
Tangan dan mataku berhenti pada satu buku yang membuatku penasaran. Buku yang berwarna biru ditepiannya ada warna kuning keemasan.
Tidak ada kata atau kalimat yang aku temui diawal cover bukunya. Buku yang terkunci dengan gembok kecil.
" Buku apa yah ini, perasaan aku tidak pernah punya buku berwarna seperti ini. Aku tanya Eyang saja deh." ku letakkan buku itu kembali dan aku menuju kekamar mandi.
Sesudah aku membersihkan dan menyegarkan tubuhku, aku segera menuju ketempat kedua Eyangku berkumpul. Tatanan rumah Eyang masih sama seperti dulu tidak ada yang dirubah.
Rumah kuno dengan pintu yang terdapat ukiran tiap atasnya. Aku berjalan keruang tamu, terlihat Mas Deni sopir mobil sewaan itu masih ada disini. Mbak Asri dan Eyang putri sedang duduk berdampingan.
" Eyang, Vey boleh ijin gak untuk melihat-lihat diluar sana. Vey kangen sama tempat ini sudah lama juga." tanyaku kepada Eyang Putri.
" Boleh Ndok, tapi sama Mbakmu yah jangan berangkat sendiri. Eyang gak mau Gendok ketemu sama mereka." aku tau dan sangat paham betul. Eyang sangat mengkhawatirkan aku jikalau teman atau tetangga yang dulu tidak menyukaiku.
" Injeh Eyang? Aku sama Mbak Asri kok. Sekalian mau kepesarean(makam) Mas Fahmi. Boleh yah." kataku lagi.
" Yah sudah segera berangkat nanti keburu malam." ujar Eyang Kakung mengijinkan.
Disaat itu bersamaan Mas Deni mau balik pulang juga. Aku dan Mbak Asri berjalan kaki menuju pesarean Mas Fahmi. Dipertigaan jalan aku bertemu dengan teman lamaku.
Dia baru pulang dari warung karna dia terlihat membawa dua kantong tas plastik. Dia menatapku dengan sedikit menyunggingkan senyumnya. Aku tau apa yang ada dalam pemikirannya.
Aku dan Mbak Asri tidak memperhatikannya. Kami berdua masih fokus berjalan dan sering kali diselingi dengan obrolan lucu. Mbak Asri orangnya sangat manis, kulitnya tidak terlalu putih sepertiku humoris juga.
Sebelum memasuki area itu, aku membeli tiga kantong plastik bunga. Ku tarik nafas dalam-dalam, ku beranikan diri menginjak makam ini lagi. Sekelebat, kejadian demi kejadian menyerbu otakku.
Pening, sesak, yang ku rasakan saat ini. Mbak Asri yang melihat wajah pucatku menjadi khawatir. Dia, membujukku untuk kembali pulang tapi aku tidak mau.
Dengan tubuh yang gemetar aku mulai berjalan lagi. Mbak Asri yang dari awal memegangi tanganku juga merasakan dingin ditubuhku. Aku tidak memperdulikan Mbak Asri yang masih saja membujukku untuk pulang.
Nisan yang bertuliskan nama Mas Fahmi sudah berada didepanku. Tak bisa ku bendung lagi semua rasa rindu, sakit, kehilangan sudah menjadi satu.
Lihatlah aku saat ini yang masih sama seperti dulu. Yang lemah, yang berusaha baik-baik saja tapi rapuh didalam. Kepergian kalian yang tidak pernah terduga.
Pesta kecil itu menjadi pesta terakhirku dengan mereka. Hadiah yang akan aku berikan masih tersimpan rapi ditempatnya. Dengan hati yang kacau, ku taburkan bunga yang ada dikantong plastik yang ku beli tadi.
__ADS_1
Mbak Asri menaburkan ditempat Ayah dan Ibu.Tiga makam yang berdekatan, keluargaku tertidur dengan damainya. Tanpa harus berlama-lama menahan rasa sakit.
Buliran bening seperti kristal masih membanjiri kedua pipiku. Rindu yang sudah lama tersimpan kini sudah tersampaikan. Meskipun harus dengan cara seperti ini.
" Mas Fahmi, Ibu, Ayah! Aku datang melihat kalian. Apa kalian juga merindukanku, Mas Fahmi hari ini aku sedang berlibur. Selama dua minggu ini aku akan selalu sering kesini. Mas Fahmi, Ibu, Ayah aku sangat merindukan kalian semua, aku sangat sangat merindukan kasih sayang kalian lagi. Kenapa? Kenapa waktu itu tidak mengijinkan kebahagiaan itu utuh. Mas Fahmi, ditempat baru ku aku menemukan teman-teman baru yang sangat menerimaku. Pernah, suatu hari depresiku kambuh saat aku sedang jalan-jalan sore dialun-alun kota. Wajah itu sangat mirip dengan Mas Fahmi hanya saja dia dengan seorang perempuan. Saat itu pula aku menjadi histeris. Tapi untungnya aku dikelilingi dengan orang-orang yang sangat sayang kepadaku. Apalagi semua teman baruku membantu penyembuhanku. Sampai akhirnya kondisiku perlahan sedikit demi sedikit kembali lagi." ku usap sisa air mataku dan sejenak menarik nafas yang terasa sangat sesak.
" Mas, Mas tau tidak saat aku dalam kondisi yang rumit. Ada sosok laki-laki yang dengan tulus membantu ku. Laki-laki yang pertama aku kenal disekolah. Kehangatan yang dia berikan membuat ku memiliki perasaan suka. Entah suka hanya sekedar mengagumi atau suka yang benar-benar suka. Dia juga pernah mengutarakannya kepadaku tapi aku menolaknya. Aku tau dia masih suka sama cinta pertamanya. Dihatinya masih ada satu nama itu. Mas, aku merasa nyaman saat berada disisinya. Sama seperti saat kamu masih ada disini." belum sempat aku melanjutkan ceritaku ponsel Mbak Asri berbunyi.
" Eyang Deg yang nelfon." kata Mbak Asri memberitahuku. Aku menyuruh Mbak Asri mengangkatnya dan bilang sebentar lagi akan pulang.
Setelah telfon Eyang ditutup aku dan Mbak Asri berdoa sebelum pulang. Ku siram nisan yang berjejer tiga itu dengan air yang tadi aku beli. Ku tatap nisan Mas Fahmi seakan tidak rela untuk beranjak dari tempat ini.
" Yuk Deg, nanti keburu hujan. Langitnya udah mau gelap juga. Kasian Eyang nanti, besok kita kesini lagi." bujuk Mbak Asri kepadaku. Mau tidak mau aku harus pulang.
Dalam perjalanan menuju rumah Eyang aku dan Mbak Asri mampir sebentar untuk membeli martabak kesukaan kedua Eyangku. Aku masih memikirkan mimpiku waktu perjalanan kesini. Kenapa mimpi itu begitu sangat nyata.
Martabak yang kita pesan sudah siap, ku berikan uang pecahan lima puluh ribu. Seperti biasa aku selalu meninggalkan uang kembalianku, itung-itung bisa membantu mereka.
Jarak makam ke rumah Eyang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Masih melewati beberapa gang lagi untuk sampai kerumah Eyang.
Risa, sahabat yang sangat dekat denganku. Jika melihatku tatapannya masih sama. Mbak Asri yang tau itu langsung memelotokan kedua matanya. Mbak Asri akan sangat marah jika melihat Risa.
" Kamu yang sabar yah Dek, mereka tidak akan pernah tau apa yang kamu rasakan. Mereka hanya bisa melihat kejelekan orang lain. Mbak tidak menyangka saat kamu sedang terpuruk dia malah pergi. Dia bukan sahabat yang baik Dek." Mbak Asri memeluk ku dari arah samping dan mengelus lengan kiriku.
Aku hanya tersenyum kearah Mbak Asri, meyakinkan dia jika aku bukan Vey yang lemah. Aku akan membuktikan kepada mereka semua kalau aku tidak gila. Aku sudah bahagia meskipun aku hidup didepan jauh dari keramaian kota.
Sampailah kita dirumah Eyang, sebelum masuk rumah aku mencuci kedua tangan dan kakiku. Adat harus selalu dijaga, sesudah dari makam harus mencuci kaki dan tangan terlebih dulu.
" Assalamualaikum, Eyang!" salamku memasuki rumah disusul dengan Mbak Asri.
Tidak ada sautan dari orang yang aku beri salam. Mungkin mereka ada diteras belakang rumah kalau sore begini. Aku menuju teras belakang, dan benar saja Eyang Kakung dan Eyang Putri sedang duduk santai.
Sebentar, siapa laki-laki itu yang berada didepan Eyang. Dia membelakangiku dan Mbak Asri saat ini. Aku menyuruh Mbak Asri untuk menemui Eyang terlebih dulu.
Aku menuju tempat ternyamanku, sebelum ku berhasil mendudukkan tubuhku dengan sempurna. Aku mengingat sesuatu yang tadi ingin aku tanyakan kepada Eyang. Aku ambil buku itu dan berjalan kembali keteras belakang.
__ADS_1
Deg
Langkahku berhenti saat ku melihat laki-laki yang mirip dengan Mas Fahmi. Buku yang tadi aku pegang terjun bebas kelantai. Kepalaku terasa sangat berat, tubuhku hampir saja terjatuh mengikuti buku ku.
Mbak Asri langsung menangkap dan menyadarkan keterkejutanku. Aku memandang kearah Mbak Asri, Mbak Asri yang mengerti tatapanku menggelengkan kepalanya.
Aku dibantu Mbak Asri untuk duduk dikursi rotan yang tadi diduduki Mbak Asri. Alu masih dibuat bingung dengan keberadaannya yang disini. Eyang kakung menjelaskan siapa dia sebenarnya.
Ternyata dia masih ada hubungan darah dengan keluarga Mas Fahmi. Dia sepupu Mas Fahmi yang dari kota S. Dia, kesini hanya mampir sejenak. Eyang bilang dia sering mengunjungi Eyang. Sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi.
Aku masih diam melihat laki-laki itu. Memang benar darah lebih kental dari pada air. Meskipun hanya saudara tapi kemiripan itu tidak berbeda jauh. Aku memang mengenal keluarga Mas Fahmi, tapi aku tidak tau jika sepupu Mas Fahmi hampir mirip.
Eyang mengajak kita semua untuk makan malam. Aku yang masih tampak terdiam menjadi kekhawatiran tersendiri buat Mbak Asri. Malam ini aku meminta Mbak Asri untuk tidur denganku.
Niatku yang ingin menanyakan soal buku itu pun tertunda. Ku bolak balik buku itu siapa tau ada sebuah tulisan dibelakangnya.
" Buku apa ini sebenarnya, kenapa tidak ada namanya disampul depannya." batinku
Setelah puas memandangi buku itu kini rasa kantukku sudah menyapa.
Kurebahkan tubuhku disamping Mbak Asri yang sudah terlelap lebih dulu.
Ku tatap langit-langit kamarku, mencoba menerawang pertemuanku dengan sepupu Mas Fahmi itu. Perlahan kedua mataku menutup tanpa harus dipaksa.
" Vey, kamu harus bahagia tanpa aku." ucap Mas Fahmi dalam mimpiku.
NOTES: BAHAGIA TANPA ORANG TERKASIH ITU SANGAT SULIT UNTUK DILAKUKAN.
Maaf yah kalau masih ada banyak typo atau ada kata yang diulang-ulang.
Jangan lupa LIKE, SARAN yah kasih bintang 5 kalau mau.π
Ada yang pengen tau nama sepupunya Fahmi siapaππ tunggu kelanjutan ceritanya. Stay toon terus yah gk tau bener ap salah nulisnya masa bodohπππ......
dibully dibully dachπππππ
__ADS_1
selamat malam mimpi indah yah