Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Saling terhubung


__ADS_3

Kakek Narayan jelas begitu marah besar saat Karan tidak ada di mansion utama mereka, dikala emosi nya mulai kembali meledak-ledak tiba-tiba Karan muncul di balik pintu depan mansion.


Berdiri kokoh dengan mata elangnya, menatap tajam ke arah dalam.


"Aku pulang"


Ucap nya dengan nada yang begitu datar.


Seketika emosi kakek Narayan surut begitu saja, dia menatap tajam kearah Karan.


"Kau kenapa baru pulang?"


"Aku bertemu Ghanem di luar"


Ucap laki-laki itu cepat, melepaskan sepatunya lantas mulai masuk ke dalam.


"Minggu depan pergilah ke Singapura untuk mengurus investor dari Prancis, ajak Violet dan habis kan bukan madu disana"


Ucap kakek Narayan tiba-tiba.


"Ya?'


Violet jelas terkejut, langsung menoleh ke arah kakek Narayan sambil mengerutkan keningnya.


Alih-alih protes Karan hanya mengangguk dan menjawab.


"Baiklah"


Setelah berkata begitu laki-laki itu langsung berjalan mendekati tangga.


"Aku akan membersihkan diri"


Ucap Karan pelan lantas mulai naik ke atas.


"Dia memang dingin seperti itu pada semua orang"


Bibi kedua bicara sambil mengembangkan senyuman nya.


"Dia sebenarnya tidak seperti itu dimasa lalu, dia berubah karena sesuatu"

__ADS_1


Bibi kedua terus bicara sambil menarik pelan nafasnya.


"Berhenti lah mengingat soal masa lalu, dia hanya di bodohi cinta"


"Dad...tidak semua dimasa lalu itu salah"


"Apa kita harus berdebat didepan violet?"


"No"


Perempuan itu langsung diam, dia kembali mencoba menghela nafasnya.


"Kami akan pulang sekarang, ingat Minggu depan kalian akan pergi ke Singapura bersama, persiapkan segala sesuatu dengan baik, terutama stamina"


Setelah berkata begitu kakek Narayan langsung melesat keluar dari sana diikuti oleh sang putri kesayangannya.


Violet menghela pelan nafas nya, mencoba menutup pintu ketika dua orang itu telah pergi berlalu.


gadis itu secara perlahan naik ke lantai atas mencoba untuk kembali ke kamarnya.


Tapi tiba-tiba langkah kaki nya terhenti ketika samar-samar dia mendengar suara Karan Tampak bicara dengan seseorang.


"Aku akan minta Alex dan Ghanem untuk melihat keadaan nya besok, mungkin aku akan datang di akhir Minggu"


"Hmmm kakek membuat rencana untuk aku dan dia agar pergi ke Singapura, jadi aku rasa aku belum bisa mengunjungi nya dalam waktu dekat"


"Aku harap ada yang menjaga dia selama kepergian kami, Pastikan semua kebutuhan nya dipenuhi"


"Jangan beritahukan Rasty soal Daddy nya, jika tidak dia pasti akan lebih terluka, cukup kalian terus berpura-pura menghubungi dia jika Daddy nya baik-baik saja, dia butuh mental yang kuat hingga pendonor nya datang dan dia menyelesaikan seluruh operasinya"


"Biaya nya sudah aku kirimkan lewat Ghanem, aku yakin paman pasti baik-baik saja, dia pasti juga merindukan Rasty, cepat atau lamban paman pasti akan bangun dari koma nya"


Setelah berkata begitu bisa Violet lihat Karan menutup handphone nya, laki-laki itu tampak meraup kasar wajah nya untuk beberapa waktu.


Violet mencoba untuk melangkah kan kaki nya menjauh dari sana, namun tiba-tiba suara Karan kembali terdengar.


"Paman, ini aku"


Ucap Karan pelan.

__ADS_1


"Bisa bantu cabut berkas tuntutan nya di masa kemarin, Rasty tidak ingin keluarga gadis itu tersandung kasus hukum di masa lalu"


"Tidak, kami akan melupakan nya"


"Hmm aku baru menikah dengan putri nya atas permintaan kakek"


"Hmmm aku mengerti"


Seketika Violet membulatkan bola matanya, dia mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.


Tuntutan hukum?.


Baru menikah dengan putrinya.


Apa itu ayah nya?.


Tiba-tiba ingatan dimasa lalu soal ayah nya yang mencelakai satu keluarga besar karena kecerobohan sang ayah dimasa lalu hingga membuat sang ayah berjuang mati-matian membayar banyak pengacara untuk bisa terbebas dari jeratan hukum berakhir pada kata bangkrut.


Violet fikir apa kah orang yang karan ucapkan itu adalah ayah nya?.


Lalu apa hubungan semua kasus Dimasa lalu dengan Rasty?.


Seketika jantung Violet berdetak begitu kencang, satu ingatan tentang gadis di gelanggang ice skating yang terus berada 1 peringkat di atas nya, apa mungkin gadis itu orang yang sama dengan Rasty?.


Tangan Violet tampak bergetar, dia mencoba melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.


Satu ingatan nya di malam itu tiba-tiba menghantam ingatan nya, percakapan sang guru dan mama nya.


"Kamu bisa melakukan nya?"


Sang mama bertanya pada perempuan dihadapan nya, meletakkan sebuah amplop yang mendominasi berwarna putih tepat di atas meja dihadapan mereka.


Perempuan itu tampak mengembangkan senyuman nya.


"Violet bisa menggantikan posisi nya untuk naik ke kejuaraan, aku yang akan menahan gadis itu untuk tidak bisa pergi menuju ke Jepang"


Sepersekian detik kemudian Violet merapat kan punggung nya ke pintu kamarnya,dia menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya, seketika air matanya tumpah tanpa bisa dia tahan


Tidak mungkin!!!!!.

__ADS_1


__ADS_2