Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Sosok sempurna di matanya


__ADS_3

Violet masih mencoba menetralisir detak jantung nya, mencoba menarik nafasnya dengan teratur dan berdehem ria setelah laki-laki itu selesai memasangkan safety belt ke tubuh violet.


"Bersiap dengan pesta nya?"


Tanya laki-laki itu lagi.


"Aku fikir ini terlalu berlebihan, kak"


Ucap violet pelan.


Dia fikir Ghanem terlalu baik pada nya, memperlakukan dirinya dengan begitu istimewa, bahkan violet fikir sebenarnya yang menjadi suami nya itu siapa?.


Karan atau Ghanem?.


Siapa yang sebenarnya ipar dan siapa yang sebenarnya suami nya?.


"Tidak ada yang berlebihan, kamu memang pantas mendapatkan semuanya"


Jawab Ghanem lantas mulai melajukan mobilnya ke arah depan.


Mereka saling tidak mengeluarkan suara masing-masing dalam waktu yang cukup lama, violet terlihat sibuk dengan pemikiran nya sendiri sedangkan Ghanem sibuk dengan stir mobil nya.


"Mata ku akan terus mengawasi mu nanti di pesta nya hmmm"


Ucap Ghanem tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.


"Ya?"


Violet tampak terkejut, langsung menoleh ke arah Ghanem.


"Tidak ada orang yang benar-benar baik, jika mereka mendekati mu berhati-hati lah, terkadang orang-orang itu hanya mendekati mu untuk 2 hal"


Ucap Ghanem lagi.


"Pertama karena mereka ingin mengorek informasi dari mu soal sesuatu, kedua karena mereka sedang ingin menjilat mu"

__ADS_1


Mendengar ucapan Ghanem seketika violet terdiam, tidak tahu kenapa tiba-tiba bulu kuduk nya tiba-tiba terasa meremang.


"Apa orang kaya seperti itu?"


Tanya violet pelan.


"Tidak, tapi orang-orang yang mengharapkan untuk bisa merangkak naik dan memiliki kekuasaan memang cenderung seperti itu"


Ucap Ghanem sambil mencoba menoleh ke arah violet.


"Karena itu jangan pernah percaya pada siapapun, bahkan diri ku sekalipun"


Setelah berkata begitu dengan gerakan lembut tangan Ghanem menepuk-nepuk lembut puncak kepala violet.


Seperti biasa gadis itu sedikit menundukkan kepalanya, rasa malu menyerang dirinya.


"Dan jangan terkejut saat melihat hal-hal yang mungkin tidak ingin kamu lihat nantinya"


Saat Ghanem berkata begitu, violet tampak mengerutkan keningnya.


Ucap laki-laki itu pelan.


"Karan bukan orang yang jahat,tapi ada sisi lain yang akan sulit kamu pahami soal dia"


"Ya?"


"Jangan menangis ketika dia mengabaikan mu, sebab dia punya alasan kuat melakukan nya"


Violet ingin sekali tahu apa maksud dari perkataan laki-laki yang ada disampingnya itu, tapi ketika bibirnya baru saja akan bicara, tahu-tahu laki-laki itu menghentikan mobilnya.


Buru-buru bola mata violet meneliti pemandangan yang ada disekitar nya.


Rupanya mereka telah sampai ke perusahaan Al Humaira group.


"Tunggu sebentar"

__ADS_1


Ucap Ghanem sambil mengembangkan senyuman nya.


Laki-laki itu buru-buru turun dari mobilnya, kemudian berjalan memutar lantas langsung membuka pintu samping dimana violet duduk.


Secara perlahan laki-laki itu mengulurkan tangannya, menunggu violet menerima uluran tangan nya.


Gadis itu dengan gerakan ragu-ragu memberikan tangannya, sepersekian detik kemudian dengan lembut Ghanem meraih tangan violet dan membiarkan gadis itu keluar dengan cara yang begitu elegan dari dalam mobil mereka.


"Tersenyumlah dan hilangkan semua beban berat mu hmmm"


Ucap Ghanem lagi.


Begitu dia keluar tiba-tiba ratusan kamera flash terasa menyiapkan pandang nya, ada banyak sekali para wartawan yang mulai memotret nya dari arah depan sana, dimana semua para wartawan tampak diberikan batasan agar tidak melewati mereka.


Selain mobil mereka, ada banyak mobil mewah lain nya yang ikut berhenti dan menurunkan para penumpang nya.


Ghanem membawa violet dengan gerakan begitu santai untuk masuk menuju ke arah pintu besar menuju ke dalam gedung perusahaan tersebut, berjalan perlahan menuju ke lantai atas dimana para tamu undangan telah hadir dan bersiap menuju ke arah puncak acaranya.


Seketika bola mata violet tertuju pada sebuah pintu elevator yang mulai tertutup, Dimana didalam nya terdapat sepasang manusia yang satu sosok nya jelas begitu violet kenal sekali siapa.


Yah itu adalah Karan suami nya, yang tengah berdiri berhadapan tepat dihadapan seorang gadis cantik, berpenampilan anggun dan kalem dengan bola mata indah dan senyuman yang merekah sempurna, Kulit halus dan mulus dengan pandangan bola mata yang menatap lurus ke arah nya, masih terus tersenyum manis tanpa violet pahami apa maknanya.


Gadis itu menggerakkan kedua tangannya seolah-olah memberikan kode pada Karan soal obrolan mereka, terus tersenyum begitu manis sambil sesekali menggeleng kan atau mengangguk kan kepalanya.


Itu Rasty kah?.


Seketika violet menelan salivanya, dia fikir tidak heran jika Karan mengabaikan nya dan lebih memilih gadis itu, tidak ada yang lebih menyejukkan mata kecuali menatap gadis itu yang terlihat begitu sempurna.


Jika dirinya bisa terpesona pada sosok sempurna itu saat ini, maka tidak heran Karan bisa bertekuk lutut pada gadis itu sejak dulu hingga kini.


Seketika violet kehilangan kata-kata, dia mencoba meremas jemari tangannya, tapi sepersekian detik kemudian tahu-tahu Ghanem menggenggam erat telapak tangan nya.


"Tarik nafas, lepaskan, ada aku disini dan percayalah semua akan baik-baik saja"


Bisik laki-laki itu dengan tatapan teduh nya.

__ADS_1


__ADS_2