SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
MENCOBA MENERIMA


__ADS_3

Sesaat kemudian mereka telah sampai rumahnya masing masing. Terlihat dari jauh ada sepeda yang terparkir didepan pekarangan rumah Wildan. Tanpa mengetuk pintu, Wildan memasuki rumahnya yang terlihat sepi. Saat melewati ruang tengah, Wildan menghentikan langkahnya saat suara berat dari sang ayah memanggil nama anaknya. Wildan menghentikan langkahnya masih berdiam diri ditempatnya sekarang, masih melihat siapa tamu yang duduk membelakanginya itu.


Mendengar nama yang tak asing itu membuat Iren menengok kebelakang. Wildan serasa terkejut,tapi dia berusaha agar tidak terlihat terkejut dengan kedatangan Iren yang secara tiba tiba. Yah, semenjak waktu itu Iren tidak pernah lagi terlihat bermain bersama dengan Tio dan juga Wildan. Kedua orang tua tersebut juga merasa heran melihat keretakan diantara mereka bertiga.


Dengan perlahan Wildan menghampiri orang tuanya tanpa menoleh kearah Iren. Menyalami kedua orang tuanya dan melirik sejenak kearah gadis yang duduk didepan orang tuanya. Sebelum, Wildan beranjak melangkahkan kakinya, ayah Wildan memegang pundaknya agar tidak pergi dulu.


"Wil, ayah dan ibu berharap kamu bisa menjadi laki laki dewasa, selesaikan masalahmu." dengan senyum yang tenang ayah Wildan menasehatinya. Sang ibu hanya memberi anggukan kepala kepada sang anak.


Tanpa ada jawaban dari sang anak, kedua orang tua itu pergi masuk kedalam untuk sekedar memberi waktu mereka menyelesaikan masalah mereka. Jika suatu masalah dibiarkan seperti ini tidak akan selesai.


Wildan duduk ditempat orang tuanya tadi, menatap sekilas kearah Iren yang masih membisu. Mengambil sebuah benda pipih yang berada didalam jaketnya. Wildan menyibukkan jari jari lentiknya diatas layar ponselnya itu, sampai dirasa ada suara yang mencoba mencairkan suasana canggung ini.


"Maaf, aku tiba tiba kerumah kamu Wil!" Suara Iren seketika menghentikan kegiatan jari Wildan.


Menatap Iren dengan kening berkerut tanpa membalas permintaan maafan dari Iren. Wildan masih menatap lawan bicaranya dengan tatapan datar dan tidak bia diartikan. Menunggu kelanjutan yang akan Iren katakan.


Lama menunggu akhirnya Wildan membalas perkataan Iren.

__ADS_1


"Untuk apa?" Jawab Wildan datar.


"Aku tau maksudmu tidak menjawab ungkapan ku dulu, tapi setidaknya aku tidak memendam rasa itu sendiri." sambung Wildan.


"Aku masih menganggap kamu sahabat ku, hanya saja aku merasa aku sudah tak pantas menjadi sahabat buat kamu. Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu sendiri, begitupun dengan ku, aku sudah merasa lega melihat kamu mendapatkan laki laki yang dari dulu kamu sukai.!" Mencoba tersenyum.


"Wil, maaf, bukan maksutku untuk tidak memberikan kamu jawaban, tapi aku hanya tidak ingin kamu terlalu dalam lagi, aku sudah lebih menganggap kamu sebagai seorang kakak buat ku. Maka dari itu aku lebih memilih tidak menjawab ungkapan rasa itu!" ujar Iren,


"Iya, aku tau maksut kamu, sudah lah, aku sudah melupakan semua itu. aku bahagia jika kamu bahagia, anggap saja rasa sayang itu hanya sekedar rasa sayang terhadap seorang kakak untuk adiknya". Wildan mencoba merelakan cinta pertamanya dengan laki laki lain.


Iren tak tau harus menjawab apa lagi, seakan akan tenggorokan Iren tercekat sesuatu yang membuat Iren sulit untuk mengutarakannya. Senyum kelegaan yang didapat Iren diwajah Wildan, seakan memberi kesan tersendiri. Mata mereka saling mamandang dalam, menvoba mencari cari arti dibalik kata yang diucapkan Wildan.


"Dengan melihatmu selalu tersenyum dengannya aku bisa menyimpulkan, bahwa kebahagiaanmu berada didekatnya. Kamu masih bisa bermain kerumahku, ajak juga dia kesini biar Tio juga bisa berteman dengan,,,". Wildan menghentikan ucapannya.


Mengerti akan ucapan Wildan, Iren menjawab dengan nma laki laki itu.


"Reza". Sambung Iren mengerti akan potongan kata itu.

__ADS_1


"Ah,, ya itu." Wildan tak mau menyebutkan nama itu. kalau boleh jujur Wildan masih berat merelakan Iren dengan laki laki yang sudah dari dulu disukai oleh sahabatnya itu.


Sesudah itu Iren berpamitan kepada Wildan dan orang tuanya untuk segera pulang.Meski jarak rumah Iren berjarak lima rumah dari rumah Wildan, tapi Iren merasa sudah lama berada disana.


Selepas kepergian Iren, Wildan masih berdiri didepan pintu rumahnya. Melihat bayangan Iren yang sudah menghilang dibalik pagar putih rumahnya itu. Hembusan nafas yang sangat berat Wildan keluarkan bersamaan berbalik untuk menutup pintu dan bergegas jalan kekamarnya.


Sesampainya dikamar Wildan merebahkan tubuhnya sambil menatap langit langit kamar yang berwarna putih itu. Membahayangkan pertemanan dengan Iren yang sulit untuk dilupakan, hingga bayangan senyum Vey juga tampak menyelimuti otaknya. Senyum tulus itu berasa membuat hati Wildan tenang dan damai.


"Ah,,," Mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang sambil mengusap ngusap rambutnya kasar.


"Kenapa jadi Vey sih!" hembusan nafas yang Wildan keluarkan.


NOTES: MENGUNGKAPKAN ITU LEBIH BAIM DARI PADA MENYIMPANNYA SENDIRI.๐Ÿ˜‰


jangan lupa Like yah,


jangan lupa Sarannya.

__ADS_1


jangan lupa juga untuk selalu TERSENYUM๐Ÿ˜Š


Salam hangat dari Veyo


__ADS_2