SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
TIDAK TERSISA


__ADS_3

Kemantapan hati Devano semakin kuat setelah mengenal lebih dekat lagi siapa Vey. Mendengar cerita dari papa Vey, Devano tidak salah memeluk dan ingin membahagiakan anak tentara itu.


Sudah dua minggu Vey dan Devano berada di rumah Vey. Setelah menyelesaikan skripsi nya Vey mengajak Devano untuk kemakam Fahri.


Devano juga ingin dekat dengan keluarga kedua Vey yang sudah bahagia ditempatnya. Menunggu Vey mempersiapkan sarapan. Devano menemani papa candra menyiram tanaman milik Vey.


Vey paling suka sekali bunga mawar putih, merah dan pink. Sambil terus menceritakan masa kecil Vey hingga dewasa. Kedua lelaki itu tidak menyadari kalau, orang dibicarakan berada di belakangnya.


Vey duduk dengan bibirnya yang manyun tanpa mau menghentikan papa terkasihnya terus menceritakan kenakalan dimasa kecilnya bersama mendiang Fahri.


"Sudah tertawanya! Laki-laki kok suka ghibah," celetuk Vey dari belakang. Devano dan papa candra menengok kebelakang. Seketika, tawa lelaki beda usia itu semakin keras.


Vey semakin dibuat kesal dibuatnya. Berdiri, menatap keduanya dengan bibir yang cemberut dan menghentakkan kakinya. Kemudian, berbalik untuk masuk lagi ke dalam.


Devano dan papa Candra yang melihat Vey masuk. Buru-buru mengikuti masuk sebelum, terkena amukan dari induknya.

__ADS_1


Diruang tivi Vey langsung duduk di dekat bundanya. Tidak hanya ada bunda, mbg Asri juga Fatih sedang melihat televisi bersama. Fatih yang melihat Vey datang dengan muka murung dan juga bibirnya yang menyong kedepan mengerutkan keningnya.


"Kenapa, Deg! Datang-datang kok bibirnya monyong gitu?" tanya Fatih. Mbg Asri dan bunda melihat ke arah Vey yang sudah merangkul lengan bundanya.


"Vey, kenapa?" tanya bunda mengusap kepala anaknya.


"Papa sama si tampan nyebelin bunda. Masak papa cerita semuanya kepada Devano. Kan, Vey malu," rajuk Vey menceritakan kekesalaannya yang malah ditertawakan kedua lelaki tersayangnya.


Yah, sejak dua minggu belakang Vey dan Devano semakin dekat dan akrab. Vey juga sudah banyak tahu semua tentang calon imamnya.


Bunda mendongakkan kepalanya melihat pangerannya datang dan tersenyum.


"Bukan seperti itu bunda ceritanya. Devano kan tanya waktu kecil Vey itu anaknya seperti apa?" jelas papa candra.


"Iya, Bun! Sebagai calon imam bidadari syurga Vani kan berhak tahu semuanya. Apa salah, Bunda?" tanya Devano mencoba mengambil hati sang ratu.

__ADS_1


"Vey," panggil sang bunda. Kalau sudah seperti itu Vey tidak bisa bicara apapun untuk membela dirinya.


Mbak Asri dan Fatih yang melihat dan mendengarnya menahan tawa. Papa Candra pun sama ternyata Devano pintar sekali mengambil hati istrinya.


"Sudahlah, lebih baik Vey makan saja dulu," Vey pergi meninggalkan semuanya yang sudah tidak kuat lagi menahan tawanya.


Vey, berhenti sejenak dan memutar tubuhnya ke belakang. "jangan harap kalian kebagian jatah makan." ancam Vey mengeluarkan jurus jitunya.


Kalau Vey sudah marah ataupun kesal. Jangan tanya lagi kemana semua makanan larinya. Mbak Asri berdiri berlari menyusul Vey yang masih terus berjalan.


"Vey, aku tidak ikut tertawa kok. Tadi itu aku tertawa karena filmnya lucu," rayu mbak Asri yang tidak mau kehabisan jatah makannya.


Vey duduk dan tidak bergeming, dibaliknya piring dan mengambil nasi, lauk, sayur dan sambal kesukaannya. Satu sendok, dua sendok, tiga sendok, empat sendok dan terakhir Vey tumpahkan semuanya ke dalam piring.


Mbak Asri yang melihatnya lagi-lagi tercengang. Vey, benar-benar marah tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Sedangkan yang berada di ruang tivi. Menunggu aba-aba mbak Asri, kebetulan ruang tivi dan dapur hanya dibatasi tembok yang sengaja dibangun tidak sepenuh menutup.

__ADS_1


Mbak Asri melihat ke arah beberapa orang yang melihatnya juga. Seperti sudah tahu jawaban dari mbak Asri tiga orang yang mengerti menghembuskan nafasnya dan berbalik menghadap ke arah tivi.


__ADS_2