SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
BANYUMILI WONOSALLAM


__ADS_3

Dari, Mbak Asri, Vey, Tio dan juga Wildan menampakkan kakinya didesa Wonosalam jombang. Masih satu negara dengan tempat tinggal mereka hanya saja beda kelurahan dan kecamatan saja๐Ÿ˜Š.


"Wah, Mas Fayih emang pinter deh kalau milih tempat. Subhanalloh, indahnya," ucap Vey takjub dengan ciptaan-NYA.


Fatih hanya tersenyum dengan menggandeng tangan tunangannya yaitu Mbak Asri. Irene menarik Vey untuk menuju kearah rumah Hobbit. Irene dan Vey sangat antusias sekali. Mereka berdua tidak menghiraukan yang lainnya.


"Vey, ambil fotoku yah ponselmu kan ada kameranya," minta Irene.


Memang benar diantara mereka semua cuman ponsel Vey yang sudah ada kamera depannya. Bisa dibilang dari semua teman-temannya ponsel Vey lah yang paling mahal di jamannya.


Memiliki ponsel bagus dengan harga sekitaran dua juta lebih itu sudah mahal bagi orang seperti Irene, Tio dan Wildan. Seperti Irene yang memiliki ponsel keluaran lama dengan kamera belakang yang masih belum flashnya.


Itu, sudah membuat dia bersyukur, bagi mereka memiliki ponsel yang dibawah trend sekarang tidak masalah. Toh, yang penting bisa dibuat komunikasi dengan benar. Diantara merka yang memiliki sosial media hanya Vey, dan keluarganya.


Vey, memotret Irene dengan segala posse yang secantik mungkin. Kadang mereka berdua bergantian juga mereka berselfi ria. Sedangkan, Wildan, Tio, Fatih dan Mbak Asri hanya melihat mereka berdua dari arah yang sangat jauh.


"Wil, Yo, aku cari makanan dan minuman dulu yah buat kita. Nanti, aku tunggu digazebo sana," tunjuk Fatih kearah depan mereka.


"Oh, iya! Terima kasih Mas


Aku fan Tio mau menghampiri mereka dulu," ujar Wildan.


Mereka berdua memisahkan diri Fatih dan Mambak Asri berjalan kearah penjual makanan dan minuman. wildan dan Tio berjalan kearah Vey dan Irene berada. Rumah Hobbit yang menjadi salah satu spot foto Vey dan Irene sangat bagus sekali.


Tempat wisata ini bukan hanya menyediakan spot spot foto saja melainkan lebih kealam lagi.Di Wisata Banyumili ini kita bisa menikmati suasana alam yang sejuk dan asri.


Cocok untuk kaula muda yang ingin berselfi cantik.


"Ren, Vey kamu cuman foto-foto aja. Tidak ingin mencoba wahana lainnya juga," teriak Tio kepada Iren dan Vey yang asyik berganti gaya foto.


"Cewek, memang gitu yah Wil. Tidak, bisa liat tempat bagus langsung cekrek, cekrek, cekrek. Heran aku lihatnya," gerutu Tio kesal. Wildan yang diajak biacara tidak membuka mulutnya sama sekali.


Wildan hanya terus memperhatikan kedua gadis yang berposse-posse tanpa malu. Irene dan Vey sekarang menjadi pusat perhatian wisatawan lainnya. Walau tatapan mereka biasa saja tetapi Wildan merasa malu sendiri.


Wildan menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat kelakuan dua gadis itu. Tio dan Wildan terkadang tersenyum saat dirasa gaya mereka yang seperti anak kecil.


."Wil, Yo, sini yuk ikut foto buat kenang-kenangan," ajak Vey mengayunkan tangannya kearah Wildan dan Tio.


Wildan juga Tio sempat saling berpandangan untuk akhirnya, Wildan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Vey dan Irene yang melihat mereka berdua berjalan kearah mereka bersorak-sorak seperti anak TK yang akan mendapatkan permen.


"Yok, merapat sini, biar aku mintak tolong Mas itu buat motoin," ajak Vey menarik lengan Wildan dan Tio. Kemudian Vey berjalan ekdeoan untuk meminta wisatawan lainnya untuk memotokkan mereka.

__ADS_1


"Ma'af, Mas bisa mintak tolong sebentar untuk mengambilkan gambar kita di Rumah Hobbit itu," pinta Vey sambil menunjuk teman-temannya disebrang.


"Boleh, Dek! Sini kameranya," kata salah satu wisatawan laki-laki yang sedang bersantai itu.


Vey dan wisatawan cowok itu berjalan kearah Rumah Hobbit. Sesampainya Dirumah Hobbit Vey, Irene, Wildan dan Tio langsung mengatur gaya masing-masing. Tiga kali bergaya dengan di foto kan orang lain membuat Vey ketagihan untuk sekali lagi difoto seorang diri.


Saat sudah siap Vey berposse seanggun mungkin dengan salah satu tangannya bersendekap dan satu tangannya lagi memegang dagunya tubuhnya sedikit dimiringkan.


Cekrek~


"Wah, Adeknya cantik juga yah pinter banget gayanya," puji Mas-Mas yang dimintai tolong Vey tadi.


Irene, Tio dan juga Wildan yang mendengar Vey dipuji pun juga membenarkan apa yang dikatakan nya. Bak model papan atas yang menerima joob foto di studio. Sayangnya, Vey sekarang berada ditempat Wisata spot yang dipilih Vey pun juga sangat bagus. Viewnya juga dapat dengan di elakangnya banyak pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi.


Menambah kesan alam yang benar-benar sangat asri. Vey berterima kasih kepada orang tersebut, Vey sangat puas dengan potretannya. Vey memilih salah satu foto untuk dia pajang diakun sosmednya.


Dia memasang foto Irene, Wildan, Tio dan juga dirinya. Dengan capsion yang kata-kata yang mungkin semuanya mengira Vey sedang memiliki perasaan kepada salah satu teman lelakinya.


Vey tersenyum-senyum sendiri saat melihat satu komentar yang menyuruh Vey untuk daftar jadi model. Vey berniat untuk memasukkan ponselnya kedalam tas kecilnya. Tetapi, niatnya terurungkan saat ada chatingan Whatsapp masuk.


"Gio!" guna Vey pelan tapi didengar oleh ketiga Sahabatnya.


"Kenapa, Vey! Sapa yang chat kamu," tanya Irene yang terkejut melihat raut wajah Vey yang tegang.


"Vey," tepuk Tio dipundak Vey.


"Eh, iya, kenapa! Kalian, bilang apa barusan," tanya Vey balik.


"Lha, malah kita yang ditanya. Kamu barusan nyebut nama Gio, memangnya siapa itu Gio,"


tanya Tio. Wildan hanya menganggukkan kepalanya.


"Vey, siapa itu Gio," tanya Wildan pada akhirnya.


"Dia, temanku dikota dulu. Sudahlah, ayo kita ketempat Mas Fatih sna yuk, laper aku jadinya," elak Vey mencoba mengalihkan pertanyaan mereka terhadap siapa Gio.


Mereka bertiga akhirnya menuruti keinginan Vey yang tidak mau menceritakan dulu. Ada alasan lain yang tidak bisa Vey ceritakan sekarang. Vey, masih sangat terluka dengan hilangnya Gio saat dibutuhkan dulu.


Mereka berempat berjalan beriringan menghampiri Mbak Asri dan Fatih. Mbak Asri dan Fatih tampak sedang tertawa lepas saat melihat ponselnya. Mereka menyudahi tawanya saat dirasa gerombolan Vey mendekat.


"Sudah, foto-fotonya Dek!" tanya Mbak Asri masih dengan tawanya.

__ADS_1


"Sudah, laper aku Mbak. Beli apa ini Mbak," jawab Vey dan memilah-milah makanan yang dibeli saudaranya.


"Punya rasa laper juga kamu Dek, nih Mbak belikan kamu roti kesukaanmu," Mbak Asri memberikan Sari Roti kesukaan Vey dengan rasa coklat didalamnya.


"Ye, emang aku apa tidak punya rasa lapar. Aku kan juga manusia Mbak, ihh ngeselin Mbak Asri," gerutu Vey yang mengambil roti ditangan Mbak Asri.


"Ayo, kalian juga milih sendiri makanannya ini minumannya aku beli air putih aja," suruh Mbak Asri kepada yang lainnya.


Wildan, Tio dan juga Irene mengambil minuman dan makanannya. Hari ini mereka sangat menikmati dengan rasa bahagia. Sengatan Matahari yang menyentuh kulit mereka tidak menjadi penghalang untuk berwisata. Mengistirahatkan pikiran yang seharinya dipertemukan dengan huruf dan angka.


Hari sudah hampir menjelang sore hari tetapi, mereka masih tidak bergerak dari tempat duduknya. Mereka semua masih menikmati hidangan yang dibeli. Sampai, dirasa sudah kenyang mereka akhirnya memutuskan untuk menyudahi petualangannya ini.


Mungkin, lain waktu mereka akan berpetualang lagi ditempat lain. Menghampiri tempat-tempat yang belum mereka kunjungi. Vey, berjalan mendahului kelima orang tersebut.


Vey, berjalan tidak dengan pandangan yang menatap layar ponselnya. Kedua lubang telinganya dia sumpal dengan headset. Kepala Vey ditutup dengan jaket hodienya.Setibanya, ditempat parkir Vey tidak sengaja menabrak dua orang yang sedang membelakanginya.


"Eh eh, ma'af saya tidak melihat Mas," kata Vey meminta ma'af kepada kedua laki-laki didepannya. Masih dengan wajah yang tertundum tidak berani melihat kearah keduanya.


Mbak Asri dan yang lainnya segera berlari menyusul Vey yang seperti mendapat masalah. Mbak Asri menepuk pundak adiknya.


"Vey, ada apa ini," tanya Mbak Asri yang melihat Vey menunduk.


"Gak ada apa-apa kok Mbak, hanya saja Vey tidak melihat jalan sehingga menabrak orang deh," jawab Vey berbicara tanpa melihat kearah depan. Mbak Asri yang mendengarnya berniat untuk meminta ma'af lagi tapi, Mbak Asri terkejut saat melihat dimana dua laki-laki sedang berdiri menatap mereka.


"Gio, kamu disini juga," tanya Mbak Asri. Panggilan nama itu membuat Vey langsung mengalihkan tatapannya kearah depan.


Gio tidak menjawab apa yang ditanyakan Mbak Asri. Matanya menatap lurus kearah Vey yang belum sadar kehadirannya.


Vey, sangat terkejut dan sempat memundurkan langkahnya sedikit ke belakang. Saat mendengar siapa orang yang disebutkan Mbak Asri barusan. Orang yang tadi chat dan telfon nya tidak dia jawab sekarang berada didepannya. Gio dan temannya Roni kini tersenyum saat melihat orang yang dia cari didepannya.


"Benarkan, Gio yang aku katakan. Vey sedang ada disini," kata Roni yang membenarkan kabarnya tadi.


"Maksudnya, apa yah Mas. Kami semua memang sudah berada disini sedari tiga jam lalu. Memangnya, ada apa Gio," kata Mbak Asri yang langsung tegas.


"Mas, ayok langsung aja ke mobil. Aku, aku sudah capek pengen cepet-cepet pulang," kata Vey memohon kepada Fatih. Fatih yang melihat kedua bola mata Vey yang berkaca-kaca segera menganggukkan kepalanya.


"Yok, Yang kasihan Adekmu. Ma'af yah Mas sekali lagi," ajak Fatih kepada Mbak Asri.Ketiga orang sahabatnya hanya mengekori kemana mereka berjalan tanpa mau bertanya.


Tatapan Tio bertemu dengan kedua mata Gio, Tio sempat menghentikan langkahnya sebentar. Kalau saja tidak ditarik oleh Wildan mungkin Tio sudah memperingatkan Gio untuk tidak lagi menemui Vey.


Ada saja yang mengusik kesenangan Vey saat ini. Berniat untuk berefresing tapi malahan Vey bertemu lagi dengan orang yang pernah menganarinya tentang cinta.

__ADS_1


Semuanya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Semuanya menatap keluar jendela kecuali Fatih yang fokus menatap kedepan.


NB:BUMI ITU BULAT, SEJAUH APAPUN KITA MENJAUH PASTI DITEMPAT LAIN AKAN ADA PERTWMUAN KEDUA.


__ADS_2