
Dengan perlahan Vey membawa sahabatnya ke kamar. Sedih sangat terasa kejadian yang menimpanya dulu. Kini, sahabatnya harus merasakannya juga.
Tidak bersuara namun, air mata Irene terus keluar membasahi kedua pipi dan bajunya. Vey mendudukan Irene ke tempat tidurnya.
Kemudian, Vey ikut duduk di sampingnya. Diusap wajah Irene yang basah. Dan menyelipkan anak rambut Irene ke belakang telenginya.
Tatapan Irene benar-benar kosong dan tajam menatap ke depan. Diambilnya telapak tangan Irene dan dibawa nya ke pahanya.
Di genggam erat telapak tangan Irene yang penuh dengan luka yang tersisa. Goresan luka membekas di pergelangan Irene. Meninggalkan jejak cinta yang menghilang.
Vey mendengar Irene ingin menghabisi dirinya sendiri dengan cara memotong denyut nasinya sendiri. Menatap luka yang berbekas air mata Vey tak kuasa ditahan.
Setetes keluar jatuh ke pergelangan tangan Irene. Merasa ada sesuatu yang membasahi kulit tangannya. Irene menengok untuk melihat le samping.
__ADS_1
Melihat bahu yang berusaha agar tidak bergetar. Dengan satu tangannya yang beberapa mencoba menghapus air mata yang keluar.
"Kamu, menangis?" tanya Irene ke pada Vey. Mendengar suara Irene Vey merasa senang dan terkejut.
Masih menunduk Vey menggeleng dengan cepat. Berusaha untuk tersenyum dan menghapus jejak air matanya. Benar-benar menghapus dan menatap Irene dengan penuh senyuman.
"Tidak, aku tidak menangis. Aku sangat senang bisa bertemu dan mendengar suaramu lagi," jawab Vey berbohong. Tapi, Irene bisa melihat jelas ke dalam kedua mata Vey.
"Aku tidak butuh dikasihani," ucap Irene dengan dingin. Vey terperangah mendengar ucapan Irene.
Berdiri berjalan ke arah figura yang dimana terdapat foto kenangan Vey dengan Fahmi. Vey melihat Irene berdiri menatap fotonya hanya mampu duduk terdiam ditempatnya.
"Ren, aku sangat tahu betul perasaanmu. Tapi, kamu tidak sendiri masih ada bapak dan ibu. Juga-," lagi-lagi ucapan Vey terpotong.
__ADS_1
"Kamu salah, aku bukan kamu yang terus minta dikasihani dari semua orang. Kamu tahu, kamu adalah wanita lemah yang ingin diperhatikan oleh semua orang. Termasuk Wildan dan Tyo," sergah Irene dengan nada yang penuh amarah.
Vey sangar terkwjut dan tidak mengerti dengan apa yang Irene ucapkan. Vey. tidak pernah memanfaatkan semua itu hanya untuk ingin mendapat perhatian dari semuanya.
"Irene, kamu kenapa?" tanya Vey berdiri dan menghampiri Irene. Kedua tangannya terangkat hendak memegang bahu wanita di depannya.
Di tepis sangat kasar sampai-sampai Vey hendak terjatuh. Vey tidak habis fikir dengan Irene. Apa Irene cemburu ataupun marah kepadanya.
Dengan cepat Vey mendekati Irene lagi dan mencoba menjelaskan lagi. Kali ini, Irene tidak menepis tapi, memalingkan muka.
"Irene, aku tahu. Aku tahu kamu sekarang bagaimana? Dan. aku sangat minta maaf disaat kamu terpuruk aku tidak datang untuk menemanimu. Tapi, itu bukan alasan atau pembelaanku. Aku tidak bisa datang karena waktu itu bertepatan dengan sekripsiku. Kamu jangan pernah berfikiran seperti itu?" jelas Vey berhasil memegang tangan dan bahu Irene.
"Heh, itu hanya bualanmu saja. Kamu tidak akan pernah paham dengan apa yang aku rasakan Vey, tidak akan pernah tahu apa yang aku rasakan. Sendiri, kamu tahu aku sendiri memeluk lukaku yang ditinggalkan Reza. Kamu sahabat yang buruk buatku," jerit Irene menghempaskan pegangan tangan Vey.
__ADS_1
NOTES: KECEWA BOLEH ASAL JANGAN SAMPAI MERUSAK HUBUNGAN.