
Senja pagi hari yang begitu indah ternodai kembali dengan sebuah luka. Sesosok lelaki terbaring tidak sadarkan diri. Dengan darah yang keluar dari lubang hidung.
Terkejut pastinya yang didapat wanita sebagai istri seminggu lelaki tampan itu. Pandangan kabur dengan tubuh yang luruh kebawah.
Mulutnya terbungkam telapak tangan dengan lima jari yang bergetar. Sungguh, pagi hari yang menyedihkan. Dikala beberapa jam lalu masih melihat lelaki tampan nya sehat dan baik-baik saja.
Luruh, runtuh sudah senyuman yang sejak pagi hari tersemat indah. Kedua mata tertutup rapat, kedua tangannya terkulai disamping kepala Devano. Suasana yang hangat kini berubah menjadi mencekam.
Dengan pandangan kabur Vey mencoba bangkit dan meraih gagang telfon rumahnya. Satu demi satu jemarinya menekan tombol angka. Dengan tangan bergetar dan pandangan tetap fokus pada suaminya.
Vey, sering kali salah menekan nomer yang hendak dituju. Salah sambung atau melbox berulang kali terdengar dengan jelas ditelinganya.
Sampai akhirnya Vey frustasi dan membanting telfon rumahnya yang tidak bersalah. Tidak lagi dan tidak ingin lagi kehilangan kedua kalinya.
"Akhh," teriak Vey frustasi. Rubuhnya bergetar hebat melihat sang suami yang pucat pasih.
Vey, tertunduk dengan kedua tangannya menutup telinga kanan dan kiri. Menangis meraung tanpa bisa melontarkan kata TOLONG.
Trauma masa lalunya kembali masuk dalam memory Vey. Melihat DEVANO terkapar dengan darah keluar dari lubang hidung. Sa halnya melihat Fahmi yang mengalami hal sama.
Suasana sekitar cukuplah ramai saat dipagi hari. Rumah yang dipilihoun tidak terlalu sepi dan jauh dari hiru pikuk masyarakat. Sedetik tukang sayur yang masih berjualan di depan pagar rumah Vey pun terkejut.
Ada suara teriakan yang memekikan telinga tukang penjual sayur. Bingung sudah tidak ada satu orang yang beli. Tukang sayur memberhentikan pengendara sepeda yang tidak dikenalnya.
Dengan rasa khawatir tukang sayur itu berdiri tepat di hadapan sepeda matic yang melaju sedikit kencang.
"Stop, Mas! Berhenti sebentar!" spontas tukang sayur menrentangkan kedua lengan seperti mau terbang.
"Waduh, Pak!? Ya allah, Eneng opo to Pak? Bahaya, Pak mandekno aku kaya ngene kui(Waduh, Pak? Ya allah, Ada apa to Pak? Bahaya, Pak berhentino saya seperti ini)?" sentak lelaki yang dihadang tukang sayur.
"Waduh, ngapuro Mase, ngapuro tenanan. Penting iki mase, niki mau kulo krungu ana seng jerit tekan rumah kui. Mase, ayo cubo ditingali sareng-sareng(Waduh, maaf Mase, maaf beneran. Penting ini mase, barusan saya dengar ada yang jerit didalam rumah itu. Mase, ayo coba dilihat bareng-bareng)!"ajak tukang sayur yang masih di depan sepeda matic itu.
__ADS_1
Lelaki yang masih lengkap dengan peralatan sepedanyapun menoleh kearah rumah sederhana itu. Karena, takut terjadi sesuatu juga di dalam. Lelaki itu akhirnya melepas helm.
"Ayok, Pak,"ajak lelaki manis itu.
"Sek, Mase sebentar. Daganganku tak bawa masuk juga, ya?" tanya tukang sayur itu.
"Pak, tadi sampean berhentiin aku buat ngajak masuk. Sekarang malah ribet sama dagangannya. Sudah, tidak akan ada yang ngambil itu ikan tongkol sama buncis. Meskipun bukan kota tapi aman lah. Yakinlah, Pak. Ayo, cepetan!" tarik lelaki manis itu.
Mereka berdua langsung bergegas masuk dengan mengucapkan permisi. Pagar kayu dengan ukiran nama terbuka lebar. Lelaki manis dan tukang sayur berlarian. Celingak-celinguk mencari pintu yang terbuka.
"Lewat mana, niki Pak?" tqnya lelaki manis sebut namanya Joni. Joni satpam kompleks sebelah gang rumahnya Vey.
"Sana, Mase!" tunjuk tukan sayur sebut saja pak Udin.
Tanpa babibu pak Udin dan Joni langsung masuk lewat pintu belakang yang baru saja dilewati Vey. Didepan pintu pak Udin dan Joni melihat seorang lelaki terkapar lemas tidak berdaya. Sedang sang wanita menangis dan tidak hentinya menjerit dengan kedua ta tangannya masih menutupi telinganya.
Pak Udin dan Joni saling menatap sebelum kemudian, masuk dan menolong masing-masing. Pak Udin berlari ke arah Vey sedangkan Joni berlari mengecek kondisi Devano.
"Ya allah, mbak ayu. Kenopo to mbak ayu? Ayo, tangi mbak, tangi. Ya allah gusti, mesakne sampean, mbak(Ya allah, mbak cantik. Kenapa to mbak cantik? Ayo, bangun mbak, bangun. Ya allah gusti, kasian kamu, mbak)?" pak Udin membantu Vey berdiri dari tempatnya.
telapak tangannya pertama kali memegang kulit pipi Devano. Seperti memegang bongkahan es batu. Joni melihat sepontas kearah pak Udin dan Vey. Setelah itu kembali lagi mengecek kondisi Devano.
Tanpa bertanya lagi Joni mengambil ponsel yang berada di dompet sabuk dinasnya. Sekali pencet Joni langsung tersambung ke rekannya.
"Jal, cepat kerumah yang dipojok jalan. Cat warna coklat silver. Buru, satu lagi sama bawa mbak Dina yah. Bidan dekat rumah kamu. orgent Jal cepet, Yo?" ucap Joni pada sambungan telfon yang seperkian detik langsung diputus tanpa menunggu jawaban.
"Pak Udin, sini Pak!" panggil Joni.
"Inggeh, Mase," jawab pak Udin. "Mbak, sek yo mbak. Tenang, nggeh mbak ayu(Mbak, bentar ya mbak. Tenang, ya mbak cantik)," sambung pak Udin.
Vey, sudah terlihat tenang dalam bantuan pak Udin. Lelaki paruh baya yang masih bujang. Dengan tergopoh-gopoh pak Udin menghampiri Joni.
__ADS_1
"Pak kulo kepalanya, pak Udin kakinya. Satu, dua, tiga," Joni memberi aba-aba untuk siap mengangkat tubuh Devano.
Pak Udin dan Joni membawa tubuh lemas Devano di kursi bambu dekat Vey duduk. Perlahan kedua orang itu meletakkan tubuh Devano. Sontak Vey langsung berdiri dan duduk berjongkok di depan tubuh suaminya.
"Mas, bangun, Mas? Jangan buat Vey khawatir?" pinta Vey meminta suaminya untuk membuka matanya.
Namun, lelakinya tidak menyahuti ataupun mengikuti perintahnya. Pak Udin dengan rasa orang tua. Menenangkan kembali Vey yang terus memukul tipis pipi suaminya.
Pipi yang beberapa jam lalu ditimpali ciuaman pertamanya. Joni berlari keluar ketika ponselnya berdering. Meninggalkan pak Udin, Vey juga Devano.
Diluar terlihat temannya juga seorang wanita berjas putih bersih berdiri tengok kanan kiri.
"Jal. neng kene(Jal, disini)?" lambai Joni memanggil temannya Jali.
Jali dan bidan Dina langsung berlari kearah Joni. Belum sempat tanya Joni langsung menyuruh keduanya untuk masuk. Jali terpangu dalam depan pintu masuk.
"Jon, itu kan-?"
"Wes, mengko wae, Jal. Iki orgent. Ojo takon disek(nanti saja, Jal. Ini urgent. Jangan tanya dulu)?" potong Joni.
"Piye arek iki. Karepmu, Jon. Ket mau orgent, orgent tok wae. Wes kliru ngomong, medot omongan pisan guduk medot janji. Hadeh,anjel(Gimana anak ini. Terserah kamu, Jon. Sudah salah ngomong malah mutusin omongan bukan medot janji. Daritadi Orgent-orgent kamu. Haduh, anjel),"Kli yang dibuat pusing dan bicara dipotong lantas memukul dahinya dengan keras.
"Kowe, yo salah ngomong Jalu?!"(Kamu, ya salah ngomong Jalu?!) Plak,"
Bidan Dina langsung menuju Devano dan meminta Vey juga oak Udin sedikit bergeser. Vey tidak melepaskan genggaman tangannya. Mengusap-usap punggung tangan yang pucat itu.
Dengan rasa was-was Vey menatap bidan Dina juga menatap kembali wajah suaminya yang masih menutup kedua matanya.
"Mas, bangun?" terdengar suara kecil Vey yang teramat sangat sendu.
Woy, pembaca maaf yah lama bengetssssssss.....πππ€£π€£
__ADS_1
Biasa author yang tidak konsisten ini sedang sedung senduπ. Aku harap kalian masih mau membaca ceritaku ini yahπ.
Doain kedepannya bisa konsisten jualan juga nulis,,,,h eh eh,,,malah buka tokoπππππ