Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Nenek sihir tua Hurairah


__ADS_3

Mendengar ucapan Ghanem violet mencoba tersenyum, mengikuti langkah Ghanem menuju ke pintu elevator yang berbeda, seolah-olah laki-laki itu paham bagaimana caranya membuat violet dan Karan agar tidak bertemu secara kebetulan, sang kakak ipar berusaha untuk menjaga betul perasaan nya.


Saat masuk ke satu ruangan yang dihuni oleh jutaan lautan manusia, Ghanem berkata pada nya.


"Kamu bisa berbaur sejenak, aku akan menemui kakek tua Narayan"


Ucap Ghanem.


Laki-laki itu jelas tidak bisa menemui sang kakek bersamaan dengan violet, akan jadi tanda tanya besar untuk sang kakek kenapa dua orang yang status nya ipar bisa datang bersamaan.Dimana realita nya Karan datang bersama gadis lain dari arah yang berbeda.


Violet hanya mengangguk, paham maksud dari laki-laki itu, dia ingin mereka menemui kakek tua Humairah Secara bergantian.


Violet mencoba sedikit menepi dari semua orang, dia sama sekali tidak mengenal siapun yang ada di sana, bahkan violet merasa menjadi orang asing yang dikelilingi oleh manusia-manusia yang berpakaian mewah.


Sejenak gadis itu menghela nafas nya, rasa tidak nyaman mulai menyeruak kedalam diri nya.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba pundak nya disentuh oleh seseorang.


"Nyonya Karan bin Narayan?"


Suara seorang wanita memenuhi gendang telinga nya.


Ketika violet menoleh, gadis itu jelas membulatkan bola matanya.


"Bibi Melly?"


Itu adalah bibi tua Hurairah, wanita paling ingin tahu urusan orang lain yang lupa berkaca pada kehidupan nya sendiri yang begitu hancur berantakan.


Memiliki hubungan yang payah dengan suami nya karena perangai buruknya, diluar terlihat akur, didalam sebenarnya mereka lebih tepatnya saling tidak menginginkan, suami yang memiliki simpanan, dia yang menjalin kasih dengan sang sopir kepercayaan, anak-anak yang kacau balau dimana yang laki-laki seorang penjudi dan pemabuk, sedangkan sang putri begitu liar tidak terkendali.

__ADS_1


Violet jelas paling enggan bertemu dengan wanita tua itu, tapi apa hendak dikata takdir harus mempertemukan mereka saat ini.


"Halo bibi"


Violet menundukkan kepalanya secara perlahan, memberikan tanda sebagai penghormatan.


"Dimana Karan?"


Bola mata wanita itu mulai menyusuri seluruh ruangan, mencari sosok Karan yang belum juga terlihat di antara semua orang.


Violet enggan menjawab pertanyaan wanita itu, dia lebih memilih diam.


"Kau ini seharusnya mengikuti kemana ekor suami mu bergerak, bukan nya menyelinap dan memilih untuk berada di sudut ruangan seperti ini, bahkan bukan nya datang menemui orang tua, kau malah mendekati meja makan di waktu yang begitu awal?!"


Mulut pedas nya memang seperti itu, bicara tanpa berfikir terlebih dahulu.


"Aku Fikri akan menemui semua keluarga tertua setelah Karan ada, akan sangat aneh jika aku menemui kalian sendirian, bi"


Ucap violet dengan suara serendah mungkin.


"Cihh... anak muda sekarang begitu banyak membuat alasan"


Violet mencoba membuang nafasnya.


Dia fikir dulu menikah saja sudah cukup, tidak Pernah terpikir kan jika didalam keluarga suami akan ada seorang nenek sihir yang harus dengan sabar untuk bisa dihadapi.


"Maafkan aku,bi"


Violet mencoba menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ckckckck benar kata bipashu, kau tidak cocok menjadi menantu keluarga Hurairah, Hahhhh entah apa yang difikirkan laki-laki tua itu?"


Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Violet saat wanita itu berkata seperti itu, sakit!. Tapi gadis itu sejak dulu telah terbiasa hidup dengan lingkaran keras seperti itu dan berhadapan dengan type manusia seperti itu sejak usia kecilnya.


Saat wanita itu ingin kembali bicara, tiba-tiba Ghanem mengejutkan wanita tersebut.


"Kenapa bibi ada disini?"


Laki-laki itu menatap datar kearah bibi Melly, ekspresi nya terlihat begitu dingin dan seram.


"Oh... keponakan tertua, hari ini rupanya kami datang juga?"


Ekspresi wajah wanita itu seketika berubah begitu ramah dan penuh ketakutan, seolah-olah Ghanem adalah singa yang harus dia hindari keberadaan nya.


"Kau apa kah datang dengan menantu muda? dimana saudara laki-laki mu?"


Suara wanita itu seketika melembut sempurna, bicara seolah-olah siap menjilati sepatu yang laki-laki dihadapan nya itu gunakan saat ini.


"Apakah kehidupan ku saat ini, akan jadi urusan bibi juga?"


Tanya Ghanem sambil menaikkan ujung alisnya.


Wanita itu tampak begitu malu, bisa violet lihat getaran di telapak tangannya.


Alih-alih mempedulikan wanita itu, tiba-tiba Ghanem meraih telapak tangan Violet dan menariknya agar segera menjauhi bibi tua Hurairah itu.


"Eh?"


Violet jelas saja terkejut, seketika Violet menatap Ghanem lantas menatap telapak tangan nya yang di genggam erat oleh laki-laki itu, membawa nya menjauh dari wanita penyihir itu dan mulai menyeruak masuk di Antara kerumunan orang-orang yang di ada di tengah-tengah gedung.

__ADS_1


__ADS_2