SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
PERANG DINGIN


__ADS_3

Dalam keramaian warkop yang dulu sering dikunjunginya. Wildan bersiap bersama teman bandnya untuk mulai menghibur para pengunjung.


Wildan melihat sekitar yang tidak berubah sedikitpun. Tempat yang penuh kenangan dengan alas yang masih menggunakan bambu.


Tempat duduknya juga terbuat dari bambu. Hanya saja ada tambahan sedikit di luar warkop. Spot foto yang menghadap kearah sawah yang terbentang luas.


Memperlihatkan keasriannya yang begitu bagus. Berfoto membelakangi persawahan dengan dipenuhi lampu-lampu kecil di sekitar warkop.


Indah, bagus penuh gemerlap lampu warna-warni. Wildan menatap setiap sudut jejak kenangannya.


"Wil, coba tes mikrofonnya!" suruh Raka. Wildan mengangguk dan segera mencoba bersuara.


Cek sound yang dilakukan Wildan membuat semua pengunjung langsung memperhatikannya. Suara Wildan sukses membuat semuanya fokus untuk melihat kearahnya.


"Cek cek, satu, dua, tiga. Cek,"


"Ok, Wil," tanya Raka.


"Ok!" jawab Wildan.


Wildan dan teman-temannya memulai aksinya di depan semua pengunjung. Wildan bernyanyi dengan penuh penghayatan.


Lagu demi lagu Wildan nyanyikan sesuai alunan musik. Beberapa pengunjung menikmati lagu yang dibawakan oleh Wildan CS.

__ADS_1


Pemilik warkop tampak begitu senang melihat warkop miliknya ramai pengunjung. Semua terlihat sangat terhibur dengan suara Wildan.


Bahkan pengunjung wanita sampai melihat Wildan dengan tatapan ganas. Wajah yang tampan mampu menghipnotis pengunjung wanita.


Ditengah-tengah nyanyiannya Tio tampak datang dengan Irene. Mereka kesulitan untuk menemukan tempat duduk yang nyaman.


Tio dan Irene belum menyadari dengan suara yang tidak asing. Sibuk mencari tempat duduk yang dekat dengan sawah. Selentingan lirik lagu membuat Irene untuk memutar lehernya.


...Tuhan, tolong mampukan aku...


...'Tuk lupakan dirinya...


...Semua cerita tentangnya yang membuatku...


...Oh, ternyata belum siap diriku kehilangan dirimu...


...Belum sanggup untuk jauh darimu...


...Yang masih selalu ada dalam hatiku...


Tubuh Irene membeku dengan leher yang menyamping. Tubuhnya tidak menghadap sempurna ke depan. Tio yang melihat-lihat tempat duduk juga baru tahu kalau Wildan di atas panggung.


"Lah, bocah. Dicari-cari sudah ada di sini aja," gumam Tio.

__ADS_1


Tio dan Irene akhirnya memutuskan untuk berdiri sambil menunggu yang lainnya pulang. Ketiganya bertemu pandang seketika. Tio tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Wildan yang dibalas anggukan.


Tatapan Wilfan berpindah ke wanita yang berdiri di samping Tio. Kedua matanya bertemu tatap dengan kedua mata Irene. Lama dan penuh makna yang terpendam di keduanya.


Prok! Prok! Prok!


Wildan dan Irene langsung memutuskan tatapannya. Suara tepuk tangan pengunjung membuyarkan semua angan keduanya.


"Woo, good job boy," teriak Tio ikut menyoraki sahabatnya.


Tio menarik Irene untuk menghampiri Wildan. Irene tidak bisa menolak ajakan Tio yang spontan mengejutkan dirinya.


"Weh, prok, prok, prok. Ternyata kalian tetap kompak. Bagaimana kabarmu, Rak?" tanya Tio kepada Raka drumer Wildan yang juga baru kembali ke tempat asalnya.


"Hey, apik-apik. Kamu sendiri kabarnya bagaimana? Lho, sekarang kamu sama cah wadon iki, Tio?" tanya Raka mendapat gelengan cepat dari Irene.


"Jangan menyebarkan gosip kamu. Wil, kamu aku telpon dari tadi ternyata sudah disini duluan," omel Tio.


Wildan hanya diam tidak menjawab satu katapun. Berada di dekat Irene membuat Wildan mengingat luka yang pernah Irene beri.


Keduanya saling bungkam dan saling tatap. Tio dan lainnya cukup tahu dan paham betul bagaimana waktu itu. Irene dengan sengaja atau tidak sudah mempermainkan perasaan Wildan.


Saat itu Irene menerima Wildan hanya untuk pelarian semata. Wildan yang dari awal sudah mencintai Irene buta akan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2