Satu Atap Tanpa Cinta

Satu Atap Tanpa Cinta
Kepercayaan dalam pernikahan


__ADS_3

Italia


12 jam sebelum tragedi bermula


Hotel xxxxxxx


09.30 AM


Ghanem Tampak baru keluar dari dalam kamar mandi, masih menggunakan handuk mandi dan dalam kondisi rambut yang masih basah, laki-laki itu berjalan perlahan mendekati Violet.


"Yakin tidak ingin pergi makan malam bersama nanti malam?"


Ghanem bertanya sambil menyentuh lembut puncak kepala sang istri lantas menciumnya secara perlahan.


Violet baru saja bangun dari tidur nya, mencoba duduk sejenak dengan perasaan enggan.


"Hmmm"


Perempuan itu mengangguk pelan.


"Rasanya begitu Lelah dan tubuh ku sakit Semua"


Ucap Violet pelan.


Tidak tahu kenapa tubuhnya terasa begitu mudah lelah, bahkan beberapa bagian tubuh nya teras begitu pegal dan sakit, Belum lagi Belakangan dia cukup kurang berselera untuk makan apapun yang ada di hadapannya.


Dibandingkan makanan, dia lebih memilih buah-buahan untuk dia konsumsi, atau oatmeal dan susu.


3 jenis makanan itu yang cukup baik mampu diterima oleh perut nya.


Dia Fikir sebaiknya dia memang tidak ikut ke acara makan malam bersama rekan bisnis Ghanem.


"Masih terasa tidak enak?"

__ADS_1


Ghanem bertanya sambil menatap dalam bola mata sang istri untuk beberapa waktu.


"Tidak"


Violet menggelengkan pelan kepalanya.


"Sudah jauh lebih baik"


lantas perempuan itu mulai beranjak dari tempat tidur nya berniat untuk berjalan menuju ke kamar mandi tapi sang suami Tiba-tiba menarik tangan nya.


"Sayang"


"Hmmm?"


Violet langsung menoleh.


Ghanem langsung memeluk erat tubuh nya.


"Kenapa?"


"Apa ada sesuatu yang buruk?"


Firasat seorang istri biasa nya begitu tajam sekali.


Meskipun suami istri hanya orang asing yang tiba-tiba bertemu setelah dewasa, mengikat sumpah setia dan menikah, realita nya rata-rata seorang istri di dunia ini paling peka insting nya.


Mereka selalu tahu kegelisahan suami, bisa dengan mudah menebak kebohongan suami bahkan bisa membedakan dengan baik tiap ekspresi yang dikeluarkan oleh sang suami.


Ghanem tidak menjawab, masih menatap dalam bola mata Violet, Sejenak laki-laki itu merapat kan dahi mereka.


"Kau tahu sayang?"


Ucap Ghanem tiba-tiba.

__ADS_1


Bisa Violet rasakan aroma mint di balik hidung nya dari mulut laki-laki itu, bahkan aroma khas tubuh sang suami yang telah menjadi satu-satunya candu diri nya dalam beberapa bulan belakangan ini.


Meskipun belum sepenuhnya mengingat soal masa lalu mereka, realita nya aroma Ghanem merupakan aroma yang jelas begitu familiar untuk dirinya.


Dia menyukai nya.


"Ada Persoalan rumit Yang sedang berjalan saat ini, mungkin ini akan melibatkan konflik panjang di kemudian hari"


Ucap Ghanem kemudian.


Mendengar ucapan Ghanem, Violet Tampak diam, mencoba memahami setiap ucapan yang di sampaikan Ghanem.


"Jika sesuatu yang buruk terjadi, apa kamu akan mempercayai aku?"


Tanya Ghanem tiba-tiba ke arah dirinya.


"Misal nya?"


Violet bertanya sambil menelan Saliva nya.


"Apapun itu, dalam semua hal, apakah kamu akan mempercayai diri ku jika seseorang mencoba menghancurkan pernikahan kita?"


Tanya ghanem pelan sambil terus menelisik bola mata Violet.


"Realita nya Kepercayaan adalah satu poin penting dalam memelihara pernikahan"


"Saat rasa tidak percaya timbul, Kita bisa jadi mulai mempercayai intuisi kita sendiri tanpa pertimbangan ataupun penjelasan dari pasangan. Keegoisan dan rasa ingin menang sendiri pun timbul pada akhirnya timbul"


"Rasa tidak percaya bukan hanya meliputi kesetiaan pasangan saja. Tapi juga mempercayai pasangan dalam keharmonisan rumah tangga. Jika kepercayaan hilang, prasangka dan rasa saling merendahkan akan timbul. Rumah tangga pun tak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi kita berdua"


Ucap Ghanem lagi.


"Jadi ingatlah ucapan ku, jika sesuatu yang buruk terjadi nanti, percayalah aku tidak akan mengkhianati kamu apapun yang terjadi, tetap lah mengganggam tangan ini dan jangan melepaskan nya hmm"

__ADS_1


Cukup lama violet memperhatikan semua ucapan Ghanem, meskipun dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi dia berusaha untuk mengangguk kan kepalanya secara perlahan.


__ADS_2