SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
DATANG BERKUNJUNG WILDAN


__ADS_3

Sepanjang pelajaran pikiran Wildan hanya terfokus kepada Veyo. Sesekali melihat meja dan bangku yang biasanya Vey tempati. Bayangan Vey, pertama masuk kelas pun membuat Wildan tidak pernah fokus dengan apa yang diterangkan sang guru. Teguran demi teguran tak pernah Wildan dengar, hingga akhirnya pak guru menyuruh Wildan keluar


Semua teman teman yang melihat pun dibuat heran, tidak biasanya Wildan bengong saat mata pelajaran sedang dimulai. Tio, yang melihat Wildan beranjak berdiri dan keluar menuju pintu itu pun, merasa terheran. Setelah Wildan menghilang dari balik pintu itu, pelajaranpun dimulai kembali.


Wildan yang berjalan sendiri keatap gedung sekolah itu dikejutkan dengan kedatangan Iren dan Reza yang dari atas gedung. Seketika itu, Wildan memberhentikan langkahnya untuk melanjutkan naik keatas. Wildan yang hendak berbalik arah pun berhenti ketika Iren memanggilnya. Tapi bukan Wildan jika tidak menggubris panggilan Iren, pemuda itu sedikit menolehkan lehernya untuk sedekar melirik mereka berdua yang berjalan turun. Reza menyapa Wildan dengan anggukan kepala sedangkan Iren dia mencoba tersenyum untuk menyapa Wildan.


Sedang yang disapa hanya terlihat sedikit menaikkan bibirnya keatas. Tanpa mau melihat Wildan melanjutkan langkahnya untuk menuju kantin sekolah. Dalam pikiran Wildan saat ini hanya lah bagaimana kondisi Veyo sekarang, dan kejadian ap yang membuat Veyo kembali depresi lagi. Sambil menyeruput minumannya Wildan masih terus memikirkan cara gimana Veyo bisa kembali tersenyum lagi.


Jam istirahatpun sudah tiba, Tio segera menyusul wildan kearah kantin. Didepan pintu kantin Tio mencari cari sosok Wildan yang duduk sendiri dipojokan. Dengan cepat Tio menghampiri Wildan, Wildan tidak sadar saat Tio sudah mendukmdukan tubuhnya didepannya.


"Eh, bengong aja kamu Wil!" Menyambar minuman yang dipegang Wildan.


"Minumanku itu Tio?, kebiasaan deh kamu itu." Omel Wildan.


"Kenapa kamu, masih kepikiran Iren?". Tebak Tio asal.


"Gak kok, aku cuman kepikiran sama Veyo. Kasian dia Yo. gak nyangka ternyata sosok Veyo yang selalu tersenyum itu menyimpan sebuah kesedihan."


"Tapi aku salut sama orang tua dia, kedua orang tuanya sudah berusaha untuk menghilangkan semua kesedihan yang menimpa sang putri. Papa Veyo rela meminta pindah tugas, agar anaknya bisa lupa dengan kejadian yang menimpa saudaranya. Kalau aku yang menjadi Vey, mungkin aku akan ikut menyusul." Sambung Wildan.


"Emang kamu mau menyusul kemana, jangan sok kuat deh kamu. Ditolak Iren aja kamu udah kayak orang gila, apalagi berada diposisi Vey saat ini. Sudah aku jamin deh kamu gantung duluan." Jawab Tio menoyor belakang kepala sahabatnya itu. Jika dipikir pikir apa yang dikatakan Tio ada benarnya juga, Ditolak cinta saja sudah seperti orang setengah gila apalagi mengalami hal seperti Vey.


"Gimana, sepulang sekolah ini kita berkunjung kerumah Veyo. Kita ajak anak anak kampung, mereka kan juga udah pada kenal sama Veyo." Ide Tio.

__ADS_1


"Boleh juga idemu Yo, tumben ecer otakmu habis sarapan apa kamu!" Canda Wildan. Yang dicandain bergaya sok ganteng dengan mengibas ngibaskan pundaknya.


***


Akhirnya Wildan, Tio dan beberapa anak remaja lainnya berbondong bondong untuk menjenguk Veyo. Dimata warga setempat keluarga Veyo sangatlah ramah, mereka tidak pernah membeda bedakan. Sehingga, warga pun juga ikut merasakan sedih melihat kondisi Vey saat ini. Untaian doa demi doa selalu mereka ucapkan saat berkunjung. Papa dan Bunda juga mbg Asri, sangat berterima kasih atas kepedulian mereka terhadap putri kesayangannya. Kalau dirasa mereka masih baru menjadi warga disini. Tapi, respon warga desa sangat baik.


"Assalamualaikum,,!" Salam semuanya.


"Wa'alaikumsalam,, ,?, Eh ada tamu rupanya. Silahkan masuk nak." Ucap Bunda Vey menpersilahkan masuk.


"Mau menjenguk Vey yah nak Wildan." Tanya sang tuan rumah ramah.


"Iya bu, apa kondisi Vey sekarang sudah lebih baik bu?". Tanya salah satu remaja yang ikut menengok Vey.


"Kalau, boleh tau kenapa Vey bisa kambuh lagi bu?". Tanya Wildan.


"Entah lah nak Wildan, kemaren pas hari sabtu sore Vey sudah pulang dengan keadaan yang sudah menangis, wajahnya sudah pucat dan sudah acak acakan. Vey, masih belum mau menceritakannya, dia masih diam membisu." Tangis sang Bunda.


Mbg Asri yang datang membawakan minuman segar terkejut melihat Bunda menangis, dia meletakkan gelas yang berisi minuman dingin itu kemudian duduk disamping sang Bunda untuk menguatkan ibu angkatnya itu.


Wildan yang melihat itu sontak duduk bersimpuh didepan Bunda Vey.


"Maaf, Bu, bukan maksut saya membuat ibu bersedih lagi. Kalau boleh diijinkan kami ingin melihat dan menyapa Vey didalam." Ijin Wildan.

__ADS_1


Seraya menghapus sisa air mata, Bunda beranjak berdiri diikuti oleh mereka. Bunda mengajak Wildan dan teman teman lainnya menuju kehalaman belakang rumah. Disana, Vey duduk membelakangi mereka. Vey, terlihat sedang mendengarkan musik diponselnya. Lagu yang sering diputar oleh Fahmi untuk Vey, pas semasa hidupnya. Lagu itu menjadi lagu favorit mereka.


Bunda menghampiri Vey perlahan.


"Vey, ada nak Wildan dan teman teman lainnya ingin menjenguk kamu." Ucap sang Bunda seraya mengelus pucuk kepala Vey. Vey, lalu menatap satu persatu tamunya dan menyelipkan sedikit senyuman sebagai tanda dia senang. Bunda Vey mempersilahkan yang lainnya untuk duduk santai dibawah beralaskan karpet.


Taman yang nyaman ditemani sepoy sepoy semilir angin sore menambah ketenangan bagi setiap orang. Terutama untuk Vey, dia merasa sangat tenang jika bersantai dan mendengarkan musik kesukaannya. Vey kembali tersenyum saat melihat kearah Wildan dan Tio. Dia merasa sangat bersyukur, disaat dia sedang terpuruk banyak orang dan teman temannya yang memberi semangat untuk kembali tersenyum seperti sebelumnya.


Bunda yang sudah pergi membiarkan anaknya bersama teman temannya menyiapkan makanan untuk mereka semua. Sedangkan mereka masih dalam keheningan, tak ada satupun yang berani bertanya. Menatap sendu wajah putih itu, sesekali diselingi sebuah senyuman yang mereka rasa senyuman kesedihan. Wildan dan Tio saling pandang, setelah kemudian Tio memveranikan diri untuk menyapa.


NOTES: ADA PEPATAH MENGATAKAN, JIKA ADA PERTEMUAN PASTI AKAN ADA PERPISAHAN. JIKA ADA KEBAHAGIAAN DISITU PULA PASTI AKAN ADA KESEDIHAN.


AUHTORNYA JUGA IKUTAN NYESEK ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ.


Apa lagi pagi pagi tadi udah ada yang bikin kesel๐Ÿ˜Š.


Pesanku buat para pembaca, tolong hargai karya orang lain, hargai usaha mereka. Jadi penulis itu gak gampang guys. Jadi tolong yah buat semuanya terutama buat para penulis penulis lainnya, jangan pernah patah semangat hanya karna ada yang berkomentar AH ALUR CERITANYA GK SERU, AH LAMA UPNYA, AH AUTHORNYA GK RAMAH bla bla bla bla.


Anggap aja mereka iri terhadap arya karya kita, yang bisa menciptakan tulisan yang bagus. Tetap Semangat, Tetap jaga pola makan juga yah


Oh ya buat author kesayanganku KAK NONA LANCASTER maaf kalok salah nyebut๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰, Tetap semangat,tetap berkarya,jangan pernah mendengarkan ocehan burung puyuh๐Ÿ˜Š diluar sana. Dan tetap jaga pola makan. HoBY tetaplah HOBY. Teruntuk semua para AUTHOR AUTHOR LAINNYA.TETAP LAH BERKARYA DAN SELALU TERSENYUM๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


SALAM HANGAT DARIKU ๐Ÿ˜˜ ๐Ÿ˜˜ ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2