
"Eh, mbak ini lagi." sapa Devano. Vey tidak menggubris sapaan Devano. Vey sibuk mencari ponselnya yang entah kemana.
"Mas lihat ponsel ku tidak," tanya Vey yang matanya masih jelalatan ke bawah dan menelusuri kaki teman-temannya.
Baru saja Devani hendak menjawab kedua mata Vey terlihat berair. Devani dan Rizal saling sikut. Tatapan mata Vey terlihat hampa menatap ponselnya yang berada di bawah kaki seniornya.
Devano juga Rizal mengikuti arah tatapan Vey. Rizal melongo dan Devano menepuk jidat nya. Vey berjalan ke depan dimana senior perempuan dihadapannya memicingkan alisnya.
"Eh, mau ngapain kamu dek," tanya seniornya yang tidak merasa menginjak ponsel Vey.
"Kak, sepatu kakak jahat banget yah." tuduh Vey yang matanya memandang ke bawah. Untung kaki kamu bagus putih bersih pikir Vey.
"maksudmu apa?" tanya seniornya lagi yang sedikit tersinggung.
"Coba lihat kebawah, kakak nginjek apa?" suruh Vey kepada kakak seniornya.
"Nginjak apa lagi memangnya kalau tidak ubin?" sanggah sisenior
"Lihat aja dulu kenapa sih? apa leher kakak tidak bisa di tundukin yah," ejek Vey yang sudah meneteskan air matanya.
Lebay Vey, lebayπππ
"Lho kenapa kamu nangis sih. Memangnya apa sih yang aku in-njek?" kata sisenior yang sudah tahu kalau ponsel Vey tidak sengaja di injaknya.
Alisya yang kebetulan baru saja datang melihat ada kerumunan yang tidak biasanya.
"Ada apa itu?" gumam Alisya mempercepat jalannya.
Kedua matanya melihat Vey yang berdiri ditengah dengan kepala menunduk. Alisya langsung berlari dan menghampiri sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Vey, kamu kenapa?" tanya Alisya yang datang-datang langsung memberondong Vey.
"Sya, ponselku!" rengek Vey
"Ponselmu kenapa?" tanya Alisya yang bingung dasarnya Alisya tahu kalau Vey punya tiga ponsel.
"Ponselku, ponselku keinjek kaka Nindi, hehehe." jawab Vey dengan kekehan. Sedang yang lain menunggu jawaban apa yang akan Vey katakan kepada sahabatnya.
Senior yang menginjak ponsel Vey langsung melotot. Pasalnya senior yang bernama Nindi itu sudah sangat takut sekali kalau disuruh ganti.
"Ih, bikin aku takut aja sih Dek. Pakek drama nangis segala, ih dasar bocah semprul." kesal Nindi mengambil ponsel Vey yang terbelah menjadi dua.
"huuu jahil banget," sorak semua teman-temannya yang menyaksikan dari awal.
"Haa haa haa, maaf. Becanda doang, gitu saja sewot. Cepet tua loh kalian." seloroh Vey
"Bodo amat," ucap mereka serempak. Vey hanya tertawa terbahak-bahak melihat smeua temannya ketipu drama lebay nya. Vey belum menyadari kalau Devano masih berada di belakangnya.
"Zal, anak itu memang sering yah begitu?" tanya Devano matanya masih menatap Vey.
"Banget, dia terkenal cantik tapi sombong. Tapi, kalau sudah kenal akrab sama dia pasti tahu kok kalau sebenarnya dia anaknya asyik." jawab Rizal yang juga pernah menjadi korban kejahilan Vey.
"Haa haa haa, memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Devano
"Waktu itu aku lihat dia ada di atas atap gedung kampus. Aku yang dari bawah langsung aja lari kalang kabut nyarik tangga. Anak-anak juga aku suruh bawa kasur ke depan biar ntar kalok dia jatuh gak kenapa-kenapa?"
"Terus,"
"Yah, aku teriak-teriak kayak orang bego. Pas nyampek di atap dia malah udah bersiap merenggangkan kedua tangannya. Aku langsung teriak aja. Dia malah mengangkat satu kakinya ke depan. Aku makin panik lah, cewek cantik mau bunuh diri kan sayang juga. Langsung aja aku tarik tasnya. Eh malah dia nangis kejer. Seakan-akan aku yang tersangkanya. Semua orang yah nuduh aku lah. Mana aku baru kenal juga sama si cewek aneh itu."
__ADS_1
"Terus,"
"Terus, terus capek aku ceritanya. Sudah samperin dulu mereka yuk." ajak Rizal berjalan dulu Devano mengikuti sahabatnya.
"Kelakuan mu tidak pernah berubah ya cewek aneh. Dulu kamu nuduh aku nidurin kamu sampek ekting mau bunuh diri juga. Inget gak Nin," ujar Rizal
"Hah, Sumpah kamu nidurin mbak ini?" tanya Devano
"Ngawur aja kalok ngomong. Itu prank yang dibuat dia bego," kesal Rizal memukul bahu Devano.
"Iya aku inget, malah sampek dipanggil rektor kan? Dan kamu kena skors tapi gak jadi karena rektor dapat telfon dari papanya Veyo." ingat Nindi yang hampir saja menampar Rizal.
"hee hee hee,,maaf yah kak. . . ," ucapan Vey dengam cengirannya. Lesung pipi dan gigi gingsulnya terlihat sangat cantik. Devano terpana melihatnya.
"Tapi, kan setelah itu Veyo gak ngeprank lagi loh," elak Veyo
"Terus barusan apa Deg?" tukas Nindi yang gemas lihat Veyo.
"Hee hee, habisnya kak Nindi sendiri gak ngerasa sepatunya nginjak ponselku," jawab Veyo masih bisa ngeles.
"Haduh, ngomong sama Veyo gak bakalan ada habisnya." kata Nindi
"Sudah, ke kantin yuk semua. Biar aku yang traktir sebagai tanda perkenalan!" ucap Devano
"Wah, eh siapa Riz? Saudaramu yah," kata Nindi kepo
"Kembaran ku," tukas Rizal langsung menarik Devano. Sedang Veyo, Alisya dan Nindi terbengong mendengarnya.
"Kamu percaya kak Nin!" ucap Veyo menyenggol lengan Nindi
__ADS_1
"Dikit, ayok entar keburu dianya kabur," ajak Nindi langsung menarik tangan Veyo.