Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Wajah malu-malu yang begitu dia sukai


__ADS_3

Violet sejenak menenggelamkan wajahnya ke balik Selimut, rasa malu masih mendominasi meskipun mereka telah melewati malam panjang yang panas luar biasa tadi.


Dia rasanya tidak berani menatap wajah laki-laki yang tengah berada dikamar mandi itu, apalagi saat ingat bagaimana mereka melewati sesi panas mereka yang begitu panjang.


Ahhh ini memalukan.


Violet berkata dalam hati sambil memejamkan bola matanya, seketika wajah nya memerah karena malu.


Dia berharap Ghanem tidak cepat-cepat kembali dari kamar mandi dan naik ke atas kasur mereka.


Tapi rupanya apa yang dia pikirkan tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Laki-laki itu keluar lebih cepat dari sana, beranjak naik ke atas kasur lantas tahu-tahu sudah memeluk dirinya dari arah belakang.


Dia jelas tersentak kaget saat tangan kokoh itu telah masuk ke dalam selimut nya, masuk ke dalam perut nya dan memeluknya dengan begitu hangat.


"Sudah tidur?"


Suara laki-laki itu terdengar memenuhi gendang telinga nya, Ghanem menyingkirkan selimut yang menutupi wajah Violet.


Laki-laki itu seolah-olah tahu rasa malu yang dirasakan Violet, seketika Violet membulat kan bola matanya.


Dia menggelengkan pelan kepalanya, masih meringkuk dan malu menoleh kearah Ghanem.

__ADS_1


Laki-laki itu tampak mengulumkan senyuman nya.


"Berbalik lah"


Suara itu terdengar begitu hangat dan lembut, itu perintah namun seperti sebuah permintaan manis yang tidak boleh dia tolak sama sekali.


Secara perlahan Violet mencoba membalikkan tubuhnya, masih dengan perasaan malu-malu dia menatap wajah Ghanem.


Itu yang Ghanem suka dari gadis...ah tidak Violet sudah menjadi perempuan seutuhnya setelah sesi panas yang panjang malam ini.


Yah itu yang Ghanem sukai dari Violet, perempuan itu selalu menampakkan wajah merah penuh rasa malu, tidak seperti banyak perempuan lainnya, Violet selalu menampilkan ekspresi wajah yang begitu indah.


Saat bicara perempuan itu selalu mengeluarkan Suara lembut dan hangat yang khas, meskipun mereka berdebat seperti didalam mobil kemarin, perempuan itu tidak pernah meninggikan suaranya.


Dan yang paling Ghanem sukai dari Violet, perempuan itu tidak pernah menatap laki-laki lain seperti Violet menatap dirinya.


Perempuan itu menempatkan dengan baik ekspresi matanya ketika menatap dirinya, begitu syahdu, lembut dan hangat, membuat dirinya acapkali berdebar-debar jika melihatnya.


Karena itu dia mulai resah saat ada beberapa laki-laki mendekati milik nya, mungkin Ghanem gila, Persis pada kejadian dia fikir Violet berpaling padanya kemarin, dia benar-benar merasa gelisah.


Dia selalu berfikir ingin memiliki nya namun sulit sekali mencari kesempatan nya, dan malam ini begitu kebetulan sekali bukan? nenek muda Hurairah dan Britania benar-benar membuka peluang kesempatan nya.


Dibalik ke engganan nya atas ke hadiran dua orang tersebut, terselip sebuah kartu keberuntungan untuk memiliki Violet seutuhnya.

__ADS_1


"Masih sakit?"


Dia bertanya sambil menatap dalam bola mata Violet, laki-laki itu Secara perlahan merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajah perempuan itu.


Violet tampak mencoba menatap balik bola mata Ghanem, dengan malu-malu dia menjawab.


"Sedikit, tapi ini akan baik-baik saja"


Ucap perempuan itu pelan.


Ghanem tampak diam, tangan kanan nya masih bergerak mengelus lembut wajah perempuan itu.


"Mulai besok, pindah lah tidur kemari"


Ucap Ghanem tiba-tiba.


"Ya?"


Violet sedikit terkejut dengan ucapan Ghanem.


"Mari tidak lagi membuat jarak bersama dan mulai belajar membuka lembaran baru, meskipun ingat tidak ingat perihal urusan masa lalu tapi mari berjalan menata masa depan bersama"


Ucap Ghanem sambil terus menatap dalam bola mata itu.

__ADS_1


__ADS_2