Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Seketika kehilangan kata-kata


__ADS_3

Mendengar ucapan Karan Britania Seketika ikut membulatkan bola matanya, dia jelas merasa cukup tidak percaya dengan ucapan laki-laki itu.


"Kau... bicara apa?"


Nenek muda Hurairah bertanya dengan Bibir bergetar, dia mencoba berpegangan pada meja dihadapan nya itu.


Violet tampak mengerut kan keningnya, cukup tidak paham kearah mana alur percakapan kedua orang tersebut.


Tapi gadis itu cukup bersyukur saat dia tahu karan baik-baik saja saat ini dan telah sadar dari koma nya bahkan laki-laki itu muncul menjadi penyelamat dadakan nya.


Dia,, benar-benar merasa berterima kasih.


Disisi lain Rasty tidak berani bergeming, dia sejak awal sudah tahu jika Karan bertemu dengan nenek muda Hurairah pertanyaan itu cepat atau lamban akan Karan tanyakan juga.


Sebab Selama pemeriksaan laporan keuangan kekeluargaan akhir tahun ini, ditemukan beberapa transaksi gelap yang belum diketahui siapa pengguna nya.


Mendengar pertanyaan nenek muda Hurairah yang seperti seorang pejabat korup yang ketahuan berbuat curang hingga menampilkan ekspresi wajah pucat karena terkejut seketika membuat Karan tampak menaikkan ujung bibirnya.


"Seharusnya nenek tidak menggunakan kartu hitam keluarga Hurairah untuk melakukan satu transaksi yang tidak terduga, laporan keuangan pengeluaran nenek di tahun ini terlihat begitu acak dan kacau balau"


Karan bicara sambil memajukan tubuhnya, mendekati wanita tua itu sambil bicara setengah berbisik.


"Aku ini cukup memiliki toleransi yang tinggi, tapi bayangkan jika Ghanem mulai ingat dan tahu soal hal tersebut, mungkinkah cucu kesayangan nenek akan ikut memaklumi nya?"


Ucap Karan lagi dengan posisi tubuh sedikit membungkuk, laki-laki itu bicara Sambil berbisik tepat di telinga kiri nenek muda Hurairah.

__ADS_1


Seketika wanita tua itu menelan salivanya.


"Aku khawatir kakak ku akan memaklumi nya, bisa jadi dia berfikir jika nenek ikut andil dalam tragedi kapal pesiar Costa Deliziosa yang membuat dia mengalami amnesia"


Setelah berkata begitu Karan langsung mengembangkan senyuman mengerikan nya, laki-laki itu mundur beberapa langkah kearah belakang nya.


Nenek muda Hurairah jelas kehilangan kata-kata nya.


"Kau sudah sadar?"


Tiba-tiba dari arah tangga suara seseorang memecahkan keadaan.


Seketika semua orang menoleh kearah asal suara.


Itu adalah Ghanem, laki-laki itu bertanya sambil mulai menuruni satu persatu anak tangga,bola matanya memperhatikan semua orang disana tanpa terkecuali.


Lanjut Ghanem lagi.


Laki-laki itu mulai berjalan kearah mereka, mendekati Karan lantas merangkul laki-laki dihadapan nya itu untuk beberapa waktu.


"Aku sengaja belum memberitahukan pada semua orang kemarin, menunggu tubuh ku cukup membaik baru memberitahukan nya"


Jawab Karan cepat.


Mendengar jawaban Karan, Ghanem tampak menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Nenek muda Hurairah jelas merasa bahagia melihat kehadiran Ghanem, tapi kekhawatiran juga tersirat dari balik wajah nya.


Seolah-olah kesadaran Karan menjadi ancaman utama nya.


Britania Tampak berusaha bergeser dari posisi nya, mencoba untuk merapatkan diri nya ke arah Ghanem.


Ekspresi Rasty seketika terlihat tidak enak, perempuan itu memutar kesal bola matanya.


Oh god.


Rasty ingin sekali mengumpat perempuan tersebut.


Jika bukan karena nenek muda Hurairah, entah sudah dia jadikan apa perempuan ja..lang tidak tahu malu tersebut.


"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? kenapa kalian menjadi begitu tegang?"


Ghanem bertanya lantas menoleh ke arah sang nenek.


"Apa semua baik-baik saja, nek?"


Saat Ghanem menanyakan soal itu, nenek muda Hurairah jelas menjadi serba salah.


"Apa kita harus memberitahukan Ghanem, nek?"


Dan ucapan Karan seketika membuat wajah wanita tua itu memanas dan memerah.

__ADS_1


"Ada apa?"


Ghanem kembali bertanya dengan jutaan rasa penasaran nya.


__ADS_2