SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
MATAKU BUKAN MATAKU FATIH


__ADS_3

Oprasi transplatasi kornea mata ku berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Begitu bahagianya diriku bisa melihat dunia lagi.


Ini semua berkat bantuan dari saudaraku Fahmi. Jasad Fahmi dan kedua orang tuanya segera diurus kepulangannya untuk segera dimakamkan.


Setelah semuanya selesai diurus, jasad Fahmi dan kedua orang tuanya langsung dibawa kerumah duka.


Ayah dan Ibu menyuruh Papa Veyo untuk segera dimakamkan. Jika harus menungguku itu akan lama, karna aku masih belum bisa pulang.


Aku sudah dipindahkan keruangan inap biasa. Selesai oprasi perban dimataku tidak langsung dibuka dulu. Saya harus menginap satu hari lagi dirumah sakit.


Hari ini perbanku akan dibuka, semua keluarga juga berkumpul diruang inapku. Rasa gugup seketika menyergapku, aku yakin semuanya juga sama merasakan.


Dalam hitungan detik perbanku mulai terlepas sedikit demi sedikit. Dokter memberi aba-aba supaya aku tidak grusah grusuh untuk membuka mataku.


" Satu, Dua, Tiga. Dibuka pelan-pelan yah Mas sesuaikan dulu dengan cahaya lampu," bimbing Dokter.


Perlahan aku membuka kelopak mataku, samar-samar ruangan ini terlihat. Setelah kedua mataku terbuka sempurna, ku arahkan pelan kesekelilingku.


Tampak terlihat dengan jelas semua keluargaku, aku bisa kembali melihat lagi. Aku bisa melihat Ayah dan Ibuku, aku juga bisa melihat orang yang aku sukai.


Aku langsung menghampiri kedua orang tuaku. Aku memeluk satu persatu orang tuaku, tangis haru diwajah Ibuku.


Ku usap air mata yang membasahi wajah yang hampir keriput itu. Beliau tidak hentinya menciumi kedua pipiku. Kita bertiga berpelukan sangat erat.


Dalam hatiku tak hentinya menggumamkan kata terima kasih. Aku juga sedih harus berpisah dengan keluarga yang lama tidak pernah aku jumpai.


Saat ini juga aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Karna kondisiku yang sudah lumayan membaik. Aku meminta kepada kedua orang tuaku agar kemakam terlebih dulu.

__ADS_1


Sampai dimakam ku pandangi tiga gundukan yang masih banyak bunga dan tanah yang masih basah.


Aku berjongkok didepan makam Fatih, ku ulurkan tanganku untuk memegang papan nisannya.


" Terima kasih, terima kasih untuk kornea matanya. Terima kasih untuk mata ini, mungkin kata terima kasih tidak akan bisa menggantikan kebaikanmu. Meskipun keluarga kita sudah lama terpisah tapi kamu bisa menemukannya. Meskipun dengan keadaan yang seperti ini," aku tertunduk didepan kuburan Fahmi.


Tanpa terasa aku terisak sangat hebat, aku sudah tidak bisa menahan semuanya. Antara bahagia dan kehilangan itu bercampur jadi satu.


Ayah dan Ibu menenangkanku yang masih terisak. Aku tidak tau dengan mata yang beda dan tubuh yang sama apa aku bisa seperti Fatih sebelumnya.


Hari sudah mulai menunjukkan akan kegelapannya. Awan sudah berubah menjadi senja yang sangat indah.


Sesampainya dirumah aku disambut oleh keluargaku yang lain. Tidak tau harus berapa kali aku harus mengutarakan kebahagiaan ini.


Aku tidak boleh terlalu bahagia saat ini, aku tidak boleh bahagia diatas penderitaan Almarhum Fahmid an kedua orang tuanya.


Papa Vey dan Bunda berpamitan kepada kita semua. Tak terkecuali kedua tetua ini, mereka juga pamit pulang. Sekarang rumah terasa sangat sepi, hening dan seperti tidak berpenghuni.


Memang sebelumnya rumah ini juga ditinggali oleh aku, Ayah dan Ibu. Tapi, mungkin karna kita semua masih dalam suasana berkabung.


" Hah, nyaman sekali . Aku sangat merindukan kasur ini. Haaaaaa," gumamku melentangkan kedua tanganku disamping tubuhku.


Tidur dirumah sakit sangat melelahkan, makanannya juga lebih enak masakan dirumah. Tak butuh waktu lama akupun tertidur, masih dengan posisi telentang.


***


Sedangkan ditempat lain Papa dan Bunda Vey juga kedua Eyang Vey masih memikirkan bagaimana menjelaskan semuanya kepada Vey.

__ADS_1


Mereka tidak mau Vey terganggu pesikisnya jika mengetahui Fatih yang mendapatkan donor mata Fahmi. Mendengar Fahmi dan kedua orang tuanya meninggal Vey sudah histeris sampai berkali-kali pingsan.


Sampai-sampai dia depresi berat, hari-harinya hanya menangisi kepergian keluarga nya. Papa dan Mama Vey akhirnya berencana untuk menyembunyikan semuanya.


Bahkan kedua Eyang nya pun juga ikut dalam rencana ini. Sesuai amanah Fahmi semuanya tidak diijinkan untuk memberitahukan kepada Vey.


Mereka semua juga dibuat bingung dengan permintaan Fahmi yang tidak masuk akal. Dia meminta ijin untuk mendonorkan matanya ke Fatih. Semua yang mendengarkannya juga terkejut tapi, mungkin itu adalah pesan terakhir dari Fahmi.


Tidak ada yang curiga dengan permintaan Fahmi itu. Setelah membahas semuanya beranjak pergi kekamar masing-masing.


NB: SEPERTI PWRIBAHASA GAJAH MATI MENINGGALKAN GADING, HARIMAU MATI MENINGGALKAN BELANG.


Maaf jika ada yang tanyak


kok gk nyambung, kenapa fahmi tidak diceritakan, kenapa cerita Vey digantung.


Sengaja untuk Fahmi tidak aku ceritakan seperti yang lainnya. Karna takut jika harus menceritakan satu persatu takut bikin tambah bingung. Karna aku menulis ini sesuai dengan apa yang ada dalam ideku.


Jadi, aku tidak memaksa kalian untuk menyukai karya rombengku ini☺☺😊.


Sekali lagi aku tidak bisa memaksakan otakku seperti penulis lainnya.


Jangan lupa LIKE, SARAN, RATE dan tolong dukungannyaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰. Semoga yang mendukung karya ini mendapat rejeki yang berlimpah.


LOPE YOU MY READERS


Dapat salam dari WILDAN, IRENE DAN TIO😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2