Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Pasangan yang selalu saling bertahan


__ADS_3

Rasty perlahan membenahi selimut untuk menutupi tubuh Karan, laki-laki itu baru menyelesaikan makan malam nya.


Mommy Karan dan bibi tua Hurairah memilih untuk kembali kekamar Mereka lebih awal, dan dia fikir akan pergi melelapkan diri sebentar lagi.


Sejenak perempuan itu melirik kearah jam di dinding, pukul 21.30 PM, Rasty fikir benar masih terlalu dini jika dia ingin melelapkan diri saat ini.


Pilihan yang baik mungkin mengecek kembali laporan keuangan akhir tahun, memperhatikan tiap angka keluar masuk dan juga huruf-huruf yang tertera di Balik layar laptop nya, siapa tahu ada hal yang terlewatkan disana tanpa dia sadari.


Tapi baru dia akan beranjak tiba-tiba tangan Karan menahan telapak tangan nya.


"Mau kemana?"


Sebaris pertanyaan itu mengejutkan dirinya, Rasty buru-buru menoleh.


"Aku fikir kamu sudah tertidur lelap?"


Tanya perempuan itu pelan.


"Aku sudah tertidur cukup lama, seperti nya aku memikirkan untuk bergadang semalaman"


Suara Karan jelas terdengar seperti sebuah kode godaan.


Seketika Rasty terkekeh.


"Aku mendengar nya seperti sebuah kalimat penawaran, Hm...ajakan lebih tepatnya?"


Karan menaikkan ujung alisnya.


"Menurut kamu?"

__ADS_1


Rasty menggelengkan kepalanya secara perlahan, dia langsung duduk tepat disamping Karan.


"Tubuh ini belum pulih betul"


Ucap perempuan itu sambil menyentuh lembut dada Karan.


"Aku fikir sudah berpuasa begitu lama"


Lagi-lagi Rasty terkekeh mendengar ucapan Karan.


"Itu terdengar memalukan, saat seorang Karan bin Narayan harus bicara soal sesuatu yang sangat vulgar"


Ejek Rasty lantas kembali membenahi selimut Karan.


"Hmmmm Aku hanya bicara seterbuka itu pada istri ku"


Setelah berkata begitu laki-laki itu langsung menarik Perlahan tubuh Rasty, meminta perempuan itu ikut berbaring, masuk ke dalam dekapan Dada nya dan tenggelam bersama didalam kasur mendominasi berwarna putih tersebut.


Rasty membiarkan laki-laki itu menenggelamkan tubuhnya kedalam dada laki-laki tersebut, dia mencoba membenahi posisi nya.


Tidak dipungkiri dia benar-benar merindukan aroma ini, aroma yang selalu menemani dirinya baik dikala suka maupun duka.


Disaat laki-laki lain mungkin akan meninggal kan kekasihnya ketika diterpa ujian berat tak berdasar, dimana dia harus merasakan kelumpuhan akan tragedi masa lalu, tapi laki-laki nya tetap bertahan dengan semua nya, menggenggam erat tangan nya tanpa pernah mengeluh sedikitpun.


Merawat nya dengan setulus hati, diam-diam menangis di belakang nya tanpa ingin dia mendengar atau mengetahui nya.


Karena itu Rasty tidak pernah berfikir untuk sedikit pun berpaling, sebab satu-satunya laki-laki yang dengan setia menggenggam erat telapak tangan nya hanya Karan dan tidak ada laki-laki lain.


Dan Laki-laki itu telah hadir didalam hidupnya sejak dia kecil, mereka sempat terpisah untuk beberapa waktu lalu bertemu kembali dengan cara yang unik.

__ADS_1


Dan lucunya Karan masih tetap mengenali nya ketika dia sama sekali tidak bisa mengenali laki-laki itu didalam pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun lama nya.


"Apa kamu merindukan aku?"


Tanya Karan sambil mengelus lembut kepala Rasty, dia memeluk tubuh perempuan itu begitu hangat.


"Kamu paling tahu bagaimana hati ku"


Ucap Rasty pelan sambil menyentuh lembut dada Karan.


"Hmmm"


Karan ber hmmm ria sejenak, secara perlahan dia meraih jemari-jemari halus sang istri.


"Belum ingin menceritakan pada ku soal kejadian-kejadian yang terjadi selama aku koma?"


Tanya Karan tiba-tiba.


Sejenak Rasty membeku.


"Ya?"


"Aku fikir Britania sudah kembali mencoba mengusik kehidupan Ghanem bukan?"


Ucap laki-laki itu lagi.


Secepat kilat Rasty mendongak kan kepala nya.


"Sayang, bagaimana kamu...?"

__ADS_1


Perempuan itu jelas terkejut mendengar ucapan dari suami nya.


Dia fikir bagaimana bisa Karan tahu soal itu.


__ADS_2