SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
POV WILDAN RINDU MANTAN


__ADS_3

Hah, rindu tak berbentuk membuat siapa saja dibuat kepo akan bentuknya.


Seperti yang dialami satu cowok yang tidak akan pernah bisa move one.


Setiap hari cowok ini menatap sepasang foto pernikahan yang membuatnya gamon.


Wildan Prasetyo, terus menatap gambaran foto yang tersimpan dalam galery ponselnya. Entah, harus berapa wanita yang Tyo kenalkan. Agar, pikiran dan otaknya kembali waras.


Irene, juga Tyo tidak bisa berbuat lebih. Pasalnya, mereka berdua berusaha agar sahabatnya tidak salah jalur. Apa jadinya jika, Wildan masih menyimpan harapan untuk istri sahabatnya sendiri?.


Lagu galau apa yang pantas untuk Tyo ciptakan. Sebagai tanda berkabungnya hati Wildan?


"Wil, isok-isok kowe gendeng modyar(Wil, bisa-bisa kamu gila mati)," kesal Tyo. Namun. orang yang diajak bicara tidak menyahuti ataupun menoleh.


"Yo, apa sebaiknya kita bawa Wildan ke mbah Darmoko saja? Aku khawatir, Yo. Nanti Wildan makin salah jalur alias salah jalan menuju pintu neraka?" timpal Irene langsung dapat lemparan kertas.


"Memangnya kamu dan kamu suka melihat temanmu masuk neraka, Hah?" geram Wildan beranjak berdiri.


Diambilnya gitar listriknya dipetik pelan-pelan. Tyo dan Irene tersenyum sambil saling lempar alis.


Lempar alis kek gimana yah. Ada yang tempe tidak?πŸ˜‚πŸ€£


Maksudnya saling mengangkat kedua laisnya sambil tersenyum. Puas mengerjai sahabatnya yang gamon berat dengan simantan.


"Ambyar mak pyar, balik kanan bubar jalan. Langkah tegak maju ninggalke bojone konco(istrinya teman)" celetuk Tyo bersamaan dengan Irene.


Keduanya langsung tertawa dan menempelkan telapak tangannya.


Prok!


"Wes, ngalih-ngalih kono cah loro kui!Ngrusuhi wae, ninggal kono. Pikirku sumpek ketekan bocah-bocah edan koyo kowe loro kui(Sudah, pergi-pergi sana anak dua ini! bikin rusuh saja, pergi sana. Pikiranku makin jenuh kedatangan anak-anak gila kaya kalian berdua ini)!"usir Wildan mengibas-ngibaskan tangannya.


Bukan bergegas pergi keduanya malah kembali duduk bersila. Tyo melingkarkan tangannya pada bahu Irene. Diikuti Irene yang bersedekap dada sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Ren, kamu juga masih gamon ta sama bocah gendeng satu ini?" sindir Tyo semakin menggoda Wildan.


"Sebenere, masih, Yo. Tapi otakku masih pengen waras, Yo. Gemboknya terlalu kuat untuk dibuka kunci kecilku," jawab Irene.


Tyo menahan tawanya sambil mengulang tos keduanya. Wildan semakin dibuat jengkel oleh kedua temannya. Menaruh gitarnya sembarang tempat.


Duduk bersila di depan kedua sahabatnya. Menarik nafas dalam-dalam dengan mengusak rambut belah durian eh belah tengahnya.


"Aku tidak tahu harus bagaimana? Semakin aku mencoba melupakan dan menghapus dia dari pikiranku. Semakin aku dibuat sakit?" ujarnya putus asa.


Irene mulai menangkap keputus asaan dari lelaki yang dulu sangat kuat. Melepas dekapan tangannya dan memegang kedua tangan Wildan.


"Wil, aku paham betul. Tapi kamu gak boleh kalah sama perasaan itu. Semuanya, perlahan akan hilang. Wil, kamu bisa melupakan perasaanmu sama aku. Dan itu, sangat mudah bahkan, sampai saat inipun. Aku sulit sekali membuka hatimu kembali," tukas Irene.


"Gampang banget, Ren. Tapi, gak tahu kenapa itu sulit kalau melupakannya," sentak Wildan sedikit meninggikan suaranya.


"Wil, slow. Tidak usah ngegas gitu juga kali. Apa yang dikatakan Iren itu bener, Wil. Sekarang kamu seperti ini. Malah makin hidupmu gak karuan. Saat ini saja lihat, tubuhmu makin kurus gak terawat. Jangan hanya karena cinta kedua kamu akan menjadi orang gila baru, Wil," kesal Tyo melempar botol kosong kearah Wildan.


"Sudah, jangan malah saling vanas dong,"


"Panas, panas buren bukan vanas," kata kedua lelaki yang sudah mulai terpancing guyonan receh Irene.


"ow, salah yah. Hee hee hee, maaf deh kalau gitu boy besti," jawab Irene menutup mulutmu.


"Gak lucu, Ren. Burennnn. . . ," jengkel Wildan.


"Iyo, ora lucu. Huh," sambung Tyo.


Bukannya cemberut Irene mengedipkan sebelah matanya. Membuat Tyo dan juga Wildan langsung saling memberi kode. Tanpa Irene tahu saat hendak berdiri. Tyo mengikat seutas tali pada ujung baju Irene.


"Haus, aku, Wil," kata Irene berdiri.


Dalam hitungan ketiga Irene terjungkal kedepan dengan tertimpa boneka besar milik Wildan. Kedua lelaki itu tertawa keras melihat sahabat perempuannya puas mereka kerjai.

__ADS_1


Boneka gajah yang memiliki tubuh seperti manusia. Postur gede, bulet, belalai panjang sudah dipastikan beratnya mengalahi boneka sewajarnya. Beruntung, Irene terjatuh dalam karpet bulu yang menjadi alas.


"Nikmatnya ketiban kamu, Jah. Semoga gak tek dung yah," kata Irene mencoba bangkit.


"Ren, sinting kamu. Mana ada gajah ngamilin anak cacing kayak kamu. Yang ada kasihan gajahnya, Ren,"


"Haa haa haa haa, gila kamu, Yo. anak orang kamu katai cacing," timpal Wildan tertawa sambil menepuk pahanya.


Irene yang melihat Wildan tertawa lepas merasa lega. Akhirnya, dia tidak sia-sia menahan sakit. Sungguh, kali ini Irene sangat merasa puas. Tawa Wildan mengobati hatinya yang sebenarnya sakit.


Hanya saja Irene berusaha sekuat hati untuk menyimpan semua perasaannya itu.


Tawa Tyo pun terhenti ketika melihat Wildan tertawa keras. Dipandanginya raut merah Wildan karena tertawa tanpa henti.


"Tertawalah, Wil. Keluarkan semua yang kamu rasakan. Aku tahu, tawamu itu menyimpan banyak kepedihan. Tertawalah sekeras yang kamu mau," gumam Tyo yang dianggukin Irene.


Tyo melihat sepintas ada setetes air yang telah membasahi ujung mata Irene. Berat memang mencintai seseorang yang sudah tidak mencintai lagi.


'Vey, andai kamu tahu. Saat ini aku menangis dalam tawa. Sakit Vey, perih. Aku rindu kami, Vey. Aku rindu kamu disisiku,' batin Wildan yang semakin mengeraskan tawanya.


'Aku tahu tawamu hanyalah palsu, Wil. Kamu berusaha menyembunyikan kesedihan itu. Kerapuhan hatimu itu membuatku sakit, Wil. Kuatlah seperti dulu, aku rindu dingin dan bekunya dirimu dulu,' batin Irene.


Tawa, satu kata yang pintar menutupi sebuah kepedihan. Menutupi sagala masalah yang menyelimuti. Jika, tertawa bisa melepas semuanya. Mampukah. hati juga ikut tertawa agar tidak merasakan sakit.


Rindu dalam sakit itu lebih menyakitkan daripada rindu yang tersampaikan.


*Jangan pernah memendam rindu.


*Jangan pernah mengharap dirindukan.


Apalagi kalau sampai merindukan sang mantan yang hidupnya sudah bahagia bersama pasangannya. eak eak eak hak e hak eπŸ˜†πŸ˜‰πŸ˜πŸ˜


Hayo, hayo,,,,disini siapa yang sedang rindu mantan😊😊😊😊.

__ADS_1


__ADS_2