SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
CINTA DIANTARA DUA PRIA


__ADS_3

Di sebuah teras rumah yang masih sama terlihat kesederhanaannya. Ada dua lelaki tampan yang saling diam. Entah, belum ada topik untuk jadi bahan gibahnya atau ada rasa canggung yang tercipta diantara keduanya.


Wildan sibuk memainkan ponselnya yang tidka henti berbunyi. Sedang, Devano melirik-lirk pergerakan jempol Wildan.


Diatas meja terdapat dua cangkir minuman hangat dan satu piring pisang goreng coklat. Udara dingin nan sejuk sangat cocok menyantap makanan yang menghangatkan tubuh.


Sesekali mereka berdua merubah posisi duduk dan mencari tempat senyaman mungkin. Mengangkat satu kaki untuk disilangkan ke atas kaki satunya.


Memangku tangan di bawah dagu seperti sedang memikirkan hutang. Masih diam tanpa pembahasan hanya suara yang berasal ponsel Wildan.


Tik Tik Tik Tik!


Suara ketikan huruf demi huruf di keybord layar ponsel yang sedang Wilfan tekan. Seperti mesin ketik yang menjadi sebuah pajangan di lemari barang milik Vey.


"Set," panggil Devano. Wildan yang terpanggil menengok sebentar dan berdehem.


"Hem," jawab Wildan dengan deheman.


"Sejauh mana kamu mengenal Vey?" tanya Devano yang membuat jati jempol Wildan melayang diatas layar.

__ADS_1


Kepalanya diangkat menatap ke depan dengan ponsel yang masih dipengangnya. Pertanyaan Devano seperti memancing Wildan. Seberapa dekatnya mereka waktu dulu.


Terlihat dada Wildan yang naik dan turun dengan lambat. Melepas topinya dan ditaruh di meja.


"Sangat dekat dan saling paham satu sama lain. Bagiku, Vey adalah seseorang yang sempat merubah pola pikirku sebelum semuanya hilang dalam sekejap." jawabnya.


Tersenyum simpul mencerna jawaban laki-laki disampingnya. Dengan pandangan ke depan sudah sangat jelas sekali Wildan memiliki sebuah perasaan.


Devano sedikit mengangkat sudut bibirnya sebelum bicara lagi. Sakit, perih, itu sudah pasti Devano rasakan. Tetapi, Devano tidak ingin cemburu tanpa tahu perasaan tunangannya.


Devano tetap berfikir positif untuk menyikapinya. Tidak ingin terkecoh dengan ucapan yang belum tentu penjelasannya.


"Lah, malah ketawa bengek kamu Set,"


"Kenapa kamu tegang begitu? lucu sekali kalau kamu tahu wajahnmu yang seperti beruang dibius. Dev, Dev huft. Sekarang aku tanya balik sama kamu. Kamu sendiri seberapa dekat kenal tunanganmu itu dan, kenapa kamu tidak memberi kabar kalau kamu sudah bertunangan dengan-nya, hem?"


"Aku juga tidak tahu Set. Semuanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Kamu percaya kalau mimpi itu bukan hanya sekedar bunga tidur saja. Berawal aku datang ke tempatku dulu. Saat itu juga aku bertemu dia di parkiran pasar. Pertemuan kedua di tempat kuliah temanku. Kalau dirasa dan dipikir dengan nalar yang sehat. Tidak sedekat yang kamu pikirkan. Aku mengenal Vey hanya lewat tatapan matanya saja. Percaya atau tidak itulah yang terjadi,"


Yah, tidak ada yang pernah tahu dipelabuhan mana perahu cinta itu akan bersandar. Semuanya terjadi seperti di sebuah sinetron yang akan menunjukkan akhir cerita.

__ADS_1


Wildan tersenyum kecut menundukkan kepalanya sebentar dan kembali menatap ke depan. Dalam hatinya harus ikhlas untuk melepaskannya.


"Wil, Dev, Bunda Vey memanggil kalian untuk makan malam," ucap Irene yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


Sebelum memberanikan diri untuk memanggil kedua pria itu. Wildan dan Devano mengangguk bersamaan untuk kemudian berdiri berjalan ke dalam.


Irene memandang punggung tegak keduanya dengan perasaan yang tidak nyaman.


"Kamu sangat beruntung sekali Vey. Mendapatkan cinta tulus dari Devano. Semoga kalian akan selalu bahagia," bisik Irene pada udara yang dingin ini.


Semuanya makan mapam dirumah Vey xengan tenang. Sesekali Vey meramaikan meja makan yang terisi penuh setiap kursinya. Mbak Asri yang menjadi bahan buliyan Vey, melempar kulit lacang yang tepat terkena hidung mancung adiknya.


Suasana hangat seperti ini yang akan selalu dirindukan semuanya. Terutama Wildan, sudah sangat lama sekali tidak melihat dan mendengar tawa riang gadis pujaan hatinya itu.


Terakhir saat merayakan kelulusan itulah yang Wildan lihat. Berduet dengan sang vokalis dengan sedekali tersenyum ke arahnya. Patah hati membuat Wildan bersikeras untuk melupakan semuanya.


Namun, yang didapat malah sebaliknya. Bayangan wajah Vey selalu mengikutinya. Disakiti Irene dan menjadi tempat pelampiasan Irene. Membuat Wildan benci dan tidak ingin mengingatnya.


Hanya satu nama dan satu wajah yang selalu Wildan ingat. Hanya nama itu yang membuat Wildan untuk terus mencoba melupakan kejadian pahit cintanya.

__ADS_1


__ADS_2