
"Lho, itu kan si Setyo? Cie,,,,romantis sekali mereka. Yah kan Vey?" tanya Devano yang melihat Wildan bersama Irene.
"Iya, dari dulu mereka sebenarnya sangat cocok. Hanya saja, takdir mempermainkan mereka," ucap Vey dengan nada yang datar.
"Ayo, ikut mereka hujan-hujanan," Devano menarik pergelangan tangan Vey. Tapi, Vey melepaskannya.
"Dev, sudah malam. Sebaiknya kita balik pulang saja," tolak Vey meminta pulang.
"Lha, Vey. Kenapa pulang sih, kan baru sampek?" Tanya Devano lagi. "Yasudah, ayo masuk dulu," ajak Devano akhirnya Vey ikut masuk ke dalam warkop yang hanya tersisa meja dan bangku.
Melihat Irene yang memeluk Wildan dari belakang membuat mood Vey tiba-tiba berubah. Devano menarik kursi yang di menghadap ke arah Vey.
Sepi, sunyi seperti warkop yang disewa Devano untuk Vey. Devano tersenyum melihat keromantisan diluar yang masih belum sadar akan mata orang banyak yang melihatnya. Andai Devano tahu wanita di hadapannya tidak baik-baik saja.
Warkop yang tidak tertutup dinding atau terhalang apapun. Membuat Vey masih melihat jelas keromantisan mereka berdua. Tidak ingin terlalu melihatnya Vey melipat kedua tangannya dan langsung menelungkupkan kepalanya.
__ADS_1
Devano yang melihat Vey meletakkan kepalanya di lipatan lengannya. Mencoba menegurnya dengan mengusap kepala Vey.
"Vey, kamu ngantuk?" dijawab gelengan kepala oleh sang empunya.
"Lantas, kenapa kamu begini? Apa ada yang sakit, atau kamu tidak enak badan?" tanya Devano yang khawatir. Devano akhirnya berdiri dan menghampiri Vey yang masih menelungkupkan kepalanya.
"Iya Dev, aku sakit," jawab Vey mengangkat kepalanya.
"Mana yang sakit sayang, mana?" tanya Devano yang khawatir. Melihat Vey menangis semakin membuat Devano khawatir.
"Sakit, Dev. Sakit," rengek Vey yang makin membuat Devano kelabakan. Dilihatnya wajah Vey, diputar kanan diputar kiri tidak ada luka atau pun lainnya.
"Sayang, kamu tidak panas tapi, kenapa wajahmu memerah?"
"Dev, kamu kerasa gak Dev. Kamu, tahu gak Dev. Sakitku dimana?" Devano menggeleng cepat.
__ADS_1
"Kakiku yang kamu injek," jawab Vey sambil menunjuk ke bawah. Kedua mata Devano langsung terbelalak dan segera menyingkirkan kakinya.
"Huwaaa, sakit," tangis Vey membuat semua orang yang sejak tadi diluar berganti arah melihat ke dalam warkop.
Malam yang aneh dan penuh drama batin pelanggan lainnya. Semuanya kembali masuk dan kembali duduk ke tempatnya masing-masing.
"Astaghfirullah, maaf-maaf. Ya allah, maaf yah sayang. Sakit yah, maafin aku yah Vey?"
Vey mengangguk dan melingkarkan kedua tangannya di perut Devano. Devano yang merasa bersalah berulang kali mengecup kepala Vey yang dipenuhi rambut hitamnya Vey.
Meninggalkan dua orang yang masih betah main air hujan. Vey, dan Devano berpindah tempat duduk ke pojok belakang warkop. Suara musik mulai terdengar lagi. Membuat semua pengunjung terhibur sekaligus terpesona akan keromantisan yang beberapa waktu terjadi.
Wildan dan Irene juga Tyo masuk ke dalam. Untungnya lantai warkop terbuat dari bambu yang dihanya ditata biasa. Dari kejauhan Devano melambaikan tangannya kepada Tyo.
Tyo yang melihat lambaian tangan Devano mengangguk. "Kamu dan Irene keringkan dulu sana dibelakang. Nanti samperin aku kesana!" tunjuk Tyo ke arah Vey dan Devano.
__ADS_1
Wildan dan Irene mengikuti telunjuk Tyo. Wajah Wildan semakin berubah tidak jelas. Irene tersenyum dan melambaikan tangnnya ke arah Vey dan Devano.
"Ya sudah, kalian cepet ke belakang gih. Masuk angin ntar kalian!" suruh Tyo dan pergi meninggalkan Wildan juga Irene.