
Violet baru menyelesaikan sesi membersihkan dirinya, setelah selesai berganti pakaian dia fikir akan turun untuk menghabiskan makan malam miliknya.
Gadis itu berjalan secara perlahan menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah dapur.
Sejenak violet menghela pelan nafasnya, dia Fikir ini malam ke 3 Karan lagi-lagi tidak pulang kerumah,dan seperti biasa Ghanem yang mengunjungi nya di pagi hari atau bahkan di saat jam makan malam.
Tapi kali ini sepertinya laki-laki itu tidak datang untuk berkunjung dan melewatkan makan malam bersama.
Sejenak gadis itu melirik ke arah jam didinding, dia fikir ini masih cukup sore 19.50PM, mungkin setelah menghabiskan makan malam dia bisa bersantai sejenak untuk menghabiskan waktu didepan televisi.
Violet mulai melahap menu makan malam nya dengan teratur, cukup lama hingga akhirnya selesai juga.
Saat gadis itu baru menyelesaikan sesi makan malam nya, tiba-tiba bell pintu depan berbunyi.
Violet mengerutkan keningnya sejenak, dia fikir tidak mungkin Karan pulang di jam segini.
ketika dia baru akan melangkahkan kakinya kedepan, tiba-tiba pintu intercom nya berbunyi, seseorang menekan nya dengan begitu lincah.
Tittttt
Tittttt
Tittttt
Tittttt
Tittttt
Tittttt
Kletakkkk
Dalam Hitungan detik pintu mansion tersebut terbuka dengan cepat.
Seketika Violet membulatkan bola matanya saat menyadari siapa Yang tengah berdiri dihadapan nya.
"Kakek? bibi ke dua?"
Violet jelas membeku.
__ADS_1
"Hayyo.... menantu kenapa begitu terkejut melihat kedatangan kami?"
Wanita berusia sekitar 30 tahunan itu bertanya sambil mengembangkan senyuman nya, tangan kirinya menggandeng kakek tua Narayan sambil tangan kanannya membawa sebuah paper bag mendominasi berwarna hitam.
Violet buru-buru mendekati kedua orang tersebut, menyalami kakek dan bibi kedua Hurairah sambil mengembangkan senyuman nya.
"Ambil ini, hadiah untuk kalian"
Ucap bibi ke dua cepat sambil memberikan sebuah paper bag ke arah Violet.
Tangan Violet langsung menerima paper bag tersebut lantas meletakkan nya ke atas meja makan.
Secara perlahan Violet mengintip isinya, mengeluarkan nya satu per satu dari dalam sana.
"Itu obat untuk kesuburan, kakek berharap kalian segera mendapatkan seorang penerus untuk Hurairah"
Mendengar ucapan kakek, seketika Violet menelan Saliva nya.
Obat kesuburan?.
Bagaimana cara nya bisa hamil, bahkan mereka belum pernah melewati malam pertama, bahkan violet berharap mereka tidak akan pernah melalui nya Sama sekali.
Ucap violet secara perlahan.
"Apa kamu sudah makan?"
Bibi kedua bertanya sambil membiarkan kakek Narayan untuk duduk di atas kursi sofa tengah, dia membiarkan violet menyusun beberapa oleh-oleh yang mereka bawa ke dalam lemari pendingin dan kitchen set.
"Sudah, kakek dan bibi sudah makan?"
Violet balik bertanya, menyusun beberapa barang di dalam paper bag tersebut ke beberapa tempat.
Lalu violet mulai mencari gelas dan membuat kan teh hangat untuk kedua orang itu.
"Kami sudah makan sebelum kesini"
Bibi kedua menjawab cepat.
"Ngomong-ngomong dimana Karan?"
__ADS_1
Saat pertanyaan itu dilontarkan, seketika Violet kehilangan kata-kata.
"Apa Karan jarang pulang kerumah?"
Tiba-tiba kakek Narayan bertanya ke arah Violet.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya, wajah laki-laki itu tiba-tiba berubah masam.
"Kenapa tidak ada sandal rumah untuk dua orang?"
Tanya nya lagi tiba-tiba sambil melirik ke arah susunan sandal disisi kiri tangga.
Sejenak Violet menelan salivanya.
"Kakek itu..."
"Apa dia kembali bersama Rasty?"
Laki-laki tua itu tahu-tahu berdiri dengan perasaan marah.
"Dad?"
Bibi kedua ikut bicara namun dengan nada tertahan.
"Pergi ke apartemen utama nya, sekarang"
Laki-laki tua itu melotot tajam ke arah putri nya, dia ingin perempuan itu melihat Karan ke apartemen nya saat ini juga.
"Dad?"
Dibalik pintu depan tampak Ghanem tercekat, dia yang awalnya ingin masuk melihat pintu sedikit terbuka langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara kakek nya.
Begitu nama Rasty di sebutkan bersamaan dengan kata apartemen utama Karan, laki-laki itu langsung melesat pergi sambil meraih handphone nya dalam hitungan detik.
"Kau dimana?"
Ghanem bertanya dari Balik handphone nya.
"Kembali ke mansion utama, ada kakek disana dan dia terlihat begitu marah, dia meminta bibi kedua menuju ke apartemen kalian. aku yang akan mengurus Rasty dan membawa nya pergi dari sana"
__ADS_1
Setelah berkata begitu Ghanem secepat kilat masuk ke dalam mobil nya kemudian dia langsung melesat membawa mobil itu mejuku ke pusat jantung kota Jakarta.