
Rumah sakit, dua kata yang sering kali membuat semua orang berfikir keras. Kenapa harus ada kata RUMAH SAKIT?
Apa ada yang bisa bantu jawab pembaca?πππ€£
Guyon dikit yah biar tidak kena mentalπ.
Awal menggeluti pekerjaan Vey sangat semangat. Dimana banyak anak kecil yang datang dan pergi. Direktur rumah sakit menunjuk Vey untuk menangani pasien anak-anak.
Melihat kesabaran dan keceriaan Vey dapat memberikan sisi positif pada pasien. Akhirnya, Vey ditugaskan dibangsal anak-anak. Benar saja baru pertama kali menjalankan tugasnya Vey sudah kebanjiran pujian dari beberapa orang tua pasien.
Pujian itu jelas terdengar di penjuru rumah sakit swasta yang tidak terlalu besar itu. Terutama dokter Triya yang dari awal tidak menyukai Vey. Dalam sebuah pekerjaan pasti ada salah satu rekan yang tidak suka terhadap rekannya.
Entah, kalau dipikir-pikir kenapa harus ada orang yang merasa dirinya tersaingi. PR Lagi untuk kalianπ€£π€£πππππ.
Kembali pada cerita Vey.
"Dokter gila," teriak dokter Triya. Semua orang seketika berhenti.
Vey yang sedang menyapa seorang anak kecil juga ibunya. Langsung terkesiap mendengarnya. Senyuman manis itu sirna begitu saja saat rekannya memanggilnya beda.
Ibu dan anak kecil itu pun saling pandang sejurus kemudian melihat ke arah Vey yang menunduk. Tangannya masih menggenggam tangan mungil gemol pasiennya.
Tubuhnya meremang dan seperti terbakar. Bagaimana tidak? panggilan itu diteriakan tepat di depan banyak orang. Siapapun itu pasti akan merasakan hal yang sama.
Dokter Triya dengan angkuhnya berjalan ke arah Vey yang masih berjongkok dengan kepala yang menunduk kebawah. Rambutnya menutupi sebagian wajah cantiknya yang sudah merah padam.
"Doktel, kuat," ucap pasien kecil yang tangannya masih dalam genggaman Vey. Selepas mengatakan itu anak kecil itu melihat keibunya. Ibunya pun tersenyum dan mengangguk kecil.
"Nak Dokter. Tegakkan kepalamu, Nak!" sambung ibu pasien.
Vey langsung mendongak menatap bergantian kedua orang yang terlampau jauh usia. Keduanya tersenyum seakan tahu apa yang dirasakan Vey.
__ADS_1
Sekali tarikan nafas panjang Vey menepuk pelan dan mebubuhi ciuman pada tangan malaikat kecil itu.
"Iya, Dokter senior," jawab Vey dengan tenang dan tegas. Tidak lupa Vey menampilkan senyuman yang siapa saja akan terhipnotis.
Uya kuya kali yahπππππ
"Ck, masih mau mendapat perawatan dari dokter yang pernah memiliki depresi akut seperti dia, Bu?" sangat jelas bahwa pertanyaan dokter Triya menjatuhkan Vey di depan semua orang.
"Maaf, bu dokter. Anak saya membutuhkan pertolongan seorang dokter. Selama ini juga saya menunggu seorang dokter yang paham akan kesabaran dalam menangani anak kecil. Juga, bisa membujuk dan tidak pernah membentak," celetus ibu pasien yang anaknya ditangani Vey.
Vey tersenyum meski tidak tahu apa maksud perkataan ibu itu. Menunduk sebentar dan menatap wajah dokter Triya dengan mengembangkan senyumannya.
Sakit, pasti tapi Vey harus berusaha kuat dan tidak lemah di depan musuh. Itu adalah suatu pertahanan yang akan membuat mental sang musuh terkena mental sendiri.
Hayuuuu lohhh mentalmu kena sekarang dok Triπππ.
"Doktel jahat, ileng gak pas doktel bilang. Aueng katene sedoh(Dokter jahat, ingat tidak pas dokter bilang. Aurel mau meninggal)?"
"Maaf, Dokter senior. Sebelumnya, saya tidak tahu bagaimana Anda menangani semua pasien disini. Tapi, saya minta dengan dokter menangani semua pasien dengan seperti itu. Itu tidak akan mengembalikan atau memulihkan kesembuhan si pasien. Malahan, membuat si pasien semakin down dan semakin buruk. Dokter,-"
"Anda disini masih baru dan Amda tidak tahu semua bagaimana pasien disini. Dan, Anda juga belum faseh betul dalam mengetahui jenis penyakit apa yang mereka derita. Anda terbilang hanya dokter pembantu disini. Jadi, Anda jangan sok menggurui saya." dokter Triya tidak terima akan perkataan Vey.
Disitu semua orang pada melihat dengan berbisik-bisik. Entah perkataan Vey benar atau apa yang dikatakan dokter Triya benar. Memang, dirumah sakit ini Vey terbilang masih baru dan sangat baru malahan.
Tetapi, disini Vey berusaha untukenjelaskan apa yang dia tahu. Meski baru awal kerja sudah banyak keluhan dari para orang tua mengenai penanganan yang selama ini dialami.
Vey mencoba untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Akhirnya, Vey sekilas mengangguk dan berkata "Maaf, kalau ucapan saya salah, dokter. Saya bukan bermaksud untuk berkata seperti itu. Tetapi,-"
"Ada apa ini?" teriak Manager rumah sakit yang saat itu melintas.
Vey dan dokter Triya seketika bungkam. Vey menundukkan kepala seraya tersenyum. Sedangkan dokter Triya semakin mendongakkan dagunya.
__ADS_1
Lelaki gagah dengan perawakan setengah bule setengah jawa. Berjalan dengan disampingnya seorang wanita keturunan negri sakura
Bayangin sendiri yah bagaimana perawakannya thu dokter managerπ.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Selamat pagi, Pak, Bu," salam Vey sesopan mungkin.
"Selamat siang tentunya, Dokter. Anda, dokter yang baru masuk itu bukan? Bagaimana, apakah Anda nyaman dirumah sakit ini?" tanyanya. Vey mengangguk tersenyum.
Si ibu dan anaknya tetap memperhatikan intensitas mereka. Sesekali saling bertatapan untuk berpamitan. Si anak menarik ujung jas putih milik Vey.
Refleks Vey kaget dan langsung beejongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak pasiennya.
"Ada apa adik manis?" tanya Vey mencubit gemas pipi gemolnya.
"Doktel cantik, Aueng mau pulang," jawabnya polos. Vey terkekeh dan menepuk dahinya.
"Aduh, Astagfirullah. Maaf yah sayang, dokter terlalu lama mengobrol jadi lupa deh. Iya, pokoknya Aurel harus rajin minum obat yah. Biar cepat sembuh," ucap Vey.
"Hu'um, doktel jangan takut sama doktel itu yah. Doktel tidak gila, yang gila doktel itu," bisik Aurel.
Vey tertawa kecil dan tanpa sadar tawanya samar terdengar dengan yang lain.
"Sayang, tidak boleh bicara seperti itu. Dokter itu tidak gila. Itu panggilan sayang dari beliau," kata Vey sambil melihat dokter Triya.
Dokter manager dan wanita sipit itu melihat ke arah dokter Triya yang membuka matanya lebar. Keduanya menggeleng tidak paham lagi dengan ulah apalagi yang dilakukan.
"Yasudah, Dokter. Saya dan anak saya pamit izin pulang. Terima kasih dokter Vey. Semoga dokter menjadi salah satu dokter yang banyak disegani dan sayangi semua pasien disini. Permisi," tutur ibu Aurel berjalan pergi.
Selepas kejadian itu Vey kembali masuk ke dalam ruangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Rasa rindu dengan yang disebrang sudah menggebu-gebu.
Dengan hati yang riang Vey mengambil ponselnya. Sepintas, terlihat nama lain diberanda ponselnya. Dahinya berkerut dalam dengan jari jempolnya membuka gembok ponselnya.
__ADS_1
Gemboknya gak pakai kunci inggris yah guysπππ€£π€£π€£π€£.....Pakai kunci belandaππ€£π€£π€£. Biar gak tegang, jangan dibuat fanas yah. Slow, calm babyππ