
Hari sudah menjelang sore Vey sudah bersiap untuk mendatangi tempat janjian mereka. Vey terlihat sangat cantik beberapa hari ini.
Vey merubah semua penampilannya, tetap sama dibatasannya. Sangat elegan dan menarik perhatian semua orang.
Sebelum keluar rumah Vey berpamitan dan izin untuk keluar bersama ketiga sahabatnya. Vey menolak diantar oleh san Papa. Karena. Vey ingin melewati udara sore ini dengan berjalan kaki.
Berjalan dengan sedikit loncatan menerbangkan semua rambutnya. Baju salem dengan aksen mutiara dileher bajunya. Lengan panjang sedikit menggelembung di lengan nya dan celana jins panjang warna hitam.
Rambutnya hanya dikasih jepitan kecil disisi kiri. Menambah cantik penampilan Vey saat ini. Berjalan, bersenandung sudah jadi hobi baru Vey.
Sampai terlebih dahulu Vey memilih tempat duduk terlebih dulu. Melihat-lihat suasana yang masih tampak sepi. Hanya dirinya dan beberapa orang di warkop itu.
Vey melihat beberapa Irang yang sedang sibuk menyiapkan semuanya. Pandangannya terhenti di suatu arah. Segerombolan pemuda yang sedang menyiapkan segala peralatan nyanyinya.
Vey beranjak berdiri dan berjalan menghampiri para pemain live musik itu.
"Emb, apa aku bisa membantu kalian." tanya Vey yang mengejutkan para pemain.
"Ow, boleh." kata sang vokalis yang dulu berkenalan dengan Vey.
"Aku bantu apa yah kira-kira." tanya Vey kembali.
mereka berfikir sejenak kira-kira apa yang bisa Vey lakukan.
"Apa, aku bantu cek sound aja gimana?" tawar Vey yang memberikan ide. Sang Vokalis pun langsung menganggukkan kepalanya dan mengambilkan Vey kursi. Sedangkan dia berdiri disamping Vey.
"Aku mau musik akustik yah, bisa!" minta Vey yang diiringi dengan suara piano dulu.
"ok! Sapa takut." kata pemain piano.
Vey pun bersiap untuk menyanyikan lagu krispati yang berjudul lagu rindu.
Ting Ting Ting~~
Anggap itu bunyi piano yah
πΉπΉ
Bintang malam, katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi, katakan padanya
Biar 'ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Bintang malam, sampaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi, katakan padanya
Biar 'ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Tahukah engkau, wahai langit?
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
'Kan 'ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini 'ku ciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan 'ku ungkap segenap rasa dan kerinduan
Ah-oh...
Ah-oh.
__ADS_1
Oh...
Oh... oh... oh...
Tahukah engkau, wahai langit?
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
'Kan 'ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini 'ku ciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan 'ku ungkap segenap rasa dan kerinduan
Ah-uh...
Ijinkan 'ku ungkap segenap rasa dan kerinduan, oh-oh
Prok Prok Prok. . . Suara tepukan itu bersamaan dengan lagu yang berhenti.
Semua pengunjung terhibur dengan suara Vey yang berkolaborasi dengan Vokalis live musik tersebut. Vey tersenyum berdiri dan membungkukkan badannya kepalanya menunduk dengn satu tangan diperut dan satu tangan lagi dibelakang.
Ketiga sahabatnya pun tidak kalah senangnya mendengar suara Vey lagi. Hari ini mereka tidak hanya berkumpul saja. Melainkan, akan ikut bernyanyi juga, hitung-hitung membantu mereka untuk menghibur pengunjung.
Akhirnya Vey turun dan menghampiri sahabat-sahabatnya. Vey menuntun mereka ketempat awal Vey tiba. semua minuman sudah dipesankan oleh Vey.
Para emin musik melanjutkan acaranya menghibur semuanya. Semuanya menikmati sajian dan alunan musik yang mengalun merdu. Mereka seperti sepasang kekasih. Vey duduk dengan Tyo sedangkan Wildan sudah pasti dengan pujaan hatinya Irene.
Vey menikmati alunan musik dan lagu yah dinyanyikan sang vokalis. Menggoyangkan pelan tubuhnya ke kanan dan kekiri. Mengikuti kemana aliran musik membawanya bergoyang.
"Vey, tersedak kamu nanti." kata Tyo yang melihat Vey duduk sambil menggerakkan tubuhnya.
Vey sudah tau itu dan langsung melihat Tyo yang sudah mengambil alih mikrofon sang vokalis. Sebelum, bernyanyi Tyo mencoba mencocokkan lagu dan musik nya.
πΈπΉπ₯
Ternyata hati, tak bisa berdusta
Meski ku coba, tetap tak bisa
Dulu cintaku, banyak padamu
entah mengapa, kini berkurang . . .
Maaf, ku jenuh padamu. . .
Lama sudah ku pendam,
Tertahan dibibirku
Mau ku tak menyakiti
Meski begitu indah ku Masih tetap saja
jenuh....
woo.. ooo uwooo
Tahu kah kini kau ku hindari
Merasakah kau, ku lain padamu
cinta bukan, hanya cinta saja
sementara kau, merasa cukup
Maaf, ku jenuh padamu. . .
__ADS_1
Lama sudah ku pendam,
Tertahan di bibir ku
Mauku tak menyakiti
Meski begitu indah ku masih tetap saja
jenuh. . .
Vey tersenyum ketika mendengar salah satu lagu yang disukai. Tyo bernyanyi dengan penuh kehayatan yang maksimal. Sesekali Tyo melihat ke arah Vey yang tidak berhenti ti tersenyum itu.
Sampai di Reff Vey mengangkat kedua tangannya untuk dia lambai-lambaikan seperti melihat konser. Anggap saja mereka berempat sedang mengadakan sebuah konser mini.
Pengunjung yang melihat Vey begitu turut mengikuti Vey dengan melambai-lambaikan kedua tangannya keatas. Sampai suara tepukan tangan kembali terdengar begitu meriah.
Warkop ditengah sawah itu kini menjadi ramai dengan suara tepukan tangan. Tyo berjalan kembali lagi ke tempat nya, menyeruput minumannya.
"Yey. . . Suaramu bagus juga ternyata Tyo."sorak Vey seperti anak kecil.
"lha, meremehkan dia aku kasih tahu yah. Meskipun aku orang deso tapi aku juara satu lho." jawab Tyo. Vey mendengarkan serius.
"Juara satu apa, Yo? Kok aku ndla tahu yah." sambung Wildan. Irene menganggukkan kepalanya sama dengan Wildan.
"Pengen tahu banget? Apa pengen tahu banget banget banget--?" omongan Tyo terpotong kala bahunya dipukul Irene dan Vey bersamaan.
"Aw, aw, aw. . . .!" pekik Tyo kesakitan.
"Cilik-cilik tenagae koyok baja we." verutu Tyo sambil mengelus kedua bahunya yang nyut-nyutan. Artinya "kecil-kecil tenaganya kayak baja saja.
Vey dan Irene tertawa terbahak-bahak, mereka puas melihat Tyo tersakiti.
"Ayo, lanjutkan tadi kamu bilang apa. Juara satu apa kamu!" tanya Wildan lagi.
"Iyo, iyo! Tapi ojok digepok maning yo." hindar Tyo mengambil ancang-ancang.Artinya "Iya-iya! Tapi, jangan dipukul lagi ya?".
"Iyaa?" jawab Wildan, Irene dan Vey serempak.
"Juara, juara satu demam panggung." langsung tawa Tyo membuat ketiga sahabatnya terdiam.
Merasa tidak ada yang ikut tertawa Tyo menghentikannya. Melihat ketiga sahabatnya yang menatapnya dengan wajah kesalnya.
Meskipun menahan tawanya Tyo vepat-ceoat memalingkan wajahnya. Melihat ke arah sawah sebentar kemudian menyeruput minumannya lagi.
"Kok, kalian anteng gak ikut aku ketawa." tanya Tyo yang merasa aneh dengan mereka bertiga.
Tidak ada yang menyahuti malahan semuanya menyibukkan dengan minumannya. Tyo melirik ke arah Vey, takut tiba-tiba saja Vey menjahilinya.
Aman, batin Tyo kemudian melihat ke arah sepasang kekasih yang didepan. Saling bergantian mencicipi minuman. Aman juga batin Tyo mengelus dadanya.
Hening seketika saat Tyo ingin menyendok baksonya. Dia dikejutkan dengan tawa Vey yang membuat mereka berempat menjadi pusat perhatian.
Tyo langsung membungkam mulut Vey dengan telapak tangannya.
"Emmmmm. . . .!" suara Vey tercekat dengan telapak tangan Tyo.
"Opo seh, kok moro-moro guyu.Didelok wong liyane wi. Bocah Wadon guyune medeni." bisik Tyo ditelinga Vey. Artinya "Apa sih, kok tiba-tiba tertawa. Dilihat orang lain itu. Anak gadis tertawanya menakutkan.
Tyo melepaskan telapak tangannya yang menutup mulut Vey. Vey memonyongkan bibirnya merasa kesenangannya diusik Tyo. Wildan dan Irene menertawakan Vey. Akhirnya mereka berempat tertawa bersama.
Dan, pengunjung lainnya yang sedari tadi memperhatikan mereka. Kini, juga ikut tertawa tanpa tahu apa sebabnya mereka tertawa. Wildan, Tyo, Irene dan juga Vey menambah kencang tertawanya ketika melihat pengunjung lainnya juga tertawa.
NOTES: HATI-HATI TERTAWA ITU MENULARπππππ€£π€£π€£π€£π€£π€£
Maaf yah mungkin untuk bab kemarin sama bab selanjutnya bakalan terus ada nyanyiannya. Kalau ada yang tidak suka tolong jangan komen yang tidak-tidak yah. Cukup tutup kuping aja atau matikan tivinya.
Eh, salah yahπππππππ€£π€£π€£π€£π€£
Selamat membacaπ
maaf updatenya sering lamaπ
harap maklum okai sayangπ
__ADS_1