SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
PILIHAN DIANTARA PILIHAN


__ADS_3

Vey dan lainya terkejut mendengar Irene yang berkata seperti itu. Vey terdiam membeku menatap dalam Irene yang juga menatapnya.


apakah seperti ini? Apakah Vey harus mengorbankan kebahagiaammya lagi untuk sahabatnya?


Vey dan Irene saling tatap dan saling bungkam. Lima orang yang berada di ambang pintu was-was menunggu jawaban Vey. Kehilangan orang yang dicintai membuat segalanya hancur dan runtuh.


Tidak ada lagi semangat ataupun keinginan untuk hidup. Bahkan, menginginkan hal yang sama yaitu menyusul ke alam baka.


Tapi, lain halmya dengan Irene yang menginginkan kebahagiaan sahabatnya - lagi. Goyah dan dilema itu pasti terjadi. Ketika kita diharuskan untuk memilih.


Melepaskan atau tetap mempertahankan. Niat dari yang Vey lakukan adalah ingin membangkitkan lagi hidup Irene. Memberi semangat dan memancing amarah Irene yang menumpuk di dalam hatinya.


Akan tetapi, Vey terjebak dalam langkahnya sendiri. Cukup sekali Vey merelakan perasaannya untuk menjaga persahabatan. Cukup sekali Vey menjaga perasaan Irene - dulu.


Vey memutar lehernya melihat kedua orang tuanya, mbak Asri dan suaminya juga, Devano. Pandangan keduanya bertemu begitu sangat lama dan dalam. Hingga akhirnya, Irene memutus pandangan keduanya.

__ADS_1


Irene berdiri ditengah-tengah untuk menutupi Vey yang terus berpandangan dengan Devano. Bersendekap dan menanyakan sekali lagi.


"Tinggalkan Devano untukku, seperti dulu kamu lebih memilih memberikan Wildan kepadaku. Jadi, kalau kamu bukan sahabat yang buruk-"


Plak!


Vey terkejut melihat seseorang menampar sahabatnya. Mbak Asri sudah sangat geram melihat dan mendengar ucapan Irene. Terus meminta Vey untuk memberikan kebajagiaannya lagi.


"Mbak," panggil bunda yang sama tidak menyangka.


"Mbak, sudah," lerai Vey yang tidak ingin Irene semakin terpuruk.


"Udah dek, kami jangan terus mengalah. Kamu berhak bahagia juga, kamu berhak menemukan cintamu. Cukup dulu kamu berkorban demi menjaga perasaan sahabatmu ini," mbak Asri menekan kata sahabatmu dengan penuh amarah.


"Mbak, dengarkan Vey dulu. Vey, tidak ingin semuanya semakin runyam. Tenang yah, untuk kali ini Vey tidak akan mengalah," ucap Vey melihat ke arah Irene.

__ADS_1


"Dengar itu, Irene," cetus mbak Asri.


"Maaf, untuk kali ini aku tidak akan mengorbankan cintaku lagi. Sekalipun kamu membunuhku. Aku tahu, perasaanmu sekarang. Dan, kamu berkata seperti itu tidak lah serius, itu bukan sifatmu merebut kebahagiaan orang lain," tutur Vey. Irene kembali menatap Vey dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Ren, cinta itu tidak harus memiliki. Dan, takdirmu sekarang adalah berusaha untuk bangkit dari keterpurukan yang sudah membelenggu dalam jiwamu. Aku akan membantu mu kembali seperti dulu," bujuk Vey dengan penuh ketenangan dan memberikan pemahaman kepada Irene.


Keheningan tercipta kembali di dalam kamar Vey. Vey sungguh-sungguh prihatin dengan kondisi Irene. Vey sangat tahu betul posisi Irene sekarang.


Sama-sama kehilangan sosok lelaki yang melindungi dan mencintai. Vey mengajak Irene untuk duduk lagi di tempat tidurnya. Merapikan rambut Irene yang berantakan.


"Ren, kalau kamu seperti ini terus. Apa kamu tidak kasihan dengan kedua orang tuamu? Apa kamu tidak kasihan dengan Reza?. Aku tahu, ini semua berat tapi, kamu harus bisa melewatinya sedikit demi sedikit. Aku yakin, kamu pasti bisa dan suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari almarhum Reza,"


Mendengar kata Reza disebut Irene langsung menatap Vey lagi. Tapi, tatapannya sekarang berubah sayu. Reza memang sangat berharga dalam hidup Irene. Bukan hanya melihat berapa tahun mereka berpacaran.


Melainkan, rintangan yang sangat curam mereka lewati.Tidak mendapat restu orang tua Reza, dihina, dipisahkan dan sekali di restui. Tuhan, menguji cintanya lagi dengan cara mengambil dan tidak mengembalikannya lagi.

__ADS_1


NOTES: JANGAN PERNAH MERASA SENDIRI KETIKA HANCUR. JANGAN PERNAH MERASA HANCUR KETIKA DITINGGALKAN. TUHAN SELALU ADA DISETIAP NAFAS DAN LANGKAH KITA.


__ADS_2