SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
PERTEMUAN PERTAMA DIALUN-ALUN FATIH


__ADS_3

Semua berjalan seperti biasanya, aku bisa memulai aktivitas kembali. Hari demi hari ku lalui dengan tawa canda. Mata ini telah menyelamatkanku dari kegelapan.


Entah, bagaimana aku bisa melewati semuanya jika tidak ada mata ini. Mungkin, saat ini aku berjalan dengan kaki tiga. Hari ini akan aku mulai dari awal lagi.


Aku susuri jalanan yang biasa aku lewati dengan hati yang tidak bisa aku ungkapkan. Aku akan bisa melihat senyum itu, aku akan melihat mata indah itu lagi. Aku tidak sabar untuk segera bertemu dengan pujaan hatiku.


Rumah yang berwarna jingga dipadukan dengan sedikit warna pink ditepinya. Membuat rumah yang berhalaman luas itu semakin cantik dipandang.


Ku yakinkan langkahku untuk mendekati pintu rumahnya. Ku ayunkan tanganku untuk mengetuk pintu putih itu. Tidak menunggu lama, orang yang berada didalam membukakan.


Terlihat, senyum yang selalu menghiasi hariku itu tampak begitu mempesona. Membuat hatiku semakin menyukainya, aku tidak akan pernah tega jika harus menghilangkan senyuman itu.


Kinara, gadis yang sudah mematahkan hati seorang Fatih. Aku dan Nara sudah berjalan selama 2 tahun. Dia, beda sekolah dengan ku dan mengenai aku yang mengalami musibah dia tidak tahu.


Aku sengaja tidak memberitahunya karna, aku takut jika dia tidak bisa menerimanya. Setelah, berpamitan aku dan Nara segera menuju tempat yang aku janjikan.


Tempat yang banyak pemuda dan pemudi yang sekedar melepas penat. Umur ku dan Nara hanya selisih 1 tahun. Waktu pertama aku bertemu dengan dia di olempiade mata pelajaran Fisika.


Sekolahanku mengadakan perlombaan untuk semua sekolah. Perlombaan itu diadakan disekolah ku, dan saat itu aku mulai tertarik untuk mengenal dia.


Jarak antara Alun-alun dengan jarak rumahku lumayan jauh. Nara tidak mau aku ajak naik kendaraan, dia ingin menikmati dengan berjalan kaki lebih romantis katanya.


Sedari keluar dari rumah tanganku tidak pernah ku lepaskan. Rambut yang tergerai panjang mengikuti arah kemana angin menerbangkan.


Didepan sudah terlihat tempat masuk alun-alun. Ku mempercepat langkahku agar segera sampai, selama sekolah dulu kita jarang bertemu. Sampai akhirnya, setelah kita lulus baru bisa bertemu.


Banyak penjual makanan ringan dipinggiran alun-alun. Aku mengajak Nara untuk membeli cemilan harum manis. Nara sangat menyukai makanan anak kecil seperti itu.


" Pak Lek, Harum manisnya 1 nggeh," ucapku ke penjual Harum manis itu.


" Mau warna apa Le, silahkan ambil sendiri tinggal tarik saja," kata Bapak Penjual.


Aku menarik 1 Harum manis ini sesuai arahan dari penjualnya untuk ditarik. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih dan membayarnya dengan uang pas.

__ADS_1


Sudah membeli cemilan, aku berjalan lagi untuk mencari tempat duduk. Aku memilih duduk didekat danau yang disampingnya banyak bunga-bunganya.


Banyak bangku sebenarnya disana tapi aku dan Nara menyukai tempat yang ada danaunya. Ada 3 bangku duanya sudah bertuan sedangkan satunya ada yang menempati seorang gadis.


Aku memilih bangku yang disuduki gadis yang sedang asyik dengan ponselnya. Sebelum duduk, aku meminta ijin kepada gadis itu.


" Permisi, Dek!" ijinku pada gadis itu. Tidak ada jawaban darinya. Tanpa menunggu lama Aku menyuruh Nara untuk duduk.


Nara mencoba lagi untuk menyapa gadis disampingnya. Dengan sekali tepukan dipundak akhirnya dia menegakkan kepalanya.


Saat dia melihat kearahku, senyumnya yang sedari tadi menghiasinya sedikit demi sedikit memudar. Wajahnya tampak terkejut saat melihat wajahku.


" Dek, kamu gak papa," tegur Nara saat melihat dia tertegun melihatku dengan mata berkaca-kaca.


Masih saja, tidak ada jawaban lagi dari gadis itu. Mata yang sudah penuh dengan air itu seperti tak asing. Aku seperti pernah melihat mata sendu itu, aku mercon mengingat tapi, otakku tidak bisa.


" Kenapa dengan gadis didepan ku ini, kenapa dia menangis saat melihatku," gumamku dalam hati.


Saat aku ingin menanyakannya dia sudah berlari dengan berurai air mata. Nara menanyakan padaku tapi ku jawab dengan gelengan dan kuabgkat kedua bahuku.


Besok aku sudah mulai pendidikan untuk menjadi seorang prajurit loreng. Sesampainya didepan rumah Nara aku menyuruhnya untuk segera masuk.


Nara memintaku untuk masuk sebentar tapi, aku menolaknya dengan halus. Aku tidak sabar untuk segera sampai rumah dan menceritakan pertemuan dengan gadis tadi.


Dengan sedikit berlari aku menuju rumah yang letaknya diujung gang depan. Pas sampai aku langsung masuk tanpa memberi salam terlebih dahulu.


Ku cari Ibu dan Ayahku, berharap mereka masih diruang tengah. Ternyata Ibu dan Ayah masih disana pikirku.


" yah, Bu, kok masih lihat tivi belum tidur," tanyaku sambil menyalami kedua tangan orang tuaku.


" Masih jam berapa ini Le kok udah tidur saja. Filmnya saja belum selesai," ujar Ayah.


Ku memilih duduk disofa yang disamping Ibu. Ku sandarkan tubuhku disandaran sofa unguku. Aku mengambil makanan ringan yang berada diatas meja.

__ADS_1


Terbesit difikiranku gadis misterius itu.


" Yah, Bu, tadi pas aku sama Nara ke alun-alun kota aku ketemu sama anak perempuan," ceritaku. sambil tak hentinya mengunyah.


" Kamu itu Le, kebiasaan banget kalau makan sambil ngomong gitu. Bandel banget sih, selesain dulu ngunyahmu baru ngomong," marah Ibu sambil merampas camilanku. Ayah yang melihat aku kena semprot Ibu hanya cekikikan.


" Biarin saja toh Bu, besok kan anakmu sudah tidak bisa makan seperti itu lagi. Biar dipuas-puasin makan sambil ngomong kek gitu. Nanti, kalau sudah diasrama sudah tidak akan bisa lagi dia. Pengen digetok pakek gagang tembak apa." Ujar Ayah yang masih saja menertawakan ku.


Aku hanya nyengir kuda dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Saat semuanya sudah netral lagi aku mulai menceritakannya lagi.


Ayah dan Ibu ku juga tak kalah herannya denganku. Apalagi kalau mereka melihat sendiri kejadian tadi mungkin mereka juga dibuat terkejut saat gadis itu tiba-tiba menangis.


Setelah lama bercerita aku pun mulai lelah, mataku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Aku berpamitan terlebih dulu untuk masuk kekamar dan mengistirahatkan tubuhku. Hari ini sangat melelahkan buat diriku, apalagi otakku yang terus memikirkan gadis itu.


Sudah sampai kamar dan bertemu dengan kasur empukku langsung ku tenggelamkan kepalaku dibawah bantal. Ku telungkupkan tubuhku dengan bantal yang diatas kepalaku.


Pintu kamar lupa tidak ku tutup rapat sehingga siapapun yang lewat pasti bisa melihatku dengan posisi ternyamanku. Terdengar ada langkah yang mendekat tapi mata ini benar-benar sudah tidak bisa lagi ku buka.


" Hem ,,,, kebiasaan sekali anak ini tidur dengan bantal dikepalanya. Jadi ragu aku kalau dia besok diasrama." Ucap Ibu geleng-geleng melihatku.


Setelah menyelimutiku beliau kemudian keluar dan menutup rapat pintu kamarku. Sebelum itu beliau memencet saklar lampu yang berada disamping pintu.


Pertemuanku dengan gadis itu membuatku semakin penasaran. Suatu saat nanti aku akan mencari tau jika pendidikan ku sudah selesai.


NB: JIKA PERTEMUAN PERTAMA MEMBAWA KESEDIHAN. SEMOGA DIPERTEMUAN BERIKUTNYA AKAN MEMBAWA KEBAHAGIAAN.๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜˜


Aku tidak memaksakan readers untuk selalu menyukai karyaku. Aku hanya meminta sedikit untuk medukungnya.


Jangan lupa LIKE, SARAN, RATE dan VOTE jika berkenan๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Tetap jaga kesehatan yah semuanya


Tetap patuhi prosedur pemerintah

__ADS_1


Jika tidak ingin kena denda๐Ÿ™Š๐Ÿ™Š๐Ÿ™Š


Semoga yang membaca selalu diberi kebahagiaan, keceriaan, kesehatan yang barokah dan dilapangkan rezekinya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Šโ˜บโ˜บโ˜บโ˜บ


__ADS_2