
Sesampainya dirumah Devano masih mengingat apa yang diceritakan Tyo. Apa selama ini dirinya tidak menyadari itu. Tidak ingin berfikir negativ tentang istrinya, Devano memilih untuk menyegarkan dirinya.
Vey masih belum pulang dari tempat kerjanya. Lima belas menit kemudian Vey pulang dengan membawa motor pinknya. Dengan penuh semangat Vey menatap rumah yang sudah bersinar.
Itu pertanda suaminya sudah pulang terlebih dulu dari dirinya. Memarkirkan kendaraannya tepat disamping motor suaminya.
"Assalamualaikum," salam Vey membuka pintu rumahnya.
Tengok kanan kiri tidak mendapatkan keberadaan suaminya. Vey memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa.
"Alhamdulilah, nyampai rumah juga," ucapnya memejamkan mata.
Tanpa sadar Vey tertidur dengan posisi duduk dan masih mengenakan baju dinasnya. Devano keluar kamar mandi dan melihat istrinya yang tertidur. Dihampirinya dan ditatap dalam wajah lelah sang istri.
Ada sebuah rasa yang menyeruak dalam hatinya. Gelombang cemburu berusaha merusak pemikirannya.
"Andai, waktu bisa aku ulang Vey. Saat itu mungkin aku tidak akan melupakan semua itu. Astaghfirullah," ucap Devano meraup wajahnya.
Bibirnya tersenyum saat melihat wajah cantik Vey yang tertidur pulas. Begitu sangat polos dan terlihat natural sekali. Handuk yang masih mengalung di lehernya dibiarkan menggantung.
Tiba-tiba ada sebuah ide untuk mwnjahili istri tercintanya. Bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar. Memakai pakaian rumahan dan ditangan sudah ada spidol.
Senyumnya tidak pernah surut ketika membayangkan wajah Vey yang dilukis. Sedikit jahil kepada istri itu perlu dan bahkan sangat perlu. Karena hubungan yang harmonis itu bukan hanya hubungan yang serius.
Dalam keheningan malam sepasang suami istri itu masih dalam kediaman. Devano tidak berhenti tertawa disaat melihat wajah wanita yang sudah lima bulan menemaninya.
Tepat pukul sembilan Vey terbangun, kedua matanya mengerjap dengan kedua tangan merentang.
"Huwa,,,,,," uap Vey. Tanpa sadar jika, suaminya memperhatikan dari belakang.
"Nyenyak bener tidurnya ibu dokter ini," sindir Devano melangkah sambil membawakan segelas susu.
Vey tersentak kaget mendapati suaminya datang tiba-tiba.
"Lho, mas sejak kapan disitu?" tanya Vey menyemprunakan duduknya. Devano dengan sekuat tenaga menahan tawa agar tidak kelepasan.
__ADS_1
Pipinya mengembang layaknya makan cilok. Vey yang melihat suaminya hanya terheran. Menggeser sedikit duduknya agar Devamo bisa duduk disandingnya.
"Ini susunya!"
"Terima kasih, sayangku,"
Sekali tenggak air susu sudah meluncur deras ke tenggorakan Vey. Runtuh sudah pertahanan Devano yang melihat lukisan di wajah sang istri.
Vey, terkejut sampai-sampai memuncratkan susu yang tinggal sedikit ditenggaknya. Makin keras Devamo tertawa melihat Vey yang menurutnya seperti orang linglung.
"Apa sih mas. Gak tau apa aku sedang minum,"
"Egak, gak papa kok,"
"Heran deh dari tadi kamu itu aku perhatiin kok kayak orang nyembunyiin sesuatu siih. Gak mau bilang nih, main rahasia-rahasiaan nih sekarang?"
"Bftt, egak. Gak ada yang aku rahasiain kok. Cuma lucu aja lihat wajah kamu. Haa haa haa haa," tawanya menyeruak dikeheningan malam.
"Apaan sih mas, jangan mulai deh,"
Tidak ingin meladeni suaminya yang tidak tahu kenapa tertawa. Vey memutuskan pergi ke kamar mengambil handuk dan bergegas mandi.
"Massss,,,nyebelin banget sih. Tapi sayang, hihihi," gerutu Vey cekikikam sendiri di dalam kamar mandi.
Dalam situasi malam ini keduanya memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Seharian bekerja membuat keduanya jarang saling ketemu. Vey yang sibuk dengan pekerjaannya. Begitupun, Devano yang juga merencanakan pembukaan cafe barunya.
Devano tidak bisa tertidur dengan lelap. Berulang kali tubuhnya bergerak miring kanan, miring kiri. Merasa kesal sendiri Devano memutuskan untuk bangun dan beranjak keluar.
Langit malam penuh dengan ribuan bintang yang berkelap-kelip. Dipandanginya langit malam itu dengan perasaan yang tidak karuan.
..."*Kita tidak bisa memaksakan pasangan kita untuk mencintai kita sepenuhnya, Dev. Tapi, takdir lebih memilih kalian untuk bersatu,"...
......"Cinta itu memang rumit dan tidak berupa*,"......
"Aku yakin Vey sama sekali tidak memiliki perasaan sedikitpun kepada Wildan. Yakin, Dev, Vey hanya cinta dan sayang denganmu. Semua itu kisah lama yang harus ditutup rapat. Ssshh, Ach," monolg Devano sesaat kepalanya terasa sakit.
__ADS_1
Vey, wanita itu mendengar semua apa yang diucapkan Devano. Setetes air lolos membasahi pipinya. Dengan pergerakan cepat Vey menghapus dan bersembunyi di belakang pintu.
Devano kembali masuk untuk mengambil obat yang dikotak P3K. Miris, dengan keadaan seperti Devano masih juga meragukan dirinya. Bukan hanya sekedar meragukan Vey. Lebih tepatnya ingin menanyakan hatinya agar tidak ada hati yang terluka.
"Dev, apa kepalamu kembali sakit lagi?" tanya Vey dibelakangnya.
Devano berbalik dan menampilkan senyum manisnya. Anggukan diberikannya kepada wanita didepannya. Dengan khawatir Vey berlari menuju dapur untuk mengambilkan air.
"Ini airnya, minum sambil duduk yuk!" ajak Vey menuntun suaminya.
Sekali tegukan obat itu meluncur selang beberapa menit keduanya terdiam. pukul dua belas tepat Vey maupun Devano memilih untuk melihay televisi.
Vey, melirik Devano yang menatap kelayar televisi dengan tatapan kosongnya. Pikirannya membuat Vey bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada hubungannya ini?.
Tidak ingin berfikir jelek Vey mencoba mencairkan susasana yang beku. Hanya suara telivis yang sejak tadi terdengar.
"Dev, apa yang sedang ingin kamu tahu tentang aku?" tanya Vey dengan intonasi yang serius. Devano lalu memutar lehernya kesamping.
"Kok, tiba-tiba bertanya seperti itu kamu, Dik. Aku sudah tahu semua tentang kamu sayang?" jawab Devano mengelus pipi kiri istrinya.
Dengan tersenyum Devano menatap manik mata istrinya. Jelas tergambar ada sesuatu yang membuay Vey menjadi serius seperti ini. Pelan Devano menghembuskan nafasnya.
Dikecup punggung kedua telapak tangan Vey. Dan, sekali manik keduanya bertemu pandang.
"Vey, aku tahu. Aku masih belum sepenuhnya bisa mengingat semuanya. Tentang kamu, tentang kita ataupun tentang hubungan kita dulu. Vey, ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal pikiranku," terangnya dam Vey masih menunggu kelanjutan yang akan diucapkan Devano.
"Vey, apa kamu masih menyimpan ruang kecil dalam hatimu. Ruang yang tidak seharusnya aku masuki. Ruang yang tidak seharusnya aku isi dengan namaku?"
Deg
Vey sudah menebak apa yang membuat suaminya berkata seperti tadi. Vey berusaha untuk tetap tenang. Kini, Vey harus bicara dari hati ke hati.
Tersenyum, itu yang Vey perlihatkan. Dengan sekali tarikan nafas dan dihembuskannya lagi. Sedetik kemudian Vey menyandarkan kepalanya tepat di dada suaminya.
Tangannya melingkar erat di tubuh suaminya. Devano membalas pelukan Vey tidak kalah erat. Dikecup dalam dan sangat lama pucuk kepala Vey.
__ADS_1
Kembali, hening seketika sampai, akhirnya Vey menjawab pertanyaan dari suami tampannya.
"Dalam sebuah pertemanan antara wanita dengan lelaki. Pasti ada sebuah perasaan yang tidak pernah kita tahu. Mustahil jika, aku menyangkal semua itu. Dan munafik jika, aku bilang kalau tidak pernah memiliki sebuah rasa kepada lawan jenis."