
Laki-laki tua itu membulatkan bola matanya begitu mendengar Ghanem bicara soal kata kakek keluar lah, sejenak kakek tua Hurairah memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
Secara perlahan terdengar ketukan tongkat yang menghantam lantai granit mendominasi berwarna putih namun sudah berdebu Tebal di seluruh sisi.
Ghanem menatap sang kakek Hurairah dengan pandangan lurus serta begitu datar, membiarkan laki-laki tua itu terus berjalan dari sisi tembok ruangan lain menuju ke arah mereka.
Amran jelas tercekat, dia terbelalak bukan main saat melihat ayah mertuanya keluar dari tempat nya.
"Seharusnya sejak awal aku curiga kenapa kakek menutup kasus kematian Daddy dengan begitu terburu-buru pada masa itu"
Ucap Ghanem dengan nada datar dan begitu dingin.
"Aku tidak paham apa yang terjadi pada malam itu, tapi pertengkaran antara mertua dan menantu memicu kemarahan di antara dua orang yang tidak memiliki ikatan darah"
Lanjut Ghanem lagi.
"Malangnya, Rasty mendengar pertengkaran itu, dengan tidak enak hati gadis kecil itu mencoba kabur dari sana, tapi paman Amran mengejar nya, aku tahu tidak ada niat untuk membunuh tapi kala itu Rasty tahu betapa orang-orang Hurairah tidak menyukai dirinya, dia takut Paman dan kakek semakin membenci nya"
"Saat gadis itu berlarian ke gedung sebelah, bola matanya tidak sengaja melihat Violet dan orang tua nya, niat hati ingin berlari turun kebawah, tapi suara Daddy yang terjatuh kebawah kala itu mengejutkan dirinya"
Ghanem memejamkan bola matanya beberapa waktu.
"Rasty berusaha mengejar langkah, dari seluruh keluarga Hurairah, yang menyayangi nya hanya Daddy dan istri paman, karena itu dia tidak bisa mengabaikan Daddy saat mendengar jeritan Daddy dan suara jatuh yang begitu hebat"
__ADS_1
"Paman mengejar langkah nya juga, aku tahu paman tidak berniat mencelakai nya, tapi gerakan gegabah paman menakuti dirinya, dia memberontak saat paman menarik lengannya dan berniat menyeret nya menjauh dari sana, dia ketakutan setengah mati hingga tidak sengaja Rasty tergelincir dan..."
Ghanem menghentikan ucapannya.
"Bammnn...dia terjatuh"
Ucap Ghanem dengan nada ngilu.
"Dari lantai atas ke bawah, bisa paman bayangkan bagaimana penderitaan nya kala itu?"
Tanya Ghanem pada Amran.
"Sial nya Daddy Violet melihat dari sudut pandang yang berbeda, dia fikir paman sengaja membunuh nya, dan Lebih sial nya lagi pandangan Violet melihat dari sudut pandang yang juga berbeda, gadis itu melihat seolah-olah Daddy nya yang mendorong Rasty dari arah tangga"
Seketika Amran benar-benar tercekat mendengar ucapan Ghanem.
Alih-alih peduli ucapan pamannya, Ghanem langsung melirik ke arah kakek nya.
"Tidak kah kakek ingin menjelaskan bagaimana cara nya Daddy ku terjatuh dari lantai atas?"
Tanya laki-laki itu dengan nada yang begitu datar.
Kakek tua Hurairah Tampak mengeratkan rahangnya, dia balik menatap cucu Tertua nya itu.
__ADS_1
"Kau menuduh aku membunuh Dady mu? meskipun kami tidak akur, aku tidak pernah berfikir untuk membunuh dia tanpa alasan"
Ucap laki-laki tua itu cepat.
Ghanem Tampak berjalan mendekati sang kakek, menatap wajah tua itu dari sisi dirinya.
"Aku tidak bilang kakek membunuh Daddy ku, aku hanya ingin tahu bagaimana Daddy ku terjatuh kala itu?"
Ucap Ghanem sambil menarik kasar nafasnya, dia mencoba mengendurkan dasi miliknya.
"Atau mau aku jabarkan bagaimana Daddy ku bisa jatuh ke bawah dan meninggal?"
Tanya Ghanem kepada sang kakeknya dengan nada begitu dingin.
"Atau mau aku terangkan pemicu pertengkaran kalian?"
Kakek tua Hurairah Tampak menggenggam erat tangan nya.
"Kau sangat tidak sopan dengan orang tua, kau fikir aku sudah gila? memang nya aku punya keuntungan apa hingga berfikiran untuk membunuh Daddy mu?"
Alih-alih mendengar kan ucapan sang kakek, Ghanem kembali melanjutkan kata-katanya.
"Atau mau aku katakan keuntungan apa yang kakek dapatkan dengan rencana kakek malam itu? hingga membuat Daddy marah pada keputusan kakek, menyebabkan banyak orang menjadi korban di malam itu?"
__ADS_1
Tanya Ghanem dengan menurunkan oktaf suaranya, dia bicara sedikit berbisik ke samping telinga laki-laki tua itu.
Saat Ghanem mengucapkan kata-kata itu, seketika kakek tua Hurairah menelan salivanya.