
NH Collection Roma Fori Imperiali hotel
Roma
Italia
Elvitania memaksa untuk membuka bola mata nya secara perlahan, awal nya dia fikir rencana nya untuk pura-pura tertidur akan berhasil.
Tapi rupanya Britania dan nenek muda Hurairah jelas lebih licik dari pada perkiraan nya, sang saudara kembar dan wanita mengerikan itu kembali meminta orang untuk menyuntikkan nya dengan obat penenang atau obat tidur kembali ke tubuh nya.
Mereka mungkin sudah bisa membaca situasi, jika dia sadar maka bisa jadi rencana mereka akan hancur berantakan.
Tapi dia tidak bisa terlena, dia memaksa diri untuk bangun dari keadaan mau tidak Mau.
Sejenak dia mencoba mencari sesuatu di balik pakaian nya.
Handphone yang dia dapatkan dari salah satu orang suruhan Britania.
"Aku hanya bisa membantu anda hingga disini, selebihnya anda bisa bergerak sendiri, aku punya anak dan istri yang harus di beri makan, jika ketahuan maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka"
Ucap laki-laki itu dengan pandangan iba me arah elvitania.
"Kadang seseorang melakukan kejahatan karena mereka punya alasan khusus, keadaan kadangkala harus menjadi alasan paling logis untuk orang-orang seperti kami menghilangkan hati nurani,maafkan aku"
Elvitania mencoba menyalakan handphone tersebut, dengan tangan gemetaran dan nafas yang sedikit tersengal-sengal dia menunggu handphone tersebut menyala.
Please.....lebih cepat.
__ADS_1
Batin nya sambil terus menggigit pelan bibir bawah nya, kepanikan jelas menghantam Elvitania, dia terus menatap kearah pintu kamar hotel tersebut, takut jika-jika seseorang berusaha menyeruak masuk ke sana.
Cukup lama hingga akhirnya handphone tersebut menyala, elvitania secepat kilat menekan nomor-nomor yang sejak lama dia hapal di luar kepala nya.
Dia mencoba menyambung kan panggilan nya, cukup lama hingga akhirnya terdengar suara di seberang sana.
"Halo?"
Oh god.
Dia hapal betul siapa pemilik suara di seberang sana.
"kak?"
Dia benar-benar ingin menangis saat ini juga.
Pertanyaan dengan jutaan kekhawatiran itu menerjang di balik gendang telinga nya.
"Aku tidak tahu pasti nya, tapi ini kamar hotel, ada teras, bangunan dengan konstruksi dengan beberapa pejuang berkuda di atas nya"
Ucap elvitania cepat.
"Aku akan coba memotret nya dan... hmpp..."
Tanpa pernah dia sadari, seseorang melangkah dari arah pintu depan, menatap dirinya sejak awal, mendekati dirinya dan Seketika membekap mulutnya dengan sesuatu.
Elvitania terkejut bukan main, dia mencoba memberontak tapi dia jelas kalah kuat, dan dalam hitungan detik handphone yang dia pegang terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi hmmm"
Elvitania jelas membulatkan bola matanya Saat Sadar siapa yang bicara di hadapannya.
Laki-laki itu berjalan perlahan Lantas berdiri tepat di hadapan nya, dimana seseorang mencoba mengencangkan pegangan nya di belakang dirinya dan menutup dengan kasar mulutnya.
"Mari bermain-main sejenak bersama"
Ucap laki-laki itu dengan wajah marah nya.
Bola mata elvitania mulai terasa berat, pandangan nya perlahan mengabur dan menghilang diiringi air mata yang mulai tumpah.
"Bawa dia keluar"
Dia masih bisa samar-samar mendengar suara seorang laki-laki di belakang nya ketika kesadaran nya benar-benar menghilang dari kepala nya.
Terdengar teriakan panik di seberang sana.
Laki-laki dihadapan elvitania meraih handphone itu, menatap nomor yang ada di layar tersebut.
Seringai mengerikan jelas terlihat dari balik bibir nya.
"Ada apa, Vitania... Vitania....banjingan... bergerak sekarang"
Suara panik mendominasi di seberang sana.
"Ba..jingan..kalau kau berani menyentuh dia, aku pastikan akan menghancurkan kalian..."
__ADS_1
Laki-laki itu langsung mematikan panggilan nya, menghantam handphone tersebut ke lantai lantas menginjak nya dengan begitu keras.