
Mansion utama
Ghanem Hurairah
Setelah jam makan malam
Setelah kejadian pagi tadi violet merasa tidak punya muka untuk keluar dari kamarnya, dia takut jika dia tanpa sengaja kembali bertemu dengan Ghanem.
Dia fikir saran dari senua orang untuk menjadi gadis yang agresif sangat tidak masuk akal, belum juga menjadi agresif dia sudah mendapatkan malu setengah mati untuk beberapa hal sejak pagi tadi.
Perihal tidur di kamar Ghanem, tubuh telanjang dada bahkan kejadian di lift yang begitu memalukan.
Rasanya dia sudah tidak memiliki muka lagi malam ini.
niat hati ingin langsung tertidur lelap hingga pagi hari, hari tiba-tiba bibi pelayan rumah berkata.
"Maafkan saya nona, saya harus kembali ke rumah utama keluarga Hurairah sekarang, bibi tua meminta saya Menemui nya Sekarang juga, sopir nya sudah menjemput saya"
Perempuan paruh baya itu bicara sambil menundukkan kepalanya.
"Ah...bukan masalah, bibi bisa pergi sekarang"
Jawab Violet cepat.
"Tapi nona..."
wanita paruh baya itu menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
Violet tampak mengerutkan dahinya.
"Ada apa? bibi bisa bicara sekarang juga jika ada hal mendesak yang bisa saya bantu"
"Tuan Ghanem belum makan, malam ini tuan enggan menyentuh menu makan malam yang saya buatkan, Tuan punya penyakit lambung jadinya perutnya tidak bisa kosong hingga besok pagi"
Ucap wanita itu secara perlahan.
"bisakah Nona membuatkan tuan mie hangat? Tuan tiap kali tidak berselera makan paling suka makanan seperti itu"
jelas Bibi pelayan itu lagi.
violet jelas sedikit tercekat.
Membuat kan nya mie instan?.
lanjut wanita paruh baya itu lagi dengan wajah khawatir.
Seolah-olah kebiasaan buruk Ghanem sangat tidak baik.
gadis itu tampak berusaha tertawa.
"Bukan masalah, bik"
Bukan masalah?!.
sebenarnya ini jelas menjadi masalah, bukan persoalan mie instan yang akan dia masak, tapi yang menjadi persoalan utama adalah itu berarti dia harus menemui Ghanem, memberikan mie itu dan mereka harus saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Bukankah itu benar-benar tidak menguntung kan untuknya?!.
"Aku akan membuat kan nya"
Ucap Violet pelan.
Saat Bibi pelayan rumah telah pergi meninggal kan mereka, pada akhirnya mau tidak mau Violet turun kelantai bawa secara perlahan.
Dia terlihat mengintip sejenak dari arah pintu kamarnya, menyembulkan kepalanya persis seperti seorang pencuri yang ingin masuk ke rumah orang lain.
dia berjalan perlahan sambil menjinjiitkan kakinya menoleh ke kiri dan ke kanan akan ke depan jika ke belakang.
Benar-benar terlihat persis seperti pencuri amatiran.
Merasa tidak melihat sosok laki-laki itu, secepat kilat Violet menembus kearah dapur dan mau tidak mau atau suka tidak suka dia membuat kan laki-laki itu mie instan.
Dia bisa saja asal membuatnya, tapi pikir dia tidak punya hati sebusuk itu untuk membuat sembarangan mie instan untuk Ghanem.
Dan akhirnya dia benar-benar menyiapkan menu makan malam laki-laki berstatus suami nya itu untuk beberapa waktu.
Entah laki-laki itu ada di mana, yang jelas violet belum melihatnya hingga saat ini.
Gadis itu tampak tersenyum melihat hasil akhir mie instan buatan nya, tidak tahu lezat atau tidak yang penting dia membuat nya dari dalam hati nya yang paling dalam.
Violet menatap ke arah tangga sejenak, dia menatap jauh kearah daun pintu ruang kerja Ghanem yang bisa terlihat dari arah dirinya berdiri.
__ADS_1
Dia menghela pelan nafas nya kemudian mulai melangkah perlahan menuju ke atas sana.