
Jeritan bunda Vey terdengar jelas dipendengaran Wildan yang sudah kembali dari masjid. Detak jantungnya semakin tidak menentu.
"Bunda," lirih Wildan sambil berlari menaiki anak tangga untuk ketempat yang dituju.
Tepat di ujung koridor Wildan melihat semuanya sudah tidak kondusif. Bunda yang sudah meronta ingin masuk keruangan operasi.
Devano memukul dinding dan kepalanya berulang kali dibenturkan ke dinding. Alisya menyadarkan Niken yang sudah tergeletak di kursi tungggu.
Sedang Irene dan Tyo hanya menangis dalam pelukan masing-masing. Tidak percaya dengan semua yang dilihat. Wildan menereboso masuk.
Dan benar saja, tubuhnya seketika kaku melihat kain putih menutupi tubuh gadis yang baru saja ditangani. Perlahan-lahan Wildan mengangsur maju untuk memastikan semua itu salah.
Ditatapnya dalam kain putih bersih yang membentuk hidung Vey. Ditariknya nafas dalam sambil tangan kanannya mulai menggapai ujung kain menutup kepala.
Seperkian detik tubuhnya bergerak mundur menabrak peralatan dibelakangnya. Suara gaduh peralatan membuat semua Tyo dan Irene tersadar.
Dengan buru-buru keduanya masuk dan melihat Wildan yang sudah meronta di bawah memanggil-manggil nama Vey. Wanita yang dicintainya telah pergi. Pergi dengan kondisi yang sangat menyakitkan.
Semua itu karena ulah diri yang tidak bisa mengontrol emosinya. Didalam ruangan Wildan bangkit dan terus memanggil nama Vey.
"Vey, jangan bercanda Vey. Bangun, Vey. Bangun, mana Vey yang aku kenal dulu. Mana Vey yang kuat ketika ketakutan itu datang. Vey, kamu pernah bilang agar aku ikhlas dengan semua takdir. Aku ikhlas Vey, aku ikhlas kami bersama Devano. Tapi, aku mohon bangun Vey, aku mohon,"
Tyo dan Irene mencoba menenangkan Wildan yang terus menggerakkan tubuh kaku Vey. Teriakan keras terdengar menggema sampai koridor rumah sakit.
"Jangan pernah sentuh tubuh istriku bangsat," teriak Devano murka. Rizal menahan Devano agar tidak sampai terjadi keributan lagi.
Wildan yang masih saja mencoba membangunkan Vey tidak menghubris teriakan itu. Wildan terus menepuk, menggoyangkan bahu Vey. Sama, tidak ada yang bisa merubah segalanya.
Vey, gadis yang terkenal dengan senyuman manisnya itu sudah tidur dengan tenang. Tidur dalam keabadian yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Vey, meninggalkan kenangan indah yang tidak akan pernah terlupakan oleh siapapun. Keluarga, teman, sahabat, suami, bahkan orang beberapa mengenalnya pun turut merasa sangat kehilangan.
Semuanya sudah sedikit tenang Alisya membantu keluarga untuk mengurus semua keperluan Vey. Surat-surat dan administrasi Alisya menghandle semuanya. Bunda sudah tidak bisa lagi diajak bicara.
Matanya menatap lurus kosong kedepan. Sepanjang perjalanan pulang ketanah kelahiran Vey. Bunda ditemani Irene, Tyo, juga Niken mengurus di kediaman papa Candra.
__ADS_1
Kabar kepergian Vey sudah menyebar keseluruh pelosok desa mereka. Semua orang yang mengenal Vey dan menjadi tetangga Vey turut menangis sejadinya. Apalagi melihat Bunda Vey yang dipapah dengan tatapan kosong.
Bu Rt memeluk bunda Vey erat diikuti beberapa warga lainnya. Irene tidak kuasa melihat semua ini. Berulang kali Irene mencoba menguatkan dirinya agar tidak menangis hasilnya nihil.
Tidak segampang ucapan yang selalu dia ucapkan. Pada saat langkah kaki sang bunda hendak melangkah maju kedepan. Tubuhnya seketika jatuh ketanah. Tyo, dan Niken tidak sempat menahan tubuh rapuh itu.
Hancur, semuanya sudah hancur. Seorang ibu yang terlihat hangat, ceria, memiliki senyum yang sangat mirip dengan sang anak. Kini, telah hilang terbawa kenangan.
Mbak Asri dengan suami bergegas pulang kembali ketanah jawa. Sayangnya, Niken hanya meminta mbak Asri pulang karena ada acara. Niken tidak sanggup untuk mengatakan Vey telah pergi.
...****************...
Dirumah sakit semuanyaa sudah selesai diurus oleh Alisya. Papa Candra berdiri disebelah kiri brangkar yang membawa tubuh sang anak. Devano terus menggenggam erat tangan sang istri yang sudah disedekapkan.
Matanya terus menatap kain putih yang masih menutupi wajah sang istri. Luka yang dialami Vey begitu sangat parah. Sehingga, berulang kali detak jantung Vey melemah. Selama operasi Vey sering memuntahkan darah segar.
Tubuhnya pun tidak merespon obat-obat yang disuntikkan. Tubuhnya menolak semua hingga akhirnya diujung pesakitannya detak jantung itu berhenti.
Duka yang mendalam kini menyelimuti keluarga papa Candra. Teman, kerabat semuanya berkumpul menyambut kedatangan jenazah gadis ceria. Dulu, sekarang gadis itu sudah terlelap dari tidurnya yang tidak akan pernah bangun kembali.
Kini, hanya sekedar untaian harapan yang hilang. Bahagia sekejap, bahagia sementara yang Vey rasakan. Keputusan mengakhiri hidup keputusan yang sangat bodoh.
Tidak ingin semakin menyakiti orang terkasih Vey rela mengakhiri hidupnya. Merelakan dirinya terbungkus kain putih dengan diiringi isakan tangis.
Semua iti mungkin bisa hanya sementara, tetapi, rasa bersalah Vey akan dibawa sampai mati. Cukup, cukup selama ini Vey berusaha baik-baik saja. Berusaha kuat melawan dan menjalani semuanya.
Dengan kepergiannya Vey berharap dalam tidurnya tidak akan ada pertikaian yang menjadi masalah. Dari Vey, semua masalah datang, karena Vey masalah tidak pernah pergi.
Tenang, saat ini Vey merasakan tanpa sakit dan sedih. Tidak menghiraukan keluarga, teman, atau sahabatnya menangisi kepergiannya yang secepat ini.
Egois, bukan Vey hanya ingin tenang, hanya ingin damai. Meski harus berkorban untuk semuanya. Ikhlas, Vey ikhlas untuk pergi walaupun harus melihat sang bunda sangat kehilangan dirinya.
Hening, sepi kediaman yang dulu sangat ramai akan tawa Vey. Kini, seperti mati hilang bersama sang ceria.
***
__ADS_1
Devano, papa Candra juga Wildan dibantu petugas rumah sakit membawa tubuh kaku itu untuk dibawa kedalam. Dirumah yang terkahir menerimanya pulang dengan nama. Tanpa raga dan jiwa yang melekat pada sang tubuh.
Bunda tidak hentinya meraung menangis ketika jenazah Vey tiba dihadapannya. Dipelukan Niken bunda Vey terus memanggil nama anak kesayangannya. Setegar apapun seorang ibu akan hancur lebur tanpa raga.
Devano menatap wajah pucat yang dibukanya. Tenang, tersenyum itu yang masih Devano lihat dari wajah pucat Vey. Dingin, seakan beku ketika menyentuh lembut pipi yang setiap hari menjadi pusat cintanya.
Cintanya lebur, cintanya pergi sebelum Devano mengatakan yang sesungguhnya. Semuanya hanya penyesalan yang datang. Andai, waktu bisa diputar kembali. Andai, waktu bisa diulang sekali lagi.
Devano akan meminta seribu kali kesempatan untuk mengungkapkan semuanya. Mengungkapkan cintanya, mengungkapkan bahwa dirinya sudah mengingat sepenuhnya.
Tetes-tetes air mata berjatuhan dengan suka relanya. Tanpa harus diminta keluar air itu terus saja menetes.
"Sayang, tidur yang tenang. Terima kasih dengan semuanya. Terima kasih kamu selalu menjadi yang terdepan untukku. Sayang, maafkan aku, maafkan lelakimu yang tidak menjaga mu. Pantas, tuhan mengambilmu dari lelaki ini. Vey, sayang jangan pernah melupakan aku di atas sana. Tersenyumlah, pergilah dengan tenang. Berkumpullah dengan mas Fahmi. Sampai kan permintaan maafku kepadanya. Aku akan selalu mencintaimu Vey, tunggu aku memulukmu kembali," ucap Devano tenang dan berusaha tidak menangis.
Tidak ingin menunggu lama tubuh yang sudah dibungkus kain putih yang rapih ktu dibawa ke masjid. Dimana masjid yang Vey wakofkan untuk semua warga didesanya.
Disana semua orang dengan kusuk menyolati Vey. Masih, dengan air mata yang tiada henti mengalir. Kepergian Vey benar-benar menyakitkan semua orang terdekatnya.
Sekian lama melawan depresi, sampai harus pindah tempat tinggal. Berulang kali kambuh, berulang kali jatuh dan berulang kali bangkit. Namun akhirnya, sekarang dititik inilah Vey bisa merasakan ketenangan yang abadi.
Selamat tinggal Vey, selamat tinggal gadis ceriaku. Tidurlah yang tenang, tidurlah Vey. Jangan pernah lagi memikirkan semua orang didunia.
Bersamaan tubuh kaku itu masuk keliang lahat yang menjadi tempat tidur abadinya. Vey sudah pergi, Vey sudah tenang, sudah bahagia bersama mas Fahmi dan kedua orang tua Fahmi.
Di alam yang berbeda Vey tersenyum melihat semua orang yang terus saja menangisi kepergiannya. Menatap sang bunda yang terus memanggil namanya membuat Vey menitikkan air mata.
Jika ada seseorang yang bisa melihat arwah Vey. Orang itu akan berteriak dan menunjuk kearah satu pohon. Disana, Vey melihat semuanya. Tak terkecuali suami, dan sahabatnya.
"Bunda, terima kasih untuk semuanya. Maafkan Vey yang harus pergi dengan cara lain. Bunda, jangan menangis lagi. Vey, sudah tenang disini. Bersama mas Fahmi dan ibu juga ayah. Bunda, sekali lagi terima kasih atas semua semangat yang giada henti bunda berikan sewaktu Vey ada. Bunda, Vey sayang bunda, sayang papa juga sayang semuanya. Tetapi, Vey lebih bahagia jika Vey tidak lagi membuat kalian semua berpura-pura tersenyum dihadapan Vey," gumam arwah Vey dibalik pohon.
R.I.P VEYO PUTRI NATALI
TANGGAL: 26-07-2015 Tidur dikeabadian.
NB: Tidak ada yang kekal dan abadi didunia. Tidak ada kebahagiaan yang sempurna selain keabadian lain.
__ADS_1