SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
CINTAKU TERBALASKAN IRENE


__ADS_3

Aku kira hubunganku dengan pujaan hatiku akan selamanya baik-baik saja. Wildan, dia sahabat sekaligus kakak buatku dari kecil aku, Wildan dan Tio sudah berteman bahkan bisa dibilang masih dalam perut.


Pada saat kita sedang berjalan-jalan kealun-alun kota Wildan mengutarakan perasaannya kepadaku. Saat itu Tio juga tau, tapi aku tidak langsung memberi dia jawaban. Akhirnya, aku sedikit demi sedikit menghindar dari Wildan. Sangat sulit buatku melakukan itu, bukan karna aku benci tapi karna aku sudah memiliki seseorang yang dari awal aku perhatikan.


Dia Reza Adi Pratama, dari awal aku masuk sekolah aku sudah menyukainya. Aku sengaja tidak menceritakannya kepada kedua sahabatku. Aku juga ingin privasiku hanya aku saja yang tau. Dari kelas X aku satu kelas dengan Wildan dn Tio, hingga akhirnya saat kenaikan kelas XI, saat pemilihan jurusan tiba aku memilih jurusan IPA. Disekolahku jurusan dimulai dari kelas XI atau kelas dua. Wildan dan Tio memilih jurusan IPS mereka satu kelas.


Tanpa sengaja orang yang aku sukai juga memilih jurusan yang sama denganku. Betapa bahagianya, dia satu kelas denganku. Tempat duduk ku dengan tempat duduknya bersebelahan. Mata ku selalu memperhatikan gerak geriknya. Saat asyik melamun dia melihatku senyum manis itu menyadarkan akan lamunanku. Meleleh hatiku rasanya, sudah tampan, manis, ramah, baik pula. Itu yang menambah aku semakin suka.


Saat aku mau keluar kelas tanpa sengaja menabrak punggung Reza yang sedang berjalan mundur menghadap teman-temannya. Pandangan mata coklat itu benar-benar sangat indah dengan bulu mata panjang dan lentik seperti bulu mata palsu, Pegangan tangan yang berada dipunggungku sangat hangat dan nyaman, tak ingin rasanya semua ini menghilang. Rasa panas diwajahku mulai terasa karna pandangan yang masih belum bisa ku hindari. Sebuah deheman dari salah satu temannya menyadarkan aku dan Reza, dengan keterkejutan itu aku langsung berdiri tegak dan merapikan rambutku juga seragamku. Meskipun tidak sampai terjatuh tapi dengan sedikit berpura-pura merapikan seragam bisa menghilangkan rasa kegugupanku.


Setelah kejadian itu Reza mulai mendekatiku dan kita juga sudah mulai pacaran. Dengan berpacaran dengan Reza aku berharap Wildan tau agar bisa melupakan perasaannya itu. Tanpa mereka tau aku sering melihat dari kejauhan, rasa ingin menyapa atau berkumpul lagi sangat aku harapkan. Tapi, aku tidak berani untuk sekedar berbasa basi, aku takut Wildan masih menyimpan rasa itu. Sangat terlihat muurung bahkan senyum itu tidak lagi pernah aku lihat. Perasaan bersalah menghantuiku, dengan sikapku yang tidak memberikan dia jawaban sangat jahat. Tapi aku takut jika aku bilang menyukai orang lain, aku takut menambah sakit hatinya. Akhirnya, ku biarkan dia dulu jika waktunya sudah tepat aku akan bicara.

__ADS_1


Pertengahan tahun ajaran ku dengar ada murid baru yang pindah dari sekolah lain dikota. Dia murid IPS aku berharap dengan kedatangan murid baru itu semuanya akan berubah. Dan benar saat aku menuju kantin dari kejauhan ku melihat murid baru itu yang bernama Vey sedang asyik mengobrol dengan Tio dan Wildan. Tampak wajah tampan itu mencair, Vey mampu membuat senyum itu kembali lagi. Dengan langkah yakin aku mencoba menghampiri kearah mereka, datar, dingin dan sangat terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai kedatanganku. Ada rasa sakit sebenarnya tapi aku harus bisa, aku sapa Fio dan Vey dan aku mulai ikut bergabung dengan mereka, Aku tertawa sana sini tanpa mau menoleh kearah Wildan. aku tau mungkin Vey juga dibuat bingung dengan perubahan sikap Wildan yang tiba-tiba tak bersuara.


Dadaku terasa sangat sesak benar-benar sangat sakit, andai saja Wildan juga tau apa yang aku rasakan. Dengar suara lonceng tanda masuk berbunyi dengan cepat aku melangkah sudah dari tadi aku mencoba terlihat tegar didepan dia. Ku lihat Reza sedang didepan kelas seperti sedang menunggu seseorang. Ku masih terus berjalan menunduk, tidak kuat jika harus bertatap mata seperti tadi. Cekalan tangan Reza menghentikan langkahku yang mau masuk kelas.


Tanpa ragu dan dengan pedenya Reza memegang pundakku, Dia menghadapakan tubuhku agar menghadapnya. Rasa gugup mulai menyerbu lagi, kedua tanganku sudah digenggamnya. Aku masih tidak berani untuk mengangkat kepalaku, ku lirikkan ekor mataku yang sudah menangkap semua teman kelasku mengerubungi. kita berdua.


"Ren, mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak bisa lagi memendamnya. Aku ingin kamu jadi pacarku! Kamu maukan Ren." to the point Reza.


Deg


Mereka semua tersenyum dan bahkan ada yang memberiku bantuan jawaban melalui anggukan kepala. Ku tatap lagi wajah tampan dan manis itu, senyum itu masih mengukir indah diwajahnya. Ku harap dengan jawabanku ini bisa menghilangkan rasa bersalah kepada Wildan. Ku pejamkan mataku sejenak dan dengan sekali anggukan kepala aku menerima. Suara sorak dari teman sekelas begitu heboh, dari luar kelas juga sudah banyak teman-teman kelas lain yang melihatnya.

__ADS_1


Rasa panas diwajahku tidak dapat ku sembunyikan lagi. Untungnya jam kedua tidak ada guru karna semua guru sedang rapat. Aku sangat bahagia hari ini, benar-benar tidak disangka kalau Reza akan menembakku dengan cara seperti ini. Kabar hubunganku terdengar oleh seluruh sekolah, setiap aku berjalan dengan Reza semua teman-teman pasti akan menggodaku. Reza bisa dibilang murid yang banyak penggemarnya, tapi aku sangat beruntung penggemarnya tidak seanarkis penggemar-penggemar lainnya.


Waktu terus berjalan sempurna begitupun dengan hubunganku. Seperti perangko, dimana ada aku disitu ada Reza. Jika, disekolah favorit mungkin hubunganku sudah dijadikan pasangan yang romantis. Sayangnya, sekolahanku orang-orangnya sangat jauh dari itu. Suatu ketika aku memberanikan diri untuk datang kerumahmu Wildan, sudah sangat lama aku tidak pernah lagi main kerumah itu. Masih sama seperti dulu tidak ada perubahan, tapi ku yakin ibuk dan bapak mengetahui masalahku dengan Wildan.


Bapak memanggil Wildan yang baru datang, dengan melambaikan tangannya Bapak menyuruh Wildan. Jantungku berdegup kencang saat Bapak menyebut nama Wildan, ku lihat dia dengan sopannya menyalami tangan Bapak dan ibu. Setelah itu Bapak dan Ibu masuk kedalam, memberi waktu kepada ku dan Wildan untuk menyelesaikan masalah kami. Mungkin, tidak ada kata dewasa sama sekali pada diriku. Suasana dirumah ini sangat dingin, ku tatap wajah datarnya yang tidak ingin menatapku.


Setelah, selesai aku berpamitan kepada Bapak dan juga Ibu. Wildan sudah masuk kedalam kamarnya tanpa menungguku berpamitan kepadanya. Sebegitu marahnya dia terhadapku, memang ini juga salahku tidak langsung memberikan dia keputusan.


NOTES: CINTA PERTAMA SANGAT SULIT UNTUK DILUPAKAN BEGITU SAJA.


Jangan lupa LIKE, SARAN yah๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Maaf yah tidak pernah konsisten yang bilang mau Up tiap hari. Mau bagaimana lagi untuk merangkainya benar benar membutuhkan suasana hati yang benar benar tenang dan damai readers.๐Ÿ˜Š


Oh yah untuk cerita Irene ini hanya sedikit percakapannya karna aku ingin juga memperkenalkan Irene dan menceritakan kisahnya๐Ÿ˜Š


__ADS_2