SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
SALAH ATAU BUKAN ITU ADALAH TAKDIR


__ADS_3

...****************...


*Wahai pemilik nyawaku


Betapa lemah diriku ini


Berat ujian dari-Mu


'Ku pasrahkan semua pada-Mu


Tuhan, baru 'ku sadar


Indah nikmat sehat itu


Tak pandai aku bersyukur


Kini 'ku harapkan cinta-Mu


Kata-kata cinta terucap indah


Mengalir berzikir di kidung doaku


Sakit yang 'ku rasa biar jadi penawar dosaku


Butir-butir cinta air mataku


Teringat semua yang Kau beri untukku


Ampuni khilaf dan salah selama ini


Ya Ilahi, Muhasabah cintaku*


Dengan penuh penghayatan penuh Vey sukses membuat semua pelanggan terpukau. Suara merdu nan tenang Vey senandungkan dengan santai. Matanya terpejam sesekali menghayati lirik lagu yang menyentuh hatinya.


Sedang, Wildan berdiri jauh di luar cafe. Dihadapan jendela besar tanpa kaca. Wildan bisa melihat dan mendengar suara gadis yang tidak pernah bisa dia hapus.


Setetes air akan keluar namun Vey, segera menghapus tanpa ada yang tahu itu. Meletakkan kelima jemarinya di pipi berpose seakan-akan berfoto.


Melelahkan, sangat melelahkan berada diposisi sulit. Apa tidak ada kebahagiaan yang tertulis untuk Vey. Sedikit, iya secuil kalau diperbolehkan merasakan kebahagiaan yang tidak akan pernah hilang.


Menunduk dalam diakhir lagu Vey cepat-cepat mengusap kembali air mata yang sudah tidak bisa lagi terbendung. Berpura-pura tersenyum adalah topeng paling terindah yang tuhan ciptakan.


Prok, Prok, Prok. . .


Vey tersenyum lebar seraya berdiri bersama-sama membungkukkan setengah badannya dengan personil lainnya.


"Terima kasih, Gio," ucap Vey kepada sang pianis. Gio hanya mengacungkan jari jempolnya sambil kemudian memainkan pianonya kembali.


Dengan suasana hati yang tidak tahu harus bagaimana rasanya. Vey berlari dan menubruk tubuh Devano. Menahan tangis sejak tadi itu sangat sesat.


Sampai, tubuh Vey benar-benar melekat sepenuhnya pada lelaki tampannya. Hoby baru yang sering Vey lakukan ketika merapat pada mas tampannya.


Menenggelamkan dalam wajahnya dan menghirup dengan kuat aroma tubuh suaminya. Devano merasakan setetes air membasahi kemeja yang dipakai.


Lama, pasangan suami istri ini menjadi tontonan para pelanggan yang semakin lama semakin ramai. Tidak ingin menjadikan suasana romantis dilihat secara gratis. Wildan dari belakang menarik Vey.


Devano mengepalkan kuat tangannya. Melihat tangan istrinya ditarik oleh lelaki lain. Sahabat sang istri yang sampai sekarang masih gamon. Alias gagal move on dari si Vey.


Situasi semakin memanas dikala Wildan tidak menghentikan suara Vey yang memohon untuk melepaskan genggaman di pergelangan tangannya.


Irene yang melihat Devano berlari mengejar Wildan membawa Vey. Langsung menelfon Tyo dengan sama berlarinya.


"Lepasin tangan Anda ditangan istriku," teriak Devano. Wildan yang entah kerasukan setan apa tidak menggubris. Wildan terus membawa Vey pergi sampai persimpangan jalan.


Belum sampai ujung persimpangan pundak Wildan ditarik dan dengan keras sebuah pukulan menghantam tulang rahangnya.


Bugh!


Wildan terjatuh terjerembab ketanah dengan tangan yang masih menggenggam erat pergelngan tangan Vey. Lima detik saja Vey akan menindih tubuh Wildan. Saat, Tyo tidak melepaskan genggaman tangan Wildan.


Disitu Vey memeluk Tyo menangis. Gemetar hebat tubuh Vey dalam dekapan Tyo. Nafasnya naik turun bersamaan dengan amarahnya yang masih membuncah.


Dari kejauhan Devano dan Irene berlari beriringan menghampiri ketiga orang tersebut. Diambilnya tubuh Vey dalam dekapan Tyo dan memeluknya erat.


"Bangsat, ternyata sahabatku sudah tidak memiliki otak yang waras hanya karena sebuah perasaan. Sadar bangsat, dia sudah memiliki kebahagiaan lainnya. Relakan dia bersama yang lain. Kalau kamu memang benar-benar mencintainya." marah Tyo memaki Wildan yang masih terduduk menatapnya marah.


"Wil, aku tidak pernah menyangka kamu akan bertindak senekad ini. Sadar, Wil, sadar! Vey sudah punya lelaki lain. Vey sudah sah menjadi milik orang lain. Dan orang lain itu sahabat kita juga, Devano. Wil, sudah berapa kali aku bilang sama kamu. Cari kebahagiaan lainnya. Jangan berhenti pada kebahagiaan yang tidak pernah bisa kamu miliki. Sadar, Wil kelakuanmu ini membuatku semakin sakit. Cukup Wil, sudah aku bilang. Lupakan Vey dan kita mencoba untuk bersama lagi," pangkas Irene yang sudah menangis berteriak.


"Haa haa haa, Wanita penjilat. Ren, setelah kamu kehilangan tunanganmu dan sekarang kamu memintaku untuk kembali bersama lagi. Mencintaimu lagi begitu. Cih, aku lebih baik menjadi lelaki bejat yang mencintai istri orang lain ketimbang kembali merajut cinta denganmu. Ren, tidak semua perasaan bisa dipaksakan bukan. Apa perlu aku ingatkan kembali bagaimana kamu. Aku tidak butuh kembali padamu. Yang aku inginkan cuma Vey dan Vey." tegas Widian berusaha bangkit dengan tatapan tajam menghunus Vey.


Devano yang sejak tadi marah kini sudah tidak bisa menahan semuanya. Dengan sekali hentakan kaki Devano sudah menendang ulu hati Widian.

__ADS_1


Kembali, Widian terjatuh terjungkal kebelakang. Disitu Tyo berusaha mencegah Devano melakukan tindakan Amoral lebih brutal lagi. Namun, sayang tenaga seseorang yang sedang dirasuki amarah sulit di halangi.


Widian bangkit dan membalas tendangan Devano tak kalah kerasnya. Pertikaian Devano dan Widian membuat orang-orang yang berada disana ikut melerai.


Vey berteriak memanggil kedua lelaki berbeda status itu. Ingin mendekat Vey dicegah Irene. Vey, tidak menginginkan semua ini terjadi. Vey, tidak pernah ingin berada diposisi sesulit ini. Mencintai dan dicintai bukanlah keinginan Vey.


Semakin lama keadaan semakin tidak terkendali. Tanpa berfikir lama Vey berlari ketengah jalan raya. Teriakan Irene tidak Vey hiraukan. Semua masalah ini datang karena adanya dirinya pikir Vey.


"Vey, jangan bodoh kamu. Dev, Wid, Tyo,"


Irene berteriak keras sehingga membuat ketiga lelaki yang saling beradu jotos menatap ketengah jalan.


"Vey," teriak ketiga lelaki jagoan itu.


Vey, yang sudah berada ditengah jalan merentangkan kedua tangannya. Semua orang berteriak meneriaki nama Vey. Namun, yang memiliki nama tetap tidak menggubris suara yang ramai.


Dari arah jauh sekitar 10km terlihat truk pengangkut pasir melaju dengan kecepatan kencang. Devano, Widian, Tyo dan juga Irene saling berlomba meneriaki nama yang selama ini membuat kehidupan masing-masing cerah.


"Yang, cepat minggir. Yang, dengar aku. Aku minta maaf, aku minta maaf Vey. Minggir Vey, cepat," teriak Devano.


"Vey, jangan Vey. Vey, aku janji mulai sekarang aku tidak akan mengusik hidupmu. V2y, aku janji minggir Vey," suara Widian tetap tidak didengar Vey.


"Vey, kamu wanita yang sangat bodoh. Kamu wanita lemah yang pernah aku cintai. Aku nyesal pernah membantumu bangkit dari semua masa lalumi. Pergi Vey, pergi kalau itu bisa mmebuat semuanya tenang,"


Kali ini suara Tyo membuat Vey menengok dengan wajah yang sudah bercucuran air mata. Tangannya masih merentang seperti ingin terbang. Senyum sekilas Vey berikan kepada keempat orang yang terus saja mengumpat maupun meneriaki dirinya.


Satu, dua, tiga,


BOOMM!


CIIITTT!


BRAK!


SEDETIK, SEMENIT, SEJAM tubuh indah itu terpental sangat jauh. Sepuluh meter jauhnya tubuh itu terbang kemudian menghempas dengan keras.


Irene langsung terduduk dengan air mata yang luruh jatuh. Tubuhnya seketika lemas melihat gadis yang sedetik tadi dipeluknya. Devano, menatao lurus ketempat dimana terakhir tubuh sang istri berdiri.


Widian, dan Tyo berlari menghampiri tubuh Vey yang tergeletak di sebrang jalan. Semua orang sudah mengerumuni tubuh lemah itu. Entah, saat ini mimpi atau nyata.


Seperti sebuah film yang ditayangkan langsung tanpa sutrada ampun produser. Semuanya nyata, semuanya hilang dalam sekejap. Ketika kesadaran kembali Devano berjalan sedikit demi sedikit.


Irene yang melihat Devano terjatuh ditrotoal jalan bangun dan berlari membantunya. Hatinya juga sama hancurnya melihat tubuh Vey yang sudah tidak tahu bagaimana bentuknya.


Dengan berusaha kuat Irene membantu Devano berdiri. Keduanya sama-sama berjalan kekerumunan orang-orang. Widian memangku kepala Vey yang sudah berumuran darah.


Kedua matanya tertutup rapat. Mulutnya tidak berhenti menyemburkan air merah yang terus keluar. Devano menangis tanpa suara air matanya luruh deras. Irene sudah duduk disamping tubuh Vey.


Beberapa orang mencoba menenangkan mereka. Satu orang sudah menghubungi ambulance. Seorang ibu-ibu setengah baya meminta Devano untuk menghubungi keluarganya.


"Tolong, Bu," ucap Devano dengan suara tercekat. Kedua matanya masih menatap tubuh istrinya.


"Vey, bangun Vey. Jangan pernah pergi meninggalkan kita semua dengan cara seperti ini. Vey, kumohon buka matamu. Aku janji Vey, aku tidak akan mengusik kebahagiaanmu lagi. Aku akan mengikhlaskan kamu dengannya. Tapi, tolong Vey bangun. Dengarkan aku, lihat kita semua Vey. Vey-,"


"Bunda," panggil Vel tanpa suara. Kedua matanya berusaha terbuka.


Melihat Vey ingin membuka matanya Devano langsung menyingkirkan Widian. Ditaruhnya kepala berumuran darah dipangkuannya. Tanpa merasa jijik ataupun kotor Devano menepuk menepuk pelan pipi Vey.


"Sayang, bangun. Iya, bunda akan segera datang. Kamu kuat ya, sayang. Sayang, aku mohon bertahan demi aku. Demi, bunda, papa Candra, Mbak Asri, Cia ponakan kita. Sayang, kamu pernah janji bukan kepada Cia untuk membelikan boneka Barbie. Sayang, bertahan sayang,"


Dengan suara bergetar Devano menguatkan sang istri. Berkali-kali Devano memohon agar Vey mau membuka kedua matanya. Sedetik kemudian, Vey membuka matanya yang bergetar.


Darah dari dahinya terus mengalir melewati mata kirinya. Devano berusaha menahan darah itu dengan kaos yang dilepas. Tubuhnya setengah telanjang demi menghentikan pendarahan sang istri.


"Mas tampan," bibir Vey bergerak dengan lemah. Devano tersenyum dan mengangguk cepat.


"Iya, Sayang. Kamu bertahan yah, ambulance akan segera datang," ucap Devano mengusap pipi Vey yang banyak luka.


Daging diwajahnya sedikit mengelupas akibat terseret dan terpental. Wajahnya yang ayu kini sudah tidak bisa dilihat. Banyak yang menyayangkan pertengkaran antara kedua lelaki tampan tadi.


Perkelahian yang membuat nyawa seorang gadis menjadi taruhannya.


"Mas tampan, jangan pernah menangis. Nanti, gantengnya ilang," suara lemah Vey semakin membuat orang yang mendengarnya merasa teriris. Irene yang sejak tadi diam kini bersuara.


"Vey," panggil Irene membuat Vey menengok dan tersenyum kearahnya.


"Hey, kejar cintamu. Jangan pernah menyerah," ujar Vey tersenyum. Mendengar suara Vey yang berusaha kuat Irene menangis tersedu.


Melihat Irene menangis Vey berusaha mengangkat tangannya untuk menggapai wajah Irene. Dengan bergetar Devano membantu mengarahkan tangan lemah sang istri.


"Ren, kenapa kamu menangis? Jangan pernah menangisi aku, Ren. Aku tidak pantas kalian tangisi seperti ini. Sudah, aku akan baik-baik saja. Aku harap, saat aku sudah tidak bisa lagi-,"

__ADS_1


"Vey, jangan bicara seperti itu. Kamu akan selamat. Ambulance sedang berjalan kesini untuk membantu kerumah sakit. Ku mohon Vey, jangan pernah bicara seperti itu. Kamu wanita yang kuat, kamu wanita yang hebat, kamu sahabat terbaik Vey. Jangan pernah meninggalkan kita semua dengan cara seperti ini. Vey, ingat bunda, ingat papa Candra. Kamu harus kuat Vey," sanggah Irene langsung memotong ucapan Vey.


Vey hanya bisa tersenyum saat nafasnya mulai terasa berat. Matanya ingin terpejam jika suara Devano tidak terus menerus memanggil namanya.


"Vey, ya allah, Nak. Kenapa kamu sampai bisa seperti ini sayang. Bertahan yah, Nak. Bunda bunda dan papa akan membawamu kerumah sakit," Bunda dan papa Candra bergegas menggotong tubuh lemah sang anak dengan pelan.


Kedatangan kedua orang tua Vey bersamaan dengan Ambulance yang juga sampai. Tidak menunggu waktu lama lagi semuanya bergegas mengikuti laju Ambulance.


Devano, bunda, dan papa Candra berada didalam Ambulance untuk menemani Vey. Wildan, Tyo dan juga Irene membawa mobil yang tadi dikendarai papa Candra.


Suara sirine Ambulance terdengar mengudara dengan keras. Tangan Devano terus menggenggam tangan sang istri. Sesekali Devano menciumi tangan yang bercampur darah.


Sesampainya dirumah sakit terlihat dokter juga suster sudah siap di depan pintu masuk. Setelah Ambulance berhenti dengan segera perawat membuka pintu dan menyuruh kedua orang tua pasien juga Devano untuk keluar terlebih dulu.


Setelah itu brangkar Vey segera diturunkan. Tanpa menunggu lama lagi didorongnya tempat tidur yang atasnya ada tubuh yang terbaring lemah.


Semua orang terlihat begitu cemas melihat keadaan Vey yang sangat parah. Baru pertama kali ini Vey mengalami kejadian yang membuat semua orang tidak akan pernah menyangka.


Sang bunda yang mendengar penjelasan Irene hanya bisa menangis tersedu. Wildan yang merasa dirinya bersalah. Bersujud di hadapan kaki wanita yang selama ini juga sudah dianggapnya ibu.


"Maafkan Wildan, Bun. Tidak sepantasnya Wildan berbuat sedemikian rupa. Ini semua salah Wildan yang tidak bisa mengontrol rasa cinta ini. Jika bunda ingin melaporkan Wildan. Wildan siap, Bun,"


"Semuanya tidak ada yang salah. Ini semua sudah takdir yang hrmarus dihadapi anak papa, Wil. Bangunlah, Nak jangan seperti ini," kata papa Candra membangunkan Wildan.


Dirangkulnya tubuh Wildan yang terus bergetar. Sedang Devano, terus berdiri didepan pintu kamar UGD. Kedua matanya terus menatap kedalam. Dimana dokter dan perawat sibuk mengurusi sang istri.


Melihat itu Rizal sahabatnya mencoba untuk menenangkan sahabatnya. Devano tertunduk dalam dengan tangis yang mulai pecah. Rizal yang tidak pernah melihat Devano menangis seperti ini. Merasa ikut iba melihatnya. Kedua matanya pun meneteskan air mata namun, segera disapunya dengan kasar.


"Zal, aku tidak pernah bisa melindungi orang yang aku sayangi. Aku bukan lelaki yang bertanggung jawab Z. Aku lelaki pengecut yang hanya bisa menyakitinya," dengan tangis Devano berucap.


"Van, jangan pernah bilang seperti itu. Semua orang pasti memiliki musibah yang tertulis. Kita hidup didunia ini hanya mengikuti skenario yang tuhan tulis. Percayalah, istrimu akan baik-baik saja," ujar Rizal menenangkan Devano.


Diajaknya lelaki itu duduk di kursi tunggu. Alisya, Niken terlihat berlarian menghampiri semuanya. Alisya juga Niken langsung memeluk bunda Vey dengan tangis. Bunda berusaha untuk kuat agar semua anak-anaknya ikut kuat.


"Sudah, bantu bunda untuk mendoakan Vey. Vey. sedang berusaha untuk kalian. Jangan menangisi dia seperti ini. Vey wanita kuat, Vey gadis bunda yang kuat," tenang bunda berkata dengan senyum hangatnya.


Sengaja mbak Asri belum dikabari karena tidak ingin membuatnya tergopoh-gopoh pulang dari luar jawa. Karena tugas sang suami mbak Asri harus ikut serta kemanapun sang suami diutus.


Lima jam lamanya Vey ditangani diruangan UGD. Baru saja ingin mengetuk pintu kaca itu. Seorang dokter juga dibantu perawat mendorong brangkat Vey keluar. Semuanya menghampiri dengan penuh tanya.


"Dok, istri saya mau dibawa kemana?" tanya Devano yang sudah maju didepan.


"Pak, maaf istri bapak harus segera dioperasi. Ada gumpalan darah beku di otak juga jantung istri Anda. Maaf, kita tidak mau pasien menunggu lama. Suster, tolong siapkan semua surat-suratnya!"


Tanpa menunggu jawaban dari keluarga korban, dokter itu langsung melanjutkan langkahnya menuju ruangan operasi. Bukan waktu yang pas untuk menjelaskan semuanya terlebih dulu.


Langkah semua orang mengikuti kemana brangkar untuk berjalan. Dengan beribu doa yang dilantunkan dalam hati masing-masing. Mengikuti brangkar Vey sampai akhirnya berpisah di ruangan yang bertuliskan "ruang operasi".


Lampu menyala pertanda operasi segera dimulai. Semuanya yang berada didepan ruang operasi itu semakin mengencangkan doa. Berulang kali mendongak untuk melihat lampu itu meredup.


Wildan, berjalan mundur dari kerumunan semuanya. Rizal yang melihat itu hanya diam tanpa mencegah. Bukan waktunya untuk marah dan saling menyalahkan.


Wildan terus berjalan keluar koridor rumah sakit. Sampai akhirnya kakinya terhenti pada sebuah tempat suci yang sering didatanginya. Dengan gontai Wildan berjalan menuju tempat wudhu.


Tepat di tempat wudhu Wildan hanya berdiri tanpa menyalakan kran air. Matanya menatap kosong tempat wudhu itu sampai satu tepung menyadarkan lamunannya.


"Jangan melamun ditempat ini, Nak. Segeralah berwudhu dan bergegas kedalam. Saya tunggu!" ucap seorang lelaki yang memakai syorban.


Wildan melaksanakan apa yang ingin dilakukan. Melihat Wildan menuntaskan sholatnya. Lelaki tadi menghampiri Wildan dengan senyum hangatnya. Bibirnya sulit untuk membalas senyum lelaki setengah baya itu.


Diambilnya tangan lelaki itu dan dicium dengan kusuk. Air matanya menetes membasahi kulit yang hampir keriput itu. Lelaki itu hanya menguasap-usap punggung belakang Wildan.


Setelah tenang Wildan berani menegakkan kepalanya dan menatap lelaki yang dipanggil pak Ustad. Hanya senyuman yang Wildan lihat.


"Apapun masalahnya, jangan pernah putus asa meminta pertolongan sang pencipta. Ikhlas, itu cara satu-satunya agar semua masalah menjadi ringan. Bapak tahu, mungkin masalahnya berat. Tetapi, kamu harus ingat seberat apapun itu pertolongan Yang Maha Kuasa itu penting." cetusnya


"Jika, bapak boleh tahu. Masalah besar apa yang membuat Anda sholat sambil memikirkan air mata tanpa henti. Bapak lihat tiap kali Anda sujud tangis Anda terdengar.Tapi, jika tidak ingi bercerita Bapak tidak akan memaksa," sambung pak Ustad.


"Di dalam sana ada seorang gadis yang beberapa tahun silam sukses merebut hatiku, Pak. Sampai sekarangpun, saya tidak pernah bisa membuang rasa cinta ini. Akan tetapi, sebuah musibah datang karena aku. Karena aku sekarang dia terbaring lemah di ruang operasi. Saya tidak pantas dimaafkan Pak Ustad. Saya orang yang paling bersalah dalam semuanya. Andai aku bisa menghapus rasa cinta ini mungkin semua ini tidak akan terjadi. Dia, wanita yang pernah saya kuatkan menabrakkan dirinya. Semua ini salah saya pak Ustad. Andai aku mendengarkan teriakannya. Dengan begitu marahnya aku bangku hatam dengan suaminya,"


"Astagfirullah," ucap pak Ustad terkejut dengan mengelus dadanya.


"Nak, siapa namamu?" tanyanya.


"Saya Wildan, Pak Ustad," jawab Wildan menghapus air matanya.


"Saya tidak tahu harus berkata apa. Karena kamu jiga tidak salah jika memiliki perasaan itu. Akan tetapi kamu salah jika terus bersihkukuh merebut istri orang. Seorang suami jelas akan marah jika istrinya secara terang-terangan kamu cintai. Nak Wildan, jodoh, rejeki, mati sudah Allah SWT atur pada semua umatnya. Jika, seperti itu berarti gadis itu bukan jodoh yang Allah berikan padamu. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Karena kita manusia tidak pernah tahu musibah datang. Ini semua sudah ditakdirkan untuk gadis itu. Berdoalah biar dia bisa melewati masa sulitnya didalam sana. Mari, aku tuntun untuk berdoa,"


Pukul sepuluh Wildan masih berada di masjid sebrang rumah sakit bersama pak Ustad.


"Ya allah, ampuni hamba. Ampuni segala dosa hamba. Ya allah, disini dirumahmu ini hamba meminta pertolongan kepadaMu. Ya allah, di dalam sana ada seseorang yang pernah Engkau titipkan kepadaku. Disana pula gadis itu berusaha untuk kembali lagi pada kami semua. Ya allah, buatlah dia kembali pada kami ya Allah. Kami tidak akan pernah bisa membayangkan jika, dia benar-benar menghadapmu. Ya allah, berikan hamba kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Hamba salah sudah mencintai istri sahabat hamba sendiri. Kabulkanlah doa hamba, kembalikan Vey kepada kami ya Robb.

__ADS_1


__ADS_2