
Melihat Devano yang sudah sadar dengan kedua tangannya memegang kepalanya. Lima menit berlalu semuanya kembali dan Devano sudah tertidur kembali. Beruntung Devano mendapat pertolongan dari dokter lain.
"Sus, kemana dokter yang menangani pasien?" tanya dokter Arman dokter yang menangani ahli saraf.
"Mungkin sedang beristirahat, Dokter," jawab suster yang menundukkan kepalanya.
"Baiklah, kamu tolong jaga pasien ini. Kalau pasien siuman segera hubungi saya dan dokter yang menanganinya!"
Dokter Arman langsung pergi keluar bersamaan dengan Queen yang hendak masuk. Melihat ada dokter tidak terlalu tua. Queen langsung berlari masuk menerobos tanpa bertanya terlebih dulu.
"Bang, sus Abang saya kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Queen khawatir. Queen juga clingak-clinguk mencari keberadaan Vey namun matanya tidak menemui sosok yang dicari.
"Mbak, mbak yang tenang dulu yah. Saat saya mau mengecek kondisi pasien. Saya melihat pasien sadar dan tangannya memegang kepalanya. Beruntung ada dokter lain yang saat itu baru keluar dari kamar pasien lainnya,"
"Terus, siapa dokter itu?"
"Beliau baru saja keluar dan mungkin tadi berpapasan dengan mbak,"
"Sus, tolong jaga abang sebentar. Saya akan menemui dokter itu, oh yah siapa nama dokyer itu dan beliau bertugas di bagian apa?"
__ADS_1
"Dokter Arman dia bertugas di ruangan saraf karena beliau ahli saraf,"
"Terima kasih, saya titip Abang saya sebentar,"
Queen langsung berlari dan menabrak Wildan. Tanpa kata lagi Queen turut mengajak Wildan untuk mencari keberadaan dokter Arman. Wildan yang ditarik menurut saja.
Kepalanya terus mendongak membaca satu persatu ruangan yang dicari. Saat matanya sibuk mencari deretan nama. Orangnya keluar dari ruangannya tanpa memakai jas putih.
"Dokter tunggu!" teriak Queen yang langsung dibekap oleh Wildan.
"Queen, ini rumah sakit bukan lapangan bola," bisik Wildan dan sadar teriakan Queen membuat semua orang melihatnya.
Queen langsung berlari ke arah dokter Arman yang berdiri di tempat. Sampai di depan dokter Arman Queen langsung mengambil telapak tangan dokter yang kisaran sama seperti papanya.
"Dokter, terima kasih karena dokter sudah menolong Abang saya. Terima kasih banyak Dok,"
Dokter Arman yang bisa menebak siapa pasien yang dimaksud langsung tersenyum dan menepuk bahu Queen. Wildan hanya berdiri dan mendengarkan apa yang disampaikan gadis cantik di depannya.
"Tidak perlu seperti ini. Sudah kewajiban saya sebagai dokter yang cepat dan tanggap dalam menangani semua pasien dirumah sakit ini. Abang kamu sudah baik-baik saja dan saya sengaja memberikan suntikan penenang agar dia bisa beristirahat lagi. Kamu tenang saja juga jangan meninggalkannya sendirian,"
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih dokter,"
"Sudah, sudah jangan bilang seperti itu terus. Nanti takut saya tidak bisa berpijak karena terlalu disanjung oleh gadis cantik sepertimu," dokter Arman men towel ujung hidung Queen
"Dokter bisa saja, kalau boleh saya tahu. Dokter mau kemana?"
Dokter Arman menengok jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Queen dan Wildan paham akan itu.
"Kurang 5 menit lagi waktu istirahat saya sudah habis. Jadi, saya tinggal dulu ke kantin, yah?" pamit dokter Arman yang membuat Queen tidak enak.
Dilepeh Queen kalau gak enakπππ€£π€£π€£π€£
Queen dan Wildan mengangguk dengan senyum yang tidak enak. Karena sudah mengambil waktu sang dokter untuk mengisi cacing di perutnya.
Dokter Arman pun pergi dengan sedikit terburu karena waktu semakin sedikit. Wildan dan Queen kembali berjalan ke ruangan Devano. Disepanjang lorong Queen tidak hentinya tersenyum.
Membuat Wildan takut akan tingkah laku Queen. Wildan cukup senang mendengar kalau sahabatnya sudah siuman. Tetapi, Wildan takut kalau nantinya dirinya akan semakin sakit.
"Apa yang aku pikirkan. Tidak seharusnya aku berfikir seperti ini. Tapi, Vey kemana?"
__ADS_1
Queen maupun Wildan baru sadar kalau Vey tidak ada disetiap lingkungan rumah sakit. Mereka berdua saling memandang dan bergegas mencari Vey.