
Aku berjalan melewati bangunan-bangunan kecil. Ku kalungkan tali kamera dileherku. Setiap kali melewati tempat yang bagus aku langsung membidiknya dengan cara memotret.
Jebret! Jebret! Jebret!
"Bagus, cocok untuk aku ikutkan lomba," gumamku menyukai hasil setiap hasil potretku.
Kota S ini adalah kota yang sangat aku rindukan. Dimana sudah sangat lama aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki ku di tanah kelahiranku.
Suasana yang panas, gedung-gedung semakin berlomba untuk bertambah tinggi, jalanan yang tetap ramai menurutku. Tidak ada bedanya dengan dulu, hanya saja tempat bermainku waktu kecil sudah berganti dengan bangunan perbelanjaan.
Aku Devano Altara anak badung yang hoby berfoto. Aku dilahirkan dari keluarga yang suka pemilih. Hee hee hee.
Itu sisi jelek dari diriku, sebenarnya aku anak angkat dari keluarga yang cukup kaya. Aku dikatakan badung karena aku selalu bermain dengan teman kampung yang mwnurut kedua orang tua angkatku, anak kampung yang nakal.
Ah, tidak usah membahas waktu lampau.
Hari ini aku merasa sangat senang akhirnya bisa kembali lagi ke tanah kelahiranku. Sebelum kembali aku ikut kedua orang tuaku untuk tinggal di tanah kelahiran papa angkat ku.
Disana aku harus mengikuti semua peraturan yang membuatku menjadi pusing. Apapun yang akan aku makan harus sesuai dengan empat sehat lima sempurna. sedangkan aku tidak suka yang namanya sayur.
Aku memiliki alergi yang menurutku aneh. Jika yang lain memiliki alergi kepada seafood atau ikan laut lainnya. Aku malah memilih alergi kepada sayuran. Bukan alergi penyakit sih hanya fobia terhadap barang yang berwarna hijau dan sejenisnya.
Waktu kecil aku memiliki panggilan Buleng yang artinya hitam. Panggilan itu menurutku panggilan sayang dari teman-temanku di kota ini. Aku tidak merasa tersinggung dengan panggilan ini.
Dimanapun aku berada aku tetap memakai panggilan itu. Ada kejadian lucu yang akhirnya semua teman-temanku memanggil aku Buleng.
Sedikit cerita dengarkan dan tidurlah setelahnya.ðŸ¤
Saat itu aku sedang bermain ban yang diputar-putar menggunakan ranting pohon. Karena keasyikan lomba ban menggelinding aku sampai tidak tahu kalau di depan ada perbaikan jalan.
Karena, terlalu jauh dari teman-temanku aku sampai tidak mendengar peringatan yang diteriakan kepadaku.
__ADS_1
Aku terus saja memutar ban sepeda bekas itu sambil sesekali tertawa terbahak-bahak karena sudah bisa mengalahkan teman-temanku dibelakang.
Dan dipertiga jalan aku tidak melihat ada tong yang isinya oli aspal. Untung saat itu oli aspal itu tidak panas. Dengan tawa yang masih menggema aku tidak sadar juga kalau ada kayu di depanku.
Plum!
Aku terjungkat ke tong berisi oli aspal itu. Setengah tubuhku masih diluar dan kepala sampai dada masuk ke tong yang tidak terlalu tinggi itu.
Aku berusaha untuk bisa keluar dari tong oli itu, karena, posisiku yang terbalik kepala masuk ke dalam sedangkan kaki ke atas. Sedikit lagi aku hampir kehabisan nafas.
"Dev, Dev," panggil beberapa temanku yang menolongku keluar dari tong aspal itu.
Saat aku sudah berhasil keluar tawa kelima temanku langsung terdengar. Orang-orang yang saat itu juga ramai ikut menertawakanku juga.
"Haa haa haa haa haa," tawa mereka semua pecah.
Sejak kejadian itu aku tidak lagi dipanggil Devano. Semua orang yang tahu cerita kecilku pasti akan memanggilku Buleng.
kembali ke topik.
Saat sore hari seperti ini jalan-jalan ke alun-alun sangat menyenangkan. Disana aku bisa memotret semua yang menurutku bagus.
Sampai di depan pintu alun-alun aku menghentikan langkahku. Tatapanku tertuju kepada dua perempuan yang sangat cantik menurutku.
Kedua gadis itu berjalan sambil membawa sepeda masing-masing. Yang satu berhijab dan yang satu rambutnya tergerai.
Aku terus mengikuti kemana mereka berjalan mengistirahatkan dirinya. Aku berjalan jauh dari mereka berdua. Bukan berniat jahat, hanya saja aku sendiri juga tidak tahu itu.
Melihat mereka berhenti di tepi danau, aku pun menghentikan langkahku. Aku terus memperhatikan mereka berdua. Yah memakai hijab duduk dibawah, yang satunya duduk diatas sambil mendongakkan kepalanya.
"Pas banget untuk diambil. Maaf yah cewek-cewek," gumam ku bermonolog sendiri.
__ADS_1
Dengan sekali tekan jebret aku mendapatkan foto mereka. Aku memilih untuk duduk sedikit dekat dengan mereka, tempat duduk ku hanya terhalang tiga pohon besar.
Setiap pergerakan mereka aku selalu mengambil gambarnya langsung. Tertawa, bercanda menangis bersama tidak luput dari penglihatanku.
"Sepertinya mereka bersahabat lama, siapa mereka?" kataku pada diri sendiri.
Aku sudah dua tahun berada di kota kelahiranku ini. Aku juga tidak pernah melihat kedua perempuan itu disekitar sini. Aku terus memperhatikan mereka sampai telingaku tanpa sengaja mendengar kisah dari salah satu perempuan itu.
Aku tercengan mendengar kisah cinta perempuan yang gidak berhijab itu. Demi persahabatan dia rela menahan perasaannya.
Selang beberapa menit perempuan yang duduk di bawah langsung naik dan duduk di samping sahabatnya. Mereka berpelukan cukup lama sebelum akhirnya mereka saling pukul.
Lucu sekali mereka batinku yang tanpa sadar juga ikut tertawa. Mereka kembali berpelukan, melingkarkan lengannya ke pundak.
Kembali aku menekan tombol kecil di kameraku. Setiap kali aku memotretnya aku selalu melihatnya. Gambar yang aku ambil dari mereka tidak ada yang tidak bagus. Semuanya cukup bagus dan memuaskan.
Puas memandangi gambar mereka aku tidak sadar kalau mereka sudah tidak ada disitu. Aku langsung berlari mencari kemana mereka berdua pergi.
Dua kali aku berlari memutari setiap tempat berharap mereka berdua maaih berada disini. Sampai akhirnya aku menyerah, aku tidak menemukan mereka.
Aku memutuskan untuk membeli air mineral dulu sebelum kembali pulang. Tanpa sengaja kedua mataku menangkap dua sosok yang aku cari.
Aku langsung membayar minumku dan berlari mengejar mereka berdua. Aku melihat mereka menyebrang jalan dengan cara menuntun sepeda masing-masing.
Sekali lagi aku memotret mereka yang berada di tengah jalan. Dengan banyak lalu-lalang kendaraan membantu fiu yng aku dapatkan yang tadinya jelek menjadi bagus.
Semua kendaraan itu tampak mengeblur seperti diedit. Aku tertawa menaik turunkan lenganku yang tanganku mengepal.
"Yes, dapat! Semoga bertemu lagi adik-adik cantik."
Ku lihat mereka sudah menyebrang dan mengayung speeda menjauh dari alun-alun.
__ADS_1
Bayangkan sendiri maksudnya DevanoðŸ¤
NOTES: SETIAP PERTEMUAN YANG BERKESAN AKAN MEMILIKI KESAN DISETIAP WAKTU.