang Daddy.


Tuan Narayan jelas menaikkan ujung alisnya.


"Aku fikir Hill baru saja pergi ke Hillatop company, bagaimana bisa kalian tiba-tiba punya urusan mendadak?"


Tuan Narayan jelas bicara dengan nada yang sedikit meninggi, dia paling tidak suka orang-orang membuat alasan dihadapan nya.


Alea menelan salivanya.


Dia fikir apa tidak sebaiknya dia mencari cara untuk bisa menghubungi Ghanem saat ini, tapi dia tidak punya cara untuk melakukan nya.


"kami bisa pergi sendiri"


Oh shi..t.


Begitu Daddy nya memutuskan untuk pergi sendiri dengan violet, Alea secepat kilat menyambar kunci mobil nya, dia mencoba menghubungi sang suami dari handphone nya.


"Kamu dimana?"


"Ada apa?"


Terdengar sahutan dari seberang sana.


"Daddy akan pergi ke apartemen Karan, bantu aku Carikan seseorang untuk membawa Rasty menjauh dari sana"


Dia tahu suami nya paling enggan terlibat skandal keluarga, Hillatop dan Hurairah saling tidak peduli soal skandal, mereka lebih peduli dengan urusan bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak.


Tapi kali ini dia terpaksa melibatkan sang suami untuk urusan keluarga nya.


"Sayang, apa itu tidak terlalu pelik, Daddy bukan orang yang suka urusan anak dan cucu nya menjadi urusan orang lain?"

__ADS_1


Hill bicara dibalik handphone nya dengan perasaan ragu.


"Ini bukan orang lain, Rasty bagian dari keluarga Narayan, dan kamu juga menantu keluarga Narayan"


Alea terpaksa menaikkan oktaf suaranya.


Dia tahu hill paling takut mendengar dia marah, bukan karena hill takut dalam artian bagiamana, tapi laki-laki itu tidak pernah mau melihat Alea kecewa.


"Aku akan minta seseorang pergi kesana"


Ucap hill pelan.


Alih-alih membalas ucapan hill, Alea langsung mematikan panggilan nya, secepat kilat melajukan mobil nya dan berusaha mengejar kecepatan berharap dia tidak terlambat mendahului Daddy nya dan violet.


*******


Violet melangkah mengikuti kakek Narayan, dia fikir kemana laki-laki tua Hurairah itu akan membawa nya, rupanya kakek Narayan membawa nya menuju ke hunian apartemen mewah di tengah pusat kota Jakarta.


Tidak tahu kenapa tapi violet bisa melihat amarah yang mendalam dari balik bola mata laki-laki tua itu, seolah-olah laki-laki tua itu siap menyerang siapa saja yang ada dihadapan nya.


Mereka akhirnya berhenti disebuah pintu apartemen, tanpa banyak bicara laki-laki itu membuka kunci pintu apartemen itu tanpa banyak bicara, seolah-olah dia memiliki kunci sendiri untuk membuka pintu tersebut.


Seketika pintu apartemen terbuka.


Kakek tua masuk dengan cepat kedalam, violet ikut masuk kedalam apartemen tersebut tanpa banyak bicara.


Saat mereka masuk kedalam tiba-tiba Violet terpaku pada satu sosok perempuan yang tampak duduk di atas kursi sofa yang arah nya menghadap tepat ke arah mereka,. perempuan itu berusaha berdiri dari posisi nya saat sadar seseorang masuk kedalam tempat tinggal nya.


Kakek Narayan secepat kilat melesat mendekati perempuan itu kemudian tanpa banyak bicara, laki-laki itu langsung menarik perempuan itu dan menghempaskan tubuhnya ke atas lantai.


Bukan tindakan kakek Narayan yang membuat dirinya terkejut, tapi sosok perempuan itu lah yang membuat violet terkejut setengah mati.


"Hah...?!"


Violet langsung menutup mulutnya dengan kedua belah tangan nya.


Sekelebat ingatan menghantam kepalanya.

__ADS_1


Violet mematung saat tangan sang papa nya melepaskan seorang gadis muda dari lantai atas bangunan pencakar langit yang baru diresmikan itu.


Otaknya berfungsi dengan tidak baik, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, papa nya mencoba membunuh seorang gadis yang tidak bersalah.


Begitu gadis itu melesat jatuh kelantai bawah, darah berhamburan di sana, Violet tidak tahu gadis itu masih hidup atau mati, tapi bisa dia lihat gadis itu masih menggerakkan telapak tangan nya.


Violet masih berusaha menggenggam lampu hias yang mulai merosot dari telapak tangan nya dari lantai atas, dia berusaha menarik Lampu itu agar tidak ikut melesat jatuh, tapi tiba-tiba sang mama nya datang, menggenggam erat tangan Violet sambil berbisik.


"Lepaskanlah, kita harus segera pergi dari sini"


Violet menggelengkan kepalanya, dia kenal gadis yang ada dibawah sana, gadis itu berada di gelanggang yang sama bersama nya Di tiap perlombaan ice skating, gadis itu pernah di curangi nya oleh perbuatan sang mama nya, kali ini violet fikir jika dia melepaskan lampu hias itu kearah gadis yang sekarat di tangan papanya, artinya dia telah membunuh gadis itu dengan sengaja.


"Tidak"


Ucap violet masih berusaha menggelengkan kepalanya.


"Polisi akan datang, mereka akan menangkap papa mu, lepaskan lah mama mohon"


Sang mama mengencangkan genggamannya, memaksa Violet melepaskan rantai lampu hiasnya, dia tahu tangan nya mulai kebas, bahkan mulai mengeluarkan darah segar disana.


Dia masih menggelengkan kepalanya, tapi seiring berjalannya waktu genggaman itu mulai mengendur atas paksaan sang mama.


Air mata violet mulai mengalir, dia terisak sambil menggelengkan pelan kepalanya seiring lepas nya rantai lampu hias itu dari tangannya.


Pranggggggg


Suara hantaman keras dari lampu hias kristal itu menghantam lantai bawah bangunan mewah tersebut, Jutaan kepingan lampu hias itu seketika pecah berhamburan tepat disamping gadis itu.


Saat sang mama menarik tangannya dengan paksa, Bisa dia lihat kepingan kaca itu menghujami tubuh gadis yang tampak terjatuh tak berdaya sejak tadi, bola mata gadis itu masih terbuka sejenak kemudian seolah-olah sesuatu menyambar matanya, seketika gadis itu memejamkan matanya.


Violet masih berusaha menoleh kebelakang untuk beberapa waktu, bangunan gedung itu mulai di penuhi asap dan api mulai menyambar kemana-mana, seketika tangisan violet malam itu pecah.


Di keesokan harinya sebuah berita mengerikan pecah, papa nya digiring kekantor polisi atas tuduhan pembunuhan menantu keluarga Narayan, tidak ada yang menyinggung soal gadis malang itu sama sekali dibalik telinga violet.


Tapi papa nya bisa melewati semua tuduhan dengan membayar 7 pengacara sekaligus, satu nama keluarga terseret dalam kasus tersebut, dan nama baik keluarga mereka memang baik-baik saja, tapi perusahaan papa nya jatuh bangkrut seketika, sang mama mulai sakit-sakitan dan rahasia malam itu tidak pernah lagi keluar dari mulut mereka selama bertahun-tahun lama nya.


Violet langsung terduduk dilantai, saat dia melihat kakek Narayan menyeret perempuan yang wajah nya sama persis dengan gadis di malam itu.

__ADS_1


Tidak.... tidak...!!!!


Violet berusaha untuk menutup kedua telinganya.


__ADS_2