SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
SUASANA BARU DAN TEMPAT BARU


__ADS_3

Sudah tiga tahun sudah aku berada di kota yang terpisah. Kedua orang tuaku berada di desa yang dulu pernah aku tempati juga.


Setelah acara kelulusan itu aku memutuskan untuk ikut saudara ke kota S. Di sini aku menjadi orang baru lagi. Tempat baru, teman baru dan pastinya suasananya juga baru.


Aku melanjutkan pendidikan ku di salah satu universitas negri kota S. Di sini aku ingin mewujudkan cita-cita yang dulu aku impikan. Menjadi seorang dokter, itu lah impianku ssjal kecil.


Aku pernah berkata kepada seseorang, jika kita mempunyai niat dan tekad untuk mengejar apa yang kita impikan. Jangan pernah melakukannya dengan setengah hati.


Meskipun, sekarang atau kemudian hari kita masih belum bisa mewujudkannya. Yakinlah, dengan tekad dan usaha yang kuat segala yang kita impikan pasti kelak akan terwujud.Tidak ada usaha yang membohongi.


Untuk pertama kali aku berpisah dengan kedua orang tuaku. Meninggalkan teman-teman yang selalu mendukungku, selalu ada buat ku. Bicara tentang teman disini aku juga memiliki seorang teman yang sangat baik.


Alisya namanya dia gadis berhijab berasal dari lampung. Kedua orang tuanya menitipkan nya kepada salah satu saudara di kota S ini.


Aku dan Alisya satu jurusan dan satu universitas. Umur Alisya terbilang lebih tua dari pada aku. Bisa dibilang satu tingkat denganku.


Alisya anak yang humble menurutku, suka menolong sama sepertiku. Alisya sangat mandiri meskipun, disini dia memiliki saudara. Tapi, dia tidak ingin tinggal dengan saudaranya. Jadi, Alisya memutuskan untuk tinggal di kossan putri.


Letaknya tidak jauh dengan kampus. Didekat kampus juga terdapat tempat perbelanjaan yabg biasanya di sebut 'Mall'.


Alasanya cukup simpel Alisya tidak ingin menjadi beban dan tidak ingin merepotkan saudaranya. Aku merasa tertampar jika, mengingat alasan Alisya.


Aku yang dari kecil sampai remaja tidak bisa berada jauh dengan keluarga. Membuat ku seperti anak yang terlihat manja. Tapi, itu menurut pandangan masing-masing.


Sudah lah, biarkan bagaimana orang lain menilai ku. Hari ini hari minggu biasanya Alisya mengajakku bersepeda. Aku menunggu Alisya di teras rumah sepupuku.

__ADS_1


Di rumah ini kita hanya tinggal bertiga. Aku, Pak de Hery dan Bu de Mita. Pak de dan Bu de sengaja meminta ku untuk mereka bawa ke kota S.


Pak de dan Bude tidak memiliki seorang anak sehingga mereka mengajakku untuk tinggal bersama. Terkadang aku mengajak Aliaya untuk tinggal tinggal dirumah pakde.


"Assalamualaikum, Veyo," sapa Alisya di depan gerbang.


"Walaaikimsalam, Sya, masuk dulu yuk," ajak ku.


Aku mengajak Alisya untuk masuk kedalam. Pak de dan Bu de sanagy senang kalau aku mengajak Alisya.


"Bu de, Alisya sudah datang," teriakku memanggil Bu de yang berada di dapur.


"Loalah, sini-sini sarapan dulu Ndok!" ajak Bu de.


"Masyaallah, Bu de repot saja. Alisya jadi tidak enak kalau setiap hari ke sini di suruh makan terus," sungkan Alisya.


"Walah, kamu sama Veyo sudah Bu de anggap seperti anak sendiri. Tidak usah sungkan. Oh yah, Ndok kamu tidak pernah kerumah Bibi mu," tanya Bu de.


"Jarang Bu de, rencananya minggu depan saya kesana. Veyo, kamu ikut aku yah," ajak Alisya ke pada ku.


"Bagaimana Bu de, diizinkan tidak Veyo ikut Alisya," tanya Alisya meminta pendapat kepada Bu denya.


"Terserah, kamu saja Ndok. Yang penting kalian bisa jaga diri kalian," nasehat Bu de.


Akhirnya kita makan bertiga Pak de sudah berangkat sedari pagi tadi. Pak de bekerja sebagai sekurity di salah satu rumah sakit terbesar di kota ini.

__ADS_1


Jarak antara rumah dengan kampus sangat dekat. Bisa dibilang tempat tinggal ku yang sekarang di belakang kampus.


Aku disini jadi banyak belajar lagi. Di tempat tinggal ku yang sekarang, lebih banyak orang dari kota M. Secara kota S dengan kota M sangat dekat hanya terbelah lautan saja.


Ngomong-ngomong aku juga pnya teman laki-laki yang berasal dari kota M. Banyak sih anak kota M yang tinggal di sekitar rumah Bude.


Bakri dia teman beda fakultas dengan ku. Dia mengambil jurusan hukum, cuman terapit dengan rumah sakit tempat Pakde ku bekerja.


Bakri keturunan asli dari kota M. Bahasanya pun kadang aku menyebutnya bahasa mandarain jawa.


🤭🤭🤭🤭 Maaf yah tidak bermaksud gimana-gimana yah. Biar tidak ketebak aja gitu.


Kembali lagi kegiatanku yang bersepeda.


Sekarang aku dan Alisya mengayuh sepedaku ke arah alun-alun kota. Jarak rumah ke alun-alun kota itu berjarak kilo-kilo meter🤭.


"Vey, kamu capek belum," tanya Alisya yang sedikit berteriak karena aku di depan Alisya.


Mendengar teriakan Alisya aku menepikan sepedaku.


"Apa Sya, aku tidak dengar kamu," jawab ku yang masih di atas sepeda.


"Istirahat bentar yuk, Vey. Capek aku," kata Alisya menarik sandaran sepedanya.


sandaran sepeda itu jagrak, apasih bahasa indonesia nya gak tau aku😂😂😂😂😂😂,,,,,,,se enaknya kalian aja lah bacanya gimana. hahahah ahhaha jadi ngakak deh aku.

__ADS_1


__ADS_2