SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
HANYA INGIN SENDIRI


__ADS_3

Tangisku mulai mereda saat tangan kekar dan hangat itu menyentuh pundakku. Ku buka telapak tanganku yang menutupi muka kacauku.


Ku arahkan pandanganku ke tangan itu sebelum aku benar-benar tau siapa pemilik tangan ini.


Tatapan mataku bertemu dengan tatapan matanya yang begitu nyaman, hangat, damai. Sakit, kenapa hanya aku yang tidak mengetahui semua ini.


Aku tidak menyangka jika Mas Fahmi sudah mendonorkan kornea matanya demi sepupunya. Dia rela melakukan semua itu, dia rela kehilangan korneanya.


Kedewasaanya itu lah yang membuatku ingin selalu bersamanya. Aku berlari kearah kamarku, saat ini aku ingin menenangkan pikiran dan hatiku.


Terdengar suara ketukan pintu dan teriakan memanggil namaku berulang kali. Bukan ku marah atau kecewa, bukan juga aku benci kepada semuanya. Aku hanya tidak bisa membayangkan begitu tulusnya hati itu.


Ku berjalan kearah foto yang sengaja dia pasang ditembok depan ranjangku. Tangisku semakin keras dan terlihat sangat pilu. Aku tidak menghiraukan suara-suara yang masih saja memanggil-manggil namaku.


Ku lepas bingkai itu dari dinding berwarna yang terlihat serasi. Ku pandangi wajah putih itu, ku usap-usap gambar kakakku. Begitu baiknya hatimu tanpa memperdulikan diri sendiri.


Bagaimana jika kamu masih hidup, apa kamu masih ingin mendonorkan korneamu. Hatiku dan pikiranku sekarang benar-benar tidak bisa lagi menerima.


Kakiku tidak bisa lagi menopang tubuh yang semakin lama semakin melemah. Akhirnya tubuhku jatuh bersamaan dengan vigura yang aku pegang. Sebelum benar-benar menyentuh ubin, terdengar samar-samar beberapa suara yang mendekat.


Terasa sangat ringan seperti saat ini aku sedang terbang. Aku masih memiliki kesadaran sedikit, terlihat buram dan gelap seketika. Kini mataku tertutup sempurna.


Seterusnya aku tidak tau lagi apa yang terjadi selanjutnya.


Satu jam berlalu tapi Vey belum juga membuka matanya. Semua yang berada disana berharap tidak terjadi apa-apa dengan Vey.


" Dek, bangun deg. Jangan buat kita semua khawatir. Bunda sebentar lagi kesini Dek, ayo bangun Deg. Maafin Mbak, maafin kita semua," tangis dan pinta Mbak Asri yang mencoba membangunkan.


perlahan aku membuka kelopak mataku yang sudah lama tertutup. Aku masih diam melihat semua orang yang sekarang sudah berkumpul dikamarku.


Ku terus memandang mereka dengan mata yang sendu. Eyang Putri tampak jelas kesedihannya, lagi-lagi aku membuat orang disekitarku mengasihaniku terus.


Kembali ku arahkan tatapanku ke Eyang Kakung, Mbok Darmi, dan Fatih. Dia juga terlihat khawatir sama seperti yang lainnya.


" Mbak," aku berhambur memeluk Mbak Asri yang sedari tadi mungkin duduk disampingku.


Mbak Asri juga ikut menangis saat memelukku. Aku tak kuasa lagi menahan kesedihan yang sengaja aku pendam seorang diri. Tidak semua yang aku rasakan ku ceritakan kepada keluargaku.


Ku longgarkan pelukanku kepada Mbak Asri, aku masih belum siap untuk menatap semua orang. Ku tundukkan kepalaku dengan tangisku yang masih sesenggukan.


" Boleh, tinggalkan Vey sendiri dulu," pintaku masih dengan wajah yang didepan air mata dan kepala yang masih tertunduk.

__ADS_1


Tanpa ada yang berkata semuanya perlahan berjalan keluar kamarku. Ku usap air mata yang masih mengalir deras. Ku tegakkan kepalaku lalu ku berjalan kearah jendela.


Langit malam ini dipenuhi dengan bintang-bintang. Ku pandangi terus langit malam itu, ku pejamkan mata sejenak. Ku hirup udara malam dalam-dalam, berharap bisa menenangkan hatiku.


Aku kira liburanku akan sangat menyenangkan. Aku akan merasakan kembali kebahagiaan itu, tapi ternyata tidak sesuai dengan harapanku.


Saat aku masih menghadap langit, ada tangan yang menepuk pundakku. Ku putar leherku menghadap siapa yang berada dibelakang.


Saat aku tau siapa yang berada dibelakangku saat ini. Aku langsung berhambur memeluknya erat. Seakan aku ingin mengadukan semuanya kepada Bunda.


Yah, orang yang saat ini aku peluk adalah Bunda. Mungkin Mbak Asri yang mengabari Bunda. Aku tidak mau memikirkan siapa yang mengabari Bunda, saat ini aku ingin dengan posisiku yang seperti ini.


Dipelukan ini tangisku semakin kencang dan semakin terasa sangat pilu. Terlihat oleh mataku, didepan pintu kamar terlihat ada Papa yang menenangkan Mbak Asri, kedua Eyangku, Mbok Darmi.


Ku tenggelamkan wajahku semakin dalam didekapan Bundaku. Bunda mengelus-ngelus pundak belakangku. Saat dirasa tangisku sudah mereda Bunda mengajakku untuk keluar kamar.


Aku masih setia memeluk Bunda, kami berjalan sambil berpelukan. Hingga aku dan Bunda mendaratkan tubuh kami ke kursi. Sesenggukan ku masih sedikit terdengar dipendengaran mereka.


Tidak ada yang bersuara saat ini. Semuanya lebih memilih untuk tidak membicarakan masalah itu dulu. Pukul sepuluh malam tidak ada yang mau meninggalkan ruangan ini.


Papa menyuruh Eyang untuk segera masuk kamar begitupun dengan yang lainnya. Tapi tidak ada dari mereka yang beranjak dari tempatnya.


" Pak, bu sebaiknya kalian tidur saja. Toh Vey sudah terlihat baik-baik saja kok. Nanti biar Papanya Vey yang menemani saya disini," suruh Bunda kepada kedua Eyang.


" Tidak Nak, biar kita juga menemani Vey dan kamu disini. Biar Asri saja yang tidur dikamar," jawab Eyang Akung menyuruh Mbak Asri.


" Tidak Eyang, aku juga ingin menemani Adek juga. Ini juga salahnya Asri tidak bisa menjaga Adek. Maafin Asri yah Bun, Pa," tangis Mbak Asri lagi.


Akhirnya semuanya memutuskan untuk tetap diruang tamu. Dikeheningan malam ini semuanya tertidur dengan lelapnya.


Saat ku rasa lengan tanganku kesemutan yang sedari tadi memeluk Bunda. Dengan perlahan ku merenggangkan pelukanku, aku baru sadar kalau tidak hanya aku saja dan Bunda yang berada disini.


Papa, Mbak Asri, Eyang Kakung, Eyang Putri, Mbok Darmi dan Fatih juga ikut rela tidur diruang tamu. Mereka rela tertidur beralaskan karpet yang tidak begitu tebal.


Ku menatap semua orang yang tertidur pulas, ku pandangi satu persatu tubuh mereka. Seulas senyum mengukir dibibirku, jika dilihat-lihat mereka seperti ikan yang baru ditata pemiliknya.


Aku menutup meulutku rapat-rapat agar tawaku tidak terdengar oleh mereka. Ku tinggalkan mereka semua diruang tamu, ku berjalan kearah kamar-kamar mereka untuk mengambil selimut masing-masing.


Ku masuki kamar demi kamar itu, setiap kamar ada yang memiliki dua selimut ada juga yang tidak. Kamar terakhir yang mau aku masuki adalah kamar mendiang Mas Fahmi.


Kamar itu sekarang ditempati oleh Fatih, ku putar pelan gagang pintu yang berukir itu. Tampak jelas pajangan besar didekat jendela kamarnya.

__ADS_1


Ku beranikan untuk memasukinya dan mencari selimut didalam lemari. Saat aku menutup lemarinya, ku melihat ada satu lembar foto yang tertempel didepan pintu lemari.


Foto masa kecilku dan Mas Fahmi, ku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Bayangan saat-saat kita bersama mulai memenuhi pikiranku.


Tertawa, berlari-larian, bercanda, saling mengejek masih teringat jelas dimemoriku.


" Takdir begitu cepat memanggilmu Mas. Begitu cepat pula kamu mengambil semuanya. Kamu terlihat sangat tampan difoto ini. Kenapa kamu tega sama aku Mas, padahal kamu janji akan selalu disampingku sampai kita jadi dokter," ucapku menahan agar tidak sampai menangis lagi.


" Kembalikan senyumku seperti dulu lagi Mas, kembalikan keceriaanku dulu waktu bersamamu," tangisku pecah menggema dikamar Fatih.


Ku terduduk didepan lemari coklat ini sambil terus menangis. Tanpa aku sadari tangisku membangunkan semua orang yang tertidur tadi.


" Vey," panggil Fatih.


Aku yang mendengar namaku dipanggil mendongak melihat siapa yang memanggilku. Aku menatapnya dengan cucuran air mata yang tidak berhenti.


" Aku minta maaf, kalau kehadiranku membuatmu menjadi seperti ini. Tapi, bagaimanapun kamu juga harus tau. Aku juga baru tau saat aku bisa melihat lagi. Kalau Fahmi lah yang menjadi pendonorku," ucapnya sambil menatap foto yang tertempel dipintu lemari.


Ada raut kesedihan diwajahnya, ku tundukkan wajahku lagi. Pundak yang sudah tidak bergetar kini semakin bertambah kencang.


Fatih mensejajarkan tubuhnya agar bisa


" Aku akan membantu seperti dulu saat kami masih bersama Fahmi. Aku akan berusaha menjadi kakak buat kamu," aku langsung menghentikan tangisku dan menatap Fatih.


Ku gelengkan kepalaku sebagai jawaban tidak ada yang bisa menggantikan Fahmi dari hidupku. Aku berdiri dan menwrobos semua orang yang berada disana.


Brakk


Ku tutup pintu kamarku sekeras mungkin, ku obrak abrik seisi kamarku. Rambut yang acak-acakan, mata yang masih penuh dengan air mata sangat terlihat seperti orang gila.


Aaaarrrrrgggghhhhhh ....


Teriakku menggema disuruh isi rumah. Bahkan aku sangat yakin tetangga-tetangga pasti mendengarnya. Aku tidak perduli orang-orang bilang aku gila, aku tidak memperdulikannya.


Gedoran pintu semakin keras, kepanikan juga terdengar dari luar. Tubuhku tumbang untuk kedua kalinya, dan kali ini langsung menyentuh lantai kamar.


😭😭😭😭😭😭 aku jadi ikutan nangis sendiri. Sesak banget rasanya, kenapa bisa seperti ini yah. Maaf gak ada Notes kali ini authornya keburu mewek duluan...


Sumpah aku gak tahan😭😭😭😭😭😭


Aku gk tahan lagi kalau readers tidak LIKE, SARAN sama ngasih rate......gak papa yah sekali kali maksaπŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯

__ADS_1


__ADS_2