
Aku tidak pernah menduga jika liburanku akan seperti ini. Satu minggu lebih aku sudah berlibur dirumah Eyang.
Tapi, bukan ketenangan yang aku dapatkan. Bukan juga kebahagiaan yang aku temui. Melainkan sesuatu yang tidak pernah aku tau.
Setelah kejadian itu, semua keluarga berusaha untuk menghiburku. Papa berencana mengajak kita semua berlibur ke Jogja.
Aku mengikuti kemanapun mereka akan membawaku. Berharap ditempat baru itu aku akan menghilangkan semua beban dan masalahku.
Fatih juga ikut serta dalam liburan ini. Dia selalu mencoba untuk berusaha menghiburku. Tapi, tidak denganku.
Aku tidak menyalahkan dia dan tidak benci juga. Aku masih butuh waktu untuk mengembalikan kondisi hatiku.
Aku kira jika ku kesini aku akan melupakan perasaanku kepada Wildan. aku harus bisa melupakannya, aku tidak ingin semuanya retak.
Sore hari, aku berniat untuk mengunjungi makam Mas Fahmi untuk terakhir kalinya. Karna, besok kita semua akan berlibur ke Jogja. Tempat yang ingin aku dan Mas Fahmi kunjungi sedari dulu.
Setelah sampai disana aku ingin pergi kepantai greweng. Perjalanan kali ini memakan waktu cukup lama 4 jam 38menit.
Suasana didalam mobil sebenarnya cukup ramai. Tapi, entah kenapa denganku rasanya nyawa dan ragaku tidak menyatu.
Aku duduk disamping Fatih, Bunda menyuruhnya untuk duduk denganku. Walaupun aku menolak tapi Bunda bakalan tetap menyuruh dia didekatku.
Pandanganku masih tertuju keluar mobil, telingaku dari awal sudah aku sumpal dengan headsat. Banyak yang ingin mengajak aku bicara tapi aku hanya diam dan mendengarkan musik kesukaanku.
Angin semilir membuat kedua mataku ingin menutup. Dipertengahan perjalanan mobil yang disewa Papa berhenti sebentar untuk mengisi bensin.
Aku masih tidak memindahkan pandanganku yang sedari tadi menatap keluar mobil. Musik yang ku dengarkan juga membantuku dari suara-suara yang terus memanggilku.
Mendengarkan musik disaat hati yang seperti ini sangat menghibur buatku. Dari dulu, aku lebih suka mendengarkan musik untuk mengembalikan suasana hatiku.
Tak lama akhirnya mobil berjalan kembali dengan kecepatan yang tidak begitu kencang. Ku hembuskan nafas yang terasa sesak, sangat sesak ku rasakan.
Ku sandarkan kepalaku dikursi dengan sedikit menempel kepinggiran jendela mobil. Ku coba untuk memejamkan kedua bola mataku yang sudah mulai lelah.
Tak menunggu lama kedua mata lelahku akhirnya tertutup dengan sempurna.
***
Setelah menunggu cukup lama mobilpun berhenti disuatu hotel yang lumayan dekat dengan tempat yang akan kami kunjungi.
" Dek, bangun yuk udah sampai hotel nih. Lanjutin lagi dikamar," ucap Mbak Asri membangunkanku.
Perlahan ku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku untuk menyempurnakannya. Kuembuka pintu mobil dan berjalan mendahului mereka yang masih menurunkan barang-barang.
Bukan maksudku tidak mau membantunya tapi saat ini aku ingin segera masuk kedalam kamar dan menidurkan tubuhku. Ku berjalan kearah resepsionis untuk meminta kunci dan mendaftarkan semuanya.
Setelah sudah mendaftarkan semuanya aku menunggu semuanya. Aku mencari tempat duduk disekitar sini. Ku putuskan untuk menunggu mereka diloby hotel yang tidak jauh dari tempat resepsionis.
Belum sempat ku duduknya tubuhku, ada orang yang menepuk pundakku.
"Mely, kenapa dia ada disini," batinku saat ku tau orang yang menepuk ku.
__ADS_1
" Hay, kamu Vey kan? Gimana kabarnya sudah lama tidak bertemu. Kesini sama siapa," cecar Mely.
Mely adalah salah satu sahabat terdekatku dulu. Sekarang, tidak semenjak mereka semua menganggapku gila dan menjauhiku.
Aku yang disapa hanya diam tidak mau menanggapi ucapannya. Saat Mely mendudukan tubuhnya dengan sempurna keluargaku datang.
Aku masih saja tidak menghiraukan ocehan-ocehan Mely yang menurutku hanya omong kosong. Aku berdiri ketika Bunda dan rombongannya semakin dekat.
Tanpa mau berkata lagi aku menyodorkan semua kunci yang ku dapatkan dari resepsionis tadi. Bunda melihat kearahku dan kemudian melihat kearah Mely.
Bunda tau dengan Mely karna dia sering main kerumah dulu. Bunda tau saat ini aku pasti merasa tidak enak. Bunda menggenggam tanganku untuk menyalurkan kekuatannya.
" Mely, kamu liburan disini juga toh," sapa Papa mencoba basa basi. Sebenarnya Papa juga khawatir denganku tapi beliau mencoba menyembunyikannya.
Mbak Asri dan kedua Eyangku menatap tidak suka kepada Mely. Fatih masih berdiri didekat Papa sambil membawa ranselnya.
" Iya, Kan masih libur sekolah Pak De. Kok bisa kebetulan yah ketemu disini," jawab Mely.
" Kamu disini sendirian apa sama keluargamu Mel," tanya Bunda.
" Aku disini sama sepupuku kok Budhe, sama beberapa teman juga sih," jawab Mely lagi.
Aku menarik-narik lengan Bunda agar menyudahi basa basi ini. Aku benar-benar tidak nyaman dengan pertemuan ini. Akhirnya Fatih yang melihat ketidak nyamananku mencoba untuk memberib isyarat kepada Mbak Asri.
Fatih memberi isyarat lewat ekor matanya agar Mbak Asri tau. Mbak Asri yang tau maksudnya Fatih segera menganggukkan kepalanya mengerti.
" Bun, udah yuk kasian Eyang berdiri dari tadi. Maaf yah kami duluan," ucap Mbak Asri sengit kepada Mely. Tanpa menunggu jawaban dari Mely Mbak Asri membawa kita pergi.
Ku menyenderkan tubuhku yang belakang didinding lift. Sore nanti kita semua akan pergi melihat matahari terbenam. Aku tidak sabaran untuk waktu itu.
Ting ...
Suara lift berbunyi menandakan kita semua sudah sampai dilantai yang dituju. Kamarku bersebelahan dengan kamar Fatih. Sedangkan Mbak Asri berdekatan dengan kedua Eyang. Bunda dan Papa jelas satu kamar pastinya.
Dengan segera ku merebahkan tubuhku dikasur empuk yang tertutup kain putih. Ku lanjutkan tidurku kembali dengan telentang. Headset yang menempel ditelingaku sudah terlepas sedari tadi.
Semua rombongan mungkin masih ada yang membereskan barangnya. Tidak dengan Vey yang sudah jauh di alam mimpinya.
Bunda dan lainnya akhirnya menyusul Vey kedalam mimpi yang indah. Tanpa mereka sadari, Vey dan lainnya melewatkan jam makan siang.
Vey masih setia dengan mimpi-mimpi indahnya hingga tanpa dia tau hari sudah hampir malam.
Bunda sudah berusaha mengetuk pintu kamar Vey, tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Mereka memutuskan untuk makan malam duluan kebawah. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Vey, saat mengetahui semuanya kondisi Vey sangat tidak baik.
Pola makan yang sedikit, dan jika malam tiba dia akan kembali menangis. Jadi mereka semua membiarkan Vey untuk beristirahat lebih banyak lagi.
Hingga pukul tujuh malam Vey masih belum juga bangun. Bunda yang khawatir menyuruh Papa untuk meminta kunci cadangannya kepada resepsionis.
Setelah mendapatkan kunci Papa langsung membuka kamar Vey.
__ADS_1
Ceklek Ceklek
Samar-samar telingaku mendengar suara seperti suara pintu yang sedang dibuka.
Ku pindahkan posisiku menjadi duduk, mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang masih belum terkumpul.
" Nak, ya alloh sayang ...! Kenapa dipanggil dari tadi gak jawab sih," cemas Bunda menghampiriku. Aku yang mendapat perlakuan dari Bunda hanya tersenyum tanpa menjawab.
Ku edarkan pandanganku melihat dibelakang Bunda yang sudah kumpul semuanya. Tatapanku bertemu dengan tatapan Fatih, hening sekejap yang aku rasakan.
Akhirnya, aku membuka suara untuk menghilangkan keheningan yang ku ciptakan.
" Sudah jam berapa Bun," tanyaku kepada bunda yang masih duduk disampingku.
" Sudah mau jam sembilan malam sayang. Kamu sih dari tadi kita panggil yang nyaut. Capek yah sayang, nyenyak tidurnya Nak." Tanya Bunda sambil mengelus tanganku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan. Sekarang dikamar hanya ada aku dan Bunda. Papa, kedua Eyang, Mbak Asri dan Fatih sedang menunggu diluar.
" Bun, Vey boleh gak nanyak sesuatu ke Bunda," tanyaku mercon memberanikan diri. Bunda menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
" Bun, apa bener yang mendonorkan kornea matanya kemata Fatih itu Mas Fahmi. Juga, dulu kok Mas Fahmi tidak pernah menceritakan Fatih kepadaku," tanyaku kembali. Bunda diam sebentar kemudian beliau berdehem.
Menarik telapak tanganku dan mengelus lembut rambutku kebelakang. Bunda tersenyum kepadaku dengan kedua mata yang sedikit berkaca-kaca.
" Nak, bukan maksud kita semua menyembunyikan semuanya sama kamu hanya saja kita semua menunggu waktu yang tepat. Dan saat kamu bertemu Fatih di alun-alun sebenarnya dia juga tinggal disana. Dari kecil keluarga Fatih dan Masmu tidak pernah bertemu lagi. Ibu dan Ayahmu kehilangan kontak mereka sampai akhirnya dia mendapat kabar dari temannya jika anak dari saudara Ayahmu mengalami kecelakaan. Tidak lama mereka bertemu kembali tapi dengan keadaan yang berbeda." Bunda sejenak menghentikan ceritanya mengambil nafas untuk menahan agar tidak menangis didepanku.
Aku masih menunggu cerita selanjutnya, aku sangat penasaran dengan Fatih. Bunda terlihat menengokkan kepalanya sebentar seperti menghapus air matanya yang lolos keluar.
Ku memegang tangan Bunda yang sedari tadi tidak lepas dari genggamanku. Seketika Bunda melihat kearah ku lagi.
" Bun, aku tau kalian sangat menyayangiku. Aku tau kalian semua mengkhawatirkan kondisiku aku tidak pernah marah kepada kalian semua. Hanya saja aku masih belum bisa menerima aku butuh waktu untuk semuanya," jawabku berusaha menyembunyikan kekecewaanku.
" Sudah, Bunda tidak ingin liburan kita terganggu. Lain kali saja Bunda akan menceritakannya lagi. Sekarang, kamu tidur lagi biar besok pagi biar segar," perintah Bunda.
Tanpa banyak protes aku langsung memposisikan tubuhku untuk berbaring. Bunda menyelimutiku sampai bahu, sebelum meninggalkan aku tidak lupa Bunda selalu mencium keningku.
Ku menutup mataku kembali saat Bunda beranjak untuk keluar dari kamar. Saat Bunda sudah benar-benar keluar aku terduduk kembali.
Aku terisak-isak memeluk lututku, ku tenggelamkan wajahku ditekukan kedua lututku. Sulit untukku menerimanya untuk menggantikan posisi Mas Fahmi.
Sampai akhirnya aku tertidur dengan posisi kepala yang masih tenggelam dikedua lengan dan lutut yang tertekuk.
NB: LEBIH BAIK SAKIT DIAWAL DARIPADA SAKIT DIBELAKANG. SAAT SEMUANYA TELAH BERUBAH ASING.
Mungkin tidak banyak yang menunggu Upπ tapi aku masih bersyukur dan berterima kasih untuk yang mau menyempatkan mampir kekarya recehku.
Jangan lupa LIKE, SARAN, kasih bintang atau jika berkenan bisa VOTE.
Selamat membaca
Salam dari yang terkasihππππ
__ADS_1