
Dari jauh aku masih melihat pertengkaran antara Reza dengan Iren. Iren bersikeras mintak putus, tampak jelas raut wajah Iren yang sangat terpukul dan kecewa. Hubungan mereka akhirnya diketahui oleh Mamanya Reza. Aku kira selama ini mereka berdua baik-baik saja tapi ternyata tidak.
Aku beranjak menghampiri Iren dan juga Reza, banyak anak-anak yang menyaksikan pertengkaran mereka. Karna masih berada dilingkungan sekolah. Aku mercon menengai pertengkaran itu dan akhirnya Reza dan Iren mau menuruti apa yang aku katakan.
"Sudah Rez, kasih waktu buat Iren menenangkan pikirannya. Kamu pun begitu bicaralah baik-baik dengan Mamamu." ujarku kepada Iren dan Reza. Reza tampak sangat frustasi dia berjongkok dan mengusap belakang kepalanya dengan hati yang lelah.
Aku meninggalkan Reza dan mengajak Iren untuk pulang. Aku pun Tio tidak banyak bertanya kita bertiga berjalan beriringan tanpa ada yang mengeluarkan kata. Ku lirik Iren yang masih saja menunduk menyembunyikan wajah yang dengan deraian air mata. Sakit, tiba-tiba aku merasakan, entah perasaan ini masih ada atau masih ada nama yang terukir kelas. Ada ruang lebar untuk nama itu, baru kali ini aku melihat dia seperti ini. Miris ku mendengar cerita hubungan mereka.
Dari persimpangan jalan aku melihat ada beberapa orang yang bergerombol. Yah, rumah yang terlihat dari persimpangan jalan itu rumahnya Iren. Kami segera berlari menuju orang-orang itu, seketika aku,Tio dan terutama Iren mematung didepan rumahnya. Terlihat ada seorang perempuan yang sangat glamor sedang memaki-maki kedua orang tua Iren. Iren langsung berlari kearah kedua orang tuanya yang dimak-maki oleh perempuan yang seumuran ibunya Iren. Perempuan cantik itu tak lain dan tak bukan adalah Mamanya Reza.
Sebegitu tak pantaskah Iren bersama dengan Reza sehingga, Mamanya dengan sengaja mendatangi kedua orang tua Iren. Berteriak didepan umum dan menghinanya, memang jika disuatu desa orang yang paling kaya itu keluarganya Reza. Tapi, aku tidak pernah menyangka jika keluarga Iren akan mendapat hinaan sebesar ini.
"Maaf, Bude jika saya ikut campur. Tapi jika dilihat Bude orang yang mempunyai pendidikan yang sangat tinggi dibanding kita-kita orang desa ini." Aku memberanikan diri membuka mulut, karna menurutku ini sudah keterlaluan. Ku memandang semua warga yang sedang didepan rumah Iren. Banyak yang menyayangkan tindakan orang kaya itu.
"Kamu anak kecil tau apa, oh apa kamu temannya dia (memandang Iren dengan tatapan tidak suka)." Kasih tau yah sama teman kamu ini jangan pernah dekati lagi anak saya, karna tidak selevel dengan kami. Dan kamu, jika masih berhubungan dengan Reza lihat saja apa yang akan aku lakukan." melenggang dengan angkuhnya.
Semua orang yang berada disana menyoraki kepergian orang tua Reza. Tidak ada satupun dari warga yang terpengaruh dengan omongan Mamanya Reza. Ibu-ibu terlihat menghampiri Iren dan kedua orang tuanya. Iren masih terlihat menangis dalam pelukan ibunya. Sang ayah mencoba menenangkan, wajah tuanya terlihat sangat menyembunyikan kesedihan.
Setelah warga membubarkan diri, aku dan Tio masih berada dirumah Iren. Ibu dan ayah duduk termenung sedangkan Iren mengambilkan minuman untuk kedua orang tuanya dan mengambilkan aku juga Tio. Masih nampak wajah sendu mereka. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore, aku dan Tio berpamitan untuk pulang.
Sebenarnya berat untuk meninggalkan mereka, tapi harus bagaimana lagi aku juga ada janji dengan Vey. Aku benar-benar bingung meskipun Iren pernah membuat ku patah hati tapi dia juga masih sahabatku. Sedangkan Vey, dia gadis yang secara tidak langsung sudah membuat hati ku nyaman. Apa aku membatalkan janji yang sudah ku buat. Dengan pikiran bingung ku ambil ponselku untuk menghubungi Tio agar bisa memberikan saran.
Tut Tut Tut
"Halo?" sapa orang dibalik telfon.
__ADS_1
"Tio apa kamu ada dirumah sekarang."
" Iya Wil aku ada dirumah, kenapa memangnya? kamu mau kesini." kata Tio.
"Iya, Yo aku butuh kamu tunggu aku disana." Aku langsung menutup sambungan telfonku.
Aku bergegas berpamitan kepada Ayah dan Ibuku. Berlari menuju rumah Tio yang berjarak 5 rumah. Sesampainya aku dirumah Tio aku langsung menuju kamarnya. Orang tua Tio sedang kesawah untuk bekerja mengerjakan sawah tetangga.
Tio yang sedang tengkurap tidak menyadari kedatanganku, ku tarik kedua kaki Tii hingga terjatuh kelantai.
"Aduh, kampret kamu Wil sakit tau." dengus kesal Tio yang masih terduduk dilantai. Aku hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat Tio yang kesakitan.
"Salah sendiri enak banget tiduran sambil dengerin musik. Bantu sonoh Ayah sama Ibu disawah, kayak juragan saja kamu." ku toyor kepala Tio yang masih mengelus-ngelus belakangnya.
"Ada apa?" beranjak berdiri duduk disampingku.
"Ngapain kamu ngajak Vey kesana Wil, kamu tau kan bru saja Vey sembuh dari depresinya dan juga ditempat itu pula Vey bertemu dengan orang yang mirip Kakaknya. Haduh, Wil, Wil sebaiknya kamu batalkan saja lha.Kamu mau Vey kumat lagi kayak waktu itu. Susah payah lho orang tuanya menghibur Vey sampek-sampek meminta tolong kita. Ingat tidak kamu." Kesal Tio terhadapku.
"Terus aku harus bagaimana Tio, disatu sisi aku sudah membuat janji dan disatu sisi juga Iren pasti sangat membutuhkan kita berdua. Aku juga tidak tau akan seperti ini. Cobak aku Sms Vey dulu saja yah atau aku langsung kerumahnya." ucapku melihat Tio.
"Yasudah, ayik aku temani kamu kerumah Vey. Kita juga harus memberi tau Vey jika Iren sedang ada masalah." Aku dan Tio kemudian beranjak keluar kamar untuk pergi kerumah Vey.
Rumah Tio melewati rumah Iren, sangat sepi ku lihat seperti tidak ada ornagnya. Ku lanjutkan langkahku menuju rumah vey terlebih dulu. Sesampainya dirumah Vey, terlihat Vey, Bunda dan Mbg Asri yang sedang duduk-duduk santai diteras depan. Halaman rumah Vey sangat luas, terbilang sederhana tapi cukup besar untuk pandangan orang didesa ini.
"Assalamualaikum?" ucapku bersamaan.
__ADS_1
"Walaikumsalam, eh ada tamu toh! Pasti mau ketemu Vey kan. Sini gabung denga kita." jawab Bunda mempersilahkan kita ikut gabung.
"Terima kasih." kata Tio.
"Ada apa Wil kok tumben kamu kesini. Pasti ada yang ingin kamu sampaikan."tanya Vey tersenyum.
"Ah, mungkin dia lupa dengan ajakanku." batinku.
"Emb, Vey maaf sebelumnya aku tidak bisa mengajak kamu jalan-jalan sore. Mungkin kamu lupa yah." senyumku kearah Vey yang menepuk keningnya.
"Astagfirulloh, aku lupa lho Wil maaf yah." ucap Vey tersenyum malu. Bunda dan Mbg Asri yang melihatmu jadi ikutan tertawa.
"Belum tua udah pikun kamu Vey, Vey!" Bunda masih tertawa lucu. Cengiran Vey menambah manis wajah ayu gadis itu.
Aku benar-benar dibuat bingung antara Vey dan Iren. Kalau boleh sih aku milih mereka berdua. Tapi sayangnya itu mustahil. Aku tidak ingin melukai hati cewek sebaik Vey. Aku sudah diijinkan berteman saja sudah sangat bersyukur. Aku dan Tio kemudian menceritakan apa yang sedang terjadi dengan Iren. Bcnda, Mbg Asri fan juga Vey sangat terkejut mendengarkan.
Mereka sangat menyayangkan perilaku Mamanya Reza yang sewena-wena. Pikiran mereka sama dengan apa yang aku pikirkan, harta membuat mereka seenaknya saja memandang rendah orang desa.
NOTES: KEKUASAAN TIDAK DAPAT MEMBUAT KITA TERLIHAT LEBIH TINGGI.
LIKE
LIKE
LIKEπππππ
__ADS_1
SARAN JUGA BOLEH, Aku tidak memaksa para readers untuk menyukai karya recehku ini. tapi setidaknya sedikit bisa menyentuhπππ
Salam hangat dari keluarga VEYOππππππππππ